Jadikan Kawasan JEC sebagai Pusat Bisnis

JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Bu-wono X memerintahkan penghancuran empat gedung di sekitar Jogja Expo Center (JEC). Ini sebagai bentuk upaya awal untuk membangun pusat ekonomi di bekas empat aset Pemprov DIJ itu
Kepala Dinas Pengelolaan Pendapatan Aset dan Keuangan Daerah (DPPKA) DIJ Bambang Wisnu Handoyo mengatakan, kawasan itu memiliki luas seki-tar 14 hektare. Dalam rencana tata ruang dan wilayah (RTRW), kawasan tersebut diperuntukkan untuk pusat bisnis. “Rencananya sebagai kawasan Central Bisnis Distric (CBD),” katanya saat paparan di Komisi B DPRD DIJ kemarin (13/1).
BWH, sapaan akrabnya, mengungkap-kan, pemprov sudah mendesain kawasan itu, setidaknya ada 38 titik bisnis seperti hotel, taman batik, waterpark, waterboom, taman bermain anak, playground, gokart dan lainnya. “Sudah ba-nyak investor yang tertarik, salah satunya yang menggarap Jatim Park,” katanya.
Komisaris Utama PT Annidya Mitra Internasional (AMI) DIJ ini menjelaskan, untuk merea-lisasikan langkah awal itu maka harus merobohkan aset yang pembangunannya mencapai Rp 7 miliar. Kemudian baru dilaku-kan lelang terhadap pemenang keempat gedung. Empat gedung yang akan di-robohkan itu yakni bekas gedung KPU DIJ seluas 679,5 meter per-segi seharga Rp 1,695 miliar. Serta tiga gedung bekas Dinas Perindustrian Perdagangan Ko-perasi DIJ masing-masing selu-as 1.200 m2 seharga Rp 1,335 miliar, 1.994 m2 seharga Rp 1,583 miliar dan 828 m2 seharga Rp 1,033 miliar.Menurut BWH, penghapusan aset itu sudah ditandatangani Gu-bernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X.
Saat ini tinggal menunggu persetujuan DPRD DIJ. BWH menjelaskan, kebera-daan empat gedung itu ada yang mangkrak dan disewakan. Untuk gedung yang disewakan, tidak ada persoalan gedungnya diro-bohkan. “Kan mereka hanya sewa tahunan. Sebelum dirobo-hkan, sewa tidak kami perpan-jang,” katanya.
Dia menegaskan, penghapusan aset itu justru akan meningkat-kan nilai jual kawasan. “Logika-nya, investor lebih suka membangun yang baru dari pada memanfaatkan gedung itu. Apalagi kan konsepnya kawasan pusat bisnis,” paparnya.
BWH menegaskan, jika kasawan CBD yang berada di Jalan Raya Janti ini terealisasi, maka me-ningkat prospek ekonomi bisnis di DIJ. “Multiplier effect bagi masyarakat sangat besar. Kawa-san tersebut juga sebagai penyangga perekonomian Ban-tul,” ujarnya.
Wakil Ketua II DPRD DIJ Rany Widayati mengungkapkan, dari pada empat gedung tersebut mangkrak, memang lebih baik dirobohkan. “Kalau prospek ke depan lebih bagus, mengapa harus dipertahankan,” katanya.
Politikus Partai Golkar ini men-gatakan, dalam RTRW DIJ, ka-wasan tersebut memang diproy-eksikan sebagai kawasan pusat bisnis. Sehingga ketika dibangun hotel, mal, atau plaza di kawasan itu, tidak bertentangan. “Tidak melenceng dari RTRW DIJ,” tegas koordinator Komisi B itu.Hanya saja Ranny mengingat-kan, agar pembangunan CBD itu bisa tidak menjual aset. Tapi sewa dengan durasi 20 tahun, agar aset milik negara tersebut tak jatuh ke tangan swasta. “Se-telah 20 tahun, bisa menjadi aset kita,” katanya. (eri/laz/ong)