ADYDAYA/RADAR JOGJA
Lila Nurlina
Penggugat Mohon Kasus Pencurian Data KUA Dilanjutkan
MUNGKID – Merasa dirugikan, Lila Nurlina, warga Dusun Kalangan, Ambartawang, Mungkid, Magelang, melayangkan gugatan praperadilan terhadap lem-baga Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Perem-puan 34 tahun ini mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Mungkid atas kasus pencurian sebuah data yang ditangani Polsek Mertoyudan.
Lila meminta Pengadilan Negeri Mungkid menga-bulkan gugatan praperadilan yang diajukan, ter-masuk di antaranya meminta pihak kepolisian sebagai termohon untuk melanjutkan kembali penyidikan tindak pidana tentang pencurian data-data di wilayah sekitar Mertoyudan.”Kami meminta pengadilan menghukum ter-mohon untuk patuh, taat, dan tunduk pada semua putusan dalam perkara ini, sekaligus membayar semua biaya perkara,” ujar Lila usai menjalani sidang perdana praperadilan di gedung PN Jalan Soekarno-Hatta, Mungkid kemarin (14/1)
Gugatan ditujukan ke Kapolri, Kapolda Jawa Tengah, Kapolres Magelang dan Kapolsek Mer-toyudan. Wanita yang bekerja sebagai wiraswasta ini merasa dirugikan atas kasus pencurian data atau dokumen tahun 2009 lalu, yang menurutnya tidak diproses sesuai peraturan hukum oleh polisi.Sesuai dengan dokumen pra-peradilan yang diajukan ke PN Mungkid disebutkan, pada 28 Desember 2009, terjadi kasus pencurian di Kantor Urusan Agama (KUA) Mertoyudan. Ka-sus tersebut dilaporkan ke Pol-sek Mertoyudan dengan laporan polisi Nomor: LP/125/XII/2009/Sek. Mertoyudan.”Akibat aksi pencurian itu, banyak dokumen yang berisi data-data penting, hilang. Tidak hanya dokumen milik orangtua saya, milik masyarakat banyak juga hilang,” jelasnya.
Lila mengaku merasa aneh ketika dirinya menemukan fakta bahwa kasus pencurian tersebut sudah selesai dengan kesepakatan damai yang terjadi antara Kepala KUA Mertoyudan dengan pencuri. Padahal, do-kumen yang hilang jelas milik masyarakat. Tapi KUA Mertoy-udan tidak ada upaya untuk menyelesaikan laporan polisi dengan alasan sudah damai. “Yang juga harus diketahui dari masalah ini, data yang di-curi tidak dikembalikan. Dan sudah 5 tahun lebih perkara pencurian ini, namun ditelan-tarkan oleh kepolisian,” jelasnya.
Dia semakin curiga, apalagi setelah itu dirinya menerima dokumen berupa kutipan talak dari KUA Mertoyudan yang di-nilai palsu. Di dalamnya berisi putusan pengadilan tentang talak orangtuanya. Menurutnya, putusan tersebut bodong alias tidak ditemukan sampai sekarang. Dokumen talak itu juga me-nyebutkan bahwa orangtuanya tidak mempunyai anak.”Padahal saya mempunyai akta kelahiran dan almarhum ayah saya dulu menjadi wali pernikahan saya. Dugaan saya, kutipan talak ini adalah pesanan pihak- pihak tertentu terkait hak hukum saya terhadap orang-tua,” ujarnya.
Atas dasar itu, Lila meminta PN Mungkid mengabulkan gugatan praperadilan yang diajukannya. Termasuk di antaranya memin-ta pihak kepolisian sebagai ter-mohon untuk melanjutkan kem-bali penyidikan tindak pidana yang dimaksud. Dia berharap, jika dugaan pemalsuan putusan Pengadilan Agama sebagaimana disebutkan dalam kutipan talak yang dikeluarkan KUA Mertoy-udan suatu saat terbukti benar, dia meminta aparat penegak hukum untuk dapat mengungkap kebenarannya.
Karena kasus ini telah menimbulkan keresahan masyarakat, dan sangat melece-hkan pengadilan sebagai insti-tusi penegak hukum yang wajib dihormati. Terpisah, AKP Djalal dari Biro Hukum Polda Jawa Tengah mengaku siap menghadapi gu-gatan dari Lila. Dia tengah mem-persiapkan jawaban dalam sidang replik yang akan berlangsung Jumat (16/1). “Itu hak dia seba-gai warga negara untuk bikin gugatan. Yang jelas kami meno-lak, tapi jawabannya sedang kami persiapkan. Tunggu saja besok,” katanya. (ady/jko/ong)