Ketel Diduga Punya Kelainan Jiwa

SLEMAN – Polisi berencana me-lakukan pemeriksaan psikologi terhadap Faqih Amrullah alias Ketel, 22, tersangka pembacokan beruntun pada 25 Desember 2014. Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain menilai, tindakan ter-sangka menyerang korban-kor-bannya tanpa alasan termasuk perilaku menyimpang. Sebab, tersangka tak mengenali semua korbannya. Pembacokan tak didasari modus yang jelas, hanya sebagai luapan kekesalan tersangka karena sering dimarahi orang tuanya. Meskipun korban mengaku bertindak dengan pengaruh minuman beralkohol. “Selain untuk kelengkapan berkas, tes psikologi penting untuk me-ngetahui sisi kejiwaan tersangka,” ujar Faried kemarin
Sosiolog Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Dr Farida Hanum menduga, tersangka mempunyai kelainan kejiwaan sehingga nekat membacok orang lain tanpa beban. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial itu me-ngatakan, tersangka termasuk golongan orang kejam yang ber-tindak sadis tanpa perasaan. Pengaruh alkohol bukanlah faktor utama penyebab aksi nekat tersangka. “Itu (alkohol) kan hanya untuk sugesti yang tadinya takut supaya berani. Tapi memang sudah ada niat dari dalam diri dia (tersangka),” ujarnya saat diminta tanggapan oleh Radar Jogja.Ida, begitu sapaan akrabnya, menegaskan seseorang yang tak berbakat berbuat kejam tak mungkin berani melakukan aksi seperti dilakukan Ketel.
Menurut Ida, kekesalan karena sering dimarahi orang tua yang selalu menjadi dalih tersangka, bukanlah alasan sebagai bentuk pe-lampiasan. Apalagi, kasus kekerasan, pe-nganiayaan, dan pembunuhan memang sering terjadi di wilayah Sleman. “Saya malah khawatir jika ulah tersangka sengaja untuk mengacaukan keamanan. Mungkin pelaku memperoleh keuntungan tertentu dari tinda-kannya,” selidiknya.
Di sisi lain, Ida melihat sikap tersangka seolah hanya sebagai ajang menunjukkan eksistensi. Mereka ingin terkenal dan di takui oleh orang lain. Aksi pem bacokan lantas berubah menjadi teror yang dinikmati oleh tersangka. Istilahnya, ingin dianggap seba-gai jagoan, seperti umumnya karakter remaja. Dan, mereka senang melihat kecemasan orang lain. Jika ditarik dari sisi keluarganya, Ida berpendapat, ada ke-mungkinan kehidupan ter sangka sarat tekanan dan kekerasan sejak kecil. Kondisi ekonomi keluarga bisa menjadi salah satu pemicunya. Penderitaan itulah yang menggugah ke-marahan dari dalam diri ter-sangka. “Itu kompleks masalah-nya,” ucapnya.
Tersangka mengaku sering dibeda-bedakan dengan lima saudaranya. Dia nekat mem bacok orang memang tanpa perasaan. Bahkan, dia sempat mampir menengok lokasi kejadian, di mana seorang korban, Nailul Mazda Azzajid Ahmad, 18, tewas di Jalan Candi Gebang, Depok, Sleman. Dari pengakuan teman korban, ER alias Paijo, 17, tersangka meminjam pedang pajangan miliknya dengan alasan untuk berjaga-jaga. “Saya pinjamkan karena takut,” ungkapnya.
Kapolsek Depok Timur AKP Danang Kuntadi mengatakan, dari pengembangan pemeriksa-an, Faqih pernah menjadi korban pengeroyokan sekelompok orang. Karena itulah, dia lantas mem-bentuk geng bersama teman-temannya dan merencanakan balas dendam.”Dulu, tersangka pernah buat laporan sebagai korban pengeroyo-kan,” jelasnya. (yog/laz/ong)