ADIDAYA/RADAR JOGJA
TURUN TANGAN: Seluruh masyarakat Dusun Truni, Candisari, Windusari dan aparat TNI ikut membersihkan bekas bangunan yang rusak karena longsoran. Kejadian ini dipastikan masih menjadi ancaman hingga Februari mendatang.
MUNGKID – Pancaran mata Kabul Afandi, warga Dusun Truni, Candisari, Windusari terlihat berkaca-kaca. Bola matanya basah dengan air mata. Di dampingi putrinya Istikomah dan istrinya, kakek berusia 67 tahun itu mengaku, tengah berduka
Niat ingin membangun rumah untuk anaknya pun sementara waktu tertunda. Sebidang tanah miliknya telah longsor dan mengenai bangunan SDN Candisari 1, Kecamatan Win-dusari.Akibat tanah longsor tersebut, dua ruang kelas rata dengan tanah. Ada tiga warga yang juga jadi korban tertimbun material longsoran.”Rencananya akan membangunkan rumah untuk anak saya ini. Tetapi, malah longsor dan me-ngenai bangunan SD dan tiga pekerja,” ungkap Kabul di rumahnya, kemarin (13/1).
Kabul mengaku, bersama keluarganya benar-benar berduka. Tidak hanya tertimpa musibah tanahnya yang longsor dan mengenai bangunan SD dan tiga orang, keluarganya juga tengah dirundung duka. Adik Kabul baru saja meninggal dunia. Sementara, menantunya (suami Istikomah) tengah menderita penyakit stroke. “Entah ini, saya tidak tahu. Berbagai masalah terus-menerus melanda ke luarga kami. Dari adik yang meninggal dunia hingga menantu terkena stroke,” ungkapnya.
Rencananya, tanah yang longsor tersebut akan dibangun rumah anaknya Istikomah. Ia baru membangun senderan sepanjang 35 meter dan tinggi tujuh meter. Namun, hujan yang mengguyur kemarin (13/1), menyurutkan niatnya meneruskan bangunan rumah.”Rencana awal, saya mau buat rumah dengan membangunan senderan dulu. Senderan saya bangun dengan cakar ayam se-dalam satu meter dan meng-gunakan besi 12. Tapi, hujan deras sama petir sekitar 3 jam beruntun membuat semua long-sor,” jelasnya.
Peristiwa tanah longsor Senin sore (12/1) telah menghancurkan dua ruang kelas. Yakni, ruang guru dengan perpustakaan. Saat terjadi longsor, dua ruangan tengah diperbaiki sampai tahap fi-nishing. Material tanah longsor menimpa pekerja bangunan Sohib, 50; Muslih, 52, dan Su-yitno, 30.Para pekerja merupakan warga Desa Candisari. Satu sepeda motor Suzuki Smash bernomor polisi AA 2331 GA juga ikut tertimbun. “Sebelum tertimbun, total tukange ada lima. Namun yang lain berhasil lari me-nyelamatkan diri. Alhamdulilah, setelah dirongsen tukangnya tidak apa-apa,” kata Kepala SDN Candisari 1 Sumaryati.
Sumaryati menjelaskan, saat peristiwa longsor berlangsung, sebenarnya ada puluhan siswa-nya yang tengah belajar. Ia ber-syukur, para siswa tidak ada yang menjadi korban.SD tersebut baru mendapatkan program pembangunan sekolah dari dana alokasi khusus (DAK) Pendidikan Kabupaten Magelang. Nilainya mencapai Rp 139 juta.Sekolah ini merehab tujuh ruang kelas. Karena direhab, terpaksa kegiatan belajar mengajar dilang-sungkan dua shift, yakni pagi dan siang. Shift pagi diikuti kelas 1, 2, dan 6. Sementara shift siang diikuti kelas 3,4, dan 5.
Jumlah siswa kelas 1-6, masing-masing 40, 28, 32, 39, 29, 40, dan 32 siswa. “Saat longsor, siswa kami masih belajar di kelas. Ada empat ruang yang digunakan KBM bergantian,” katanya.Kepala sekolah memang tidak meliburkan siswanya. Menurut-nya, tidak akan ada longsor susulan mengingat ruang kelas siswa tidak ada yang di bawah tebing. Ia berharap, nantinya siswa bisa menjalankan KBM pada pagi semua.Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah-raga (Disdikpora) Kabupaten Magelang Haryono menyatakan, prihatin atas kondisi itu. Ia tengah berkoordinasi dengan instansi terkait, menyikapi permasalahan tersebut. (ady/hes/ong)