GUNAWAN/RADAR JOGJA
ALAMI KERUSAKAN: Bangkai kapal Inka Mina nyaris tenggelam di Pelabuhan Sadeng, Picung, Girisubo, sejak Senin (12/1) lalu. Hingga saat ini belum ada tindakan untuk menyingkirkan atau memperbaiki kapal tersebut dari dinas terkait.

Kapal Bantuan Pemerintah Karam di Pelabuhan

GUNUNGKIDUL – Kapal Motor Inka Mina karam di Pelabuhan Sadeng, Pucung, Girisubo. Penyebab teng-gelamnya kapal bantuan dari Provinsi DIJ untuk nelayan tersebut diduga karena mengalami kebocoran pada bagian lambung. Peristiwa karamnya kapal pemburu ikan ini bukan tiba-tiba.
Sudah diprediksi jauh hari, namun belum ada langkah konkret untuk mem-perbaiki. Sebelum karam, kapal berukuran 30 gross ton dengan harga beli awal Rp 1,4 miliar itu, posisinya sudah disandarkan di bibir pelabuhan. Hantaman ombak sepanjang hari memperparah kerusakan. Pada Senin (12/1) lalu, sebagian besar bangkai kapal sudah terendam air laut. Kasat Polair Polres Gunungkidul AKP Irianto membenarkan adanya kerusakan kapal tersebut.
Menurutnya, kapal tersebut diparkir di pelabuhan sudah sejak tiga minggu lalu namun kapal tersebut mulai miring sejak Senin lalu. Pihaknya sudah ber-komunikasi dengan petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi DIJ yang ada di lokasi. “Sudah kami sampaikan dan dijawab akan diupayakan. Namun hingga kini bangkai kapal masih di lokasi semula,” kata Irianto, kemarin (13/1).
Irianto berharap, dinas terkait segera mengambil langkah agar bangkai kapal tidak mengganggu lingkungan sekitar. Mantan Kapolsek Semanu itu mengaku was-was, sebab dua kapal patroli miliknya juga terancam benturan karena tempat sandar yang berdekatan. “Kapal kami berbahan fiber, kalau kesenggol terus-terusan bisa rusak. Belum lagi jika sewaktu-waktu kami mau patroli, susah keluar,” ungkapnya.
Kepala DKP Gunungkidul Agus Priyanto menjelaskan, awal kronologi kerusakan kapal. Menurutnya, saat itu kapal dibawa melaut, dan menghantam tebing. Akibat peristiwa itu, bagian lambung bocor. Setelah rusak, kapal tersebut ditarik dari TKP dan disandarkan di Pelabuhan Sadeng. “Karena terus dihantam ombak, sekarang karam,” sesalnya.
Dia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. Kapal seharga sekitar Rp 1,4 miliar ini sekarang menjadi bangkai. Mantan Kasar Pol PP ini menyebut, setelah bantuan dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUBE), otomatis mereka dibebani tanggung jawab.”Kalau kami diminta untuk mengambil alih jelas tidak bisa, karena tidak ada kewenangan,” terangnya.
Oleh karena itu, Agus mendorong pengelola KUBE agar menyelesaikan tanggung jawab agar bangkai kapal tidak mengganggu lingkungan sekitar. Jika anggaran memungkinkan, pemerintah daerah siap membantu. “Mungkin lebih tepatnya kewenangan terkait dengan permasalahan ini ada di UPT DKP provinsi yang ada di pelabuhan,” ucapnya. (gun/ila/ong)