DWI AGUS/RADAR JOGJA
KOLABORASI OLAH TUBUH: Kolaborasi dua siniman gerak tubuh Otniel Tasman dengan Ari Ersandi di Cemeti Art House Jogjakarta Selasa malam (13/1). Meski pertemuan mereka mendadak, mampu menginpirasi karya yang apik.
JOGJA – Bagi kebanyakan orang, menunggu katanya membosankan. Namun tidak demikian bagi Otniel Tasman dengan Ari Ersandi. Untuk dua seniman ini, dengan menung-gu bisa membuat karya. Hal itu bisa dibuktikan dengan pertemuan yang serba tiba-tiba keduanya. Pertemuan antara Otniel Tasman dengan Ari Ersandi, me-lahirkan sebuah karya tari kolabo-rasi. Bertajuk Menunggu, karya ini ditampilkan di Cemeti Art House Jogjakarta, Selasa malam (13/1).
Dalam karyanya, Otniel meng ajak Ari untuk berkolaborasi. Tema yang diangkat, ringan namun memiliki makna yang dalam. Di mana semua orang pasti pernah menunggu, atau ditunggu.”Menunggu atau ditunggu terka-dang menyenangkan, meski kadang juga tidak sama sekali. Dalam pro-ses ini, terkadang ada cerita yang lahir, tak jarang juga muncul ide-ide kreatif untuk mewujudkan sebuah karya yang baru,” kata Otniel.
Karya olah gerak tubuh ini, Otniel memasukkan beberapa pengalaman hidupnya. Salah satunya saat dirinya menunggu ijazah SD miliknya. Di-karenakan keterbatasan ekonomi, ijazah miliknya sempat tertahan. Bentuk kegelisahan inilah yang dia wujudkan ke dalam olah gerak tari.Lain halnya dengan Ari yang justru tertarik untuk mengulas sisi dit-unggu. Bagi mahasiswa tari Pas-casarjana ISI Jogjakarta ini, dit-unggu adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Dimana dirinya merasa dikejar oleh waktu.”Menjadi tidak bebas karena kita seakan memiliki beban. Sehingga dalam karya kali ini menampilkan beberapa bentuk keresahan. Rasa yang saya rasakan ketika ditunggu oleh seseorang,” ungkapnya.
Untuk berlatih, keduanya mengaku hanya selama dua hari. Namun dalam beberapa kali pertemuan, keduanya berusaha saling mengenal. Terlebih bahasa tubuh untuk mewujudkan tema Menunggu dalam tarian.Menurut Otniel, dalam proses ini keduanya saling berbagi penga-laman. Beberapa tarian dihadirkan secara solo maupun kolaborasi. Diawali dengan Otniel yang hanya duduk di sisi tembok. Disusul Ari dengan menarikan gerakan yang ritmis.
Cahaya ditata secara temaram untuk menguatkan tema. Pemilihan tempat diakui Otniel memiliki makna. Sebuah ruang di pojok Ce-meti Art House menjadi ruang be-rekspresi. Selain membatasi ruang gerak, juga bertujuan membangun kedekatan dengan penonton.”Beberapa simbol seperti duduk merenung sambil merokok. Lalu ada berhadapan dengan tembok seakan-akan ingin menembus. Kita pasti semua pernah menung-gu dan ditunggu. Suatu rutinitas sederhana, tapi memiliki cerita untuk kehidupan,” kata Otniel.
Untuk merespon ruang ini, Otniel memiliki kendala. Dalam prosesnya, Otniel lebih sering berkarya dalam panggung au-ditorium dan proscenium. Ruang galeri diakui olehnya menjadi bentuk tantangan. Terlebih lekuk bangunan yang berbeda dengan jenis panggung pementasan.”Lalu kami berpkiran untuk memposisikan diri sebagai penonton. Apa yang dirasakan saat mereka menonton. Juga apa yang dirasakan penonton saat menunggu atau ditunggu,” kata Otniel. (dwi/jko/ong)