GUNAWAN/RADAR JOGJA
PEDULI: Bupati Gunungkidul Badingah bersama Wabup Gunungkidul Immawan Wahyudi membeli dagangan milik kelompok usaha para penyandang disabilitas di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari kemarin (12/1).

Program Pemberdayaan Belum Maksimal

WONOSARI – Penyandang disabilitas di Gunungkidul jumlahnya ada sekitar 8.800 orang. Namun hingga sekarang mereka sama sekali belum pernah tersasar bantuan program pemberdayaan. Padahal program tersebut sangat dinanti untuk membantu mereka terbebas dari kebiasaan hidup dari belas kasihan.
Ketua Komite Advokasi Penyandang Cacat Gunungkidul Untung Subagyo mengatakan, bukan bermaksud ingin selalu menuntut diperlakukan sama dengan orang normal. Karena kaum disabilitas juga harus sadar diri dengan segala keterbatasan. “Hanya kalau boleh, bantuan pemberdayaan bisa menyentuh kami. Supaya kami bisa berkarya,” kata Untung Subagyo usai mengikuti launching Forum Komunikasi Difabilitas Gunungkidul di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, kemarin (12/1).
Program pemberdayaan yang dimaksud adalah pendidikan ketrampilan dan modal usaha. Jadi, para penyandang disabilitas didata, dipetakan potensi masing-masing lalu diberikan latihan keterampilan supaya mandiri. Namun, Untung tidak menutup mata atas bantuan selama ini dari pemerintah maupun yang lain. “Kami sudah diberi alat bantu dan kemudahan yang lain. Terima kasih,” ucapnya.Namun ketua II Forum Komunikasi Difabel itu masih memiliki keinginan supaya kemandirian disabilitas bisa ditingkatkan melalui program pemberdayaan. Misalnya, diikutsertakan dalam pengelolaan kelompok usaha bersama (KUBE). Menurut dia, kaum difabel mampu untuk mengurus hal tersebut. “Karena memang tidak sedikit anggota kami yang memiliki potensi. Jadi, tinggal diasah saja sebenarnya. Kami yakin, jika tersasar program pemberdayaan bisa dilaksanakan dengan maksimal,” ucapnya.
Dia kemudian mengambil contoh peluang usaha bagi para penyandang disabilitas ini. Misalnya, keterampilan menjahit, perbengkelan merakit kendaraan bagi kaum difabel dan masih banyak lagi. Jika semua itu difasilitasi oleh pemerintah bukan hal musathil kekurangan justru bisa berbuah manis. “Kata kuncinya, diajari dan dididik,” ungkapnya.
Salah satu anggota Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul Sukasno sangat ingin memiliki SIM. Dia mengatakan, sudah 13 tahun menggunakan kendaraan roda dua dimodifikasi menjadi roda tiga, namun sampai sekarang belum memiliki SIM. “Saya menjual arum manis di Alun-Alun Utara Jogja dan biasa menggunakan motor roda tiga untuk menjajakan jualan,” katanya.
Dia nekat mengendarai sepeda motor roda tiga bersama kedua anak dan istrinya. Sebab, sampai sekarang belum bisa membuat SIM D yang digunakan untuk penyandang disabilitas. “Sudah dua kali terkena razia. Polisi hanya berpesan agar mentaati rambu-rambu,” bebernya.
Menanggapi hal ini, Kapolres Gunungkidul, AKBP Hariyanto Pembuatan SIM D bisa dilayani tetapi, pemeriksaan kesehatannya harus melalui dokter yang ditunjuk Polda DIJ. Pemeriksaan kesehatan dilakukan agar pihak kepolisian tidak salah dan penyandang disabilitas memang layak mendapatkan SIM. Terkait program pemberdayaan, Bupati Gunungkidul Badingah akan meng-komunikasikan dengan SKPD karena terkait dengan anggaran. (gun/din/ong)