SETIAKY/RADAR JOGJA
INI LHO FOTOKU: Bripda Taufik menunjukkan foto saat ditemui di rumahnya (15/1).

Hanya Bermodal Ijazah SMK dan Pengalaman Ikut Pramuka

Saat ini, tidak banyak lagi anggota polisi yang sanggup hidup dalam kesederhanaan. Apa lagi dalam usia yang masih sangat muda. Tapi bagi Muhammad Taufik Hidayat, anggota Sabhara Polda DIJ berpangkat brigadir polisi dua (Bripda), hal itu dijalaninya dengan ikhlas. Berikut kisahnya kehidupannya.
ALI MUFID, Sleman
TAK ada raut wajah muram, sedih, atau loyo dari sosok Bripda Muhammad Taufik Hidayat. Anggota korps Bhayangkara muda lulusan Sekolah Polisi Negara (SPN) Selopamioro tahun 2014 itu, tampak riang saat menerima kehadiran Radar Jogja kemarin. Di belakang pertemuan kami terdapat bangunan permanen yang kecil terbuat dari batako yang tidak tampak utuh. Di dalam bangunan itu tidak ada sekat. Begitu masuk pintu, langsung terlihat tempat tidur ala kadarnya, kasur, onggokan kumpulan baju, alat perabotan rumah yang berserakan, dan alat-alat elektronik yang bergelantungan (contohnya radio).
Juga tidak terlihat adanya lemari sebagai penyimpan pakaian. Bahkan ketika men-engadah ke atas, terlihat baju-baju dinas Bripka Taufik bergantungan dengan hanger seadanya. Setelah keluar dari bangunan itu lewat pintu belakang, terlihat hamparan kebun yang tak terawat. Di situ ada sumur. Sumur timba yang sudah berlumut, bukan sumur pompa atau sumur bor.
Itulah keadaan tempat tinggal Bripda Taufik yang dalam beberapa hari ini menghiasi halaman koran dan tayangan TV di Jogjakarta. Tempat tinggal itu bekas kandang sapi. Meski tinggal di rumah bekas kandang sapi, Bripka Taufik tetap memperlihatkan jatidirinya sebagai anggota polisi yang tegas dan berani. Ia sama sekali tak menunjukkan sisi kelemahannya. Bripda Taufik tetap terlihat gagah mengenakan seragam polisi lengkap dengan baretnya.
Namun, siapa sangka, di balik sikapnya yang gagah, tegas, dan berani itu, kehidupannya sangat ironi. Rumahnya di Jongke Tengah, Sendangadi, Mlati, Sleman, dulunya digunakan untuk kandang sapi. Di sekitar rumah atau lebih pentas disebut gubuk itu, juga masih berdiri kokoh kandang sapi. Praktis, bau kotoran sapi menyengat masuk hingga ke rumah Taufik. “Beginilah istana kami,” katanya sambil tersenyum.
Meski tinggal di gubuk yang jauh dari kata layak huni, dia tetap menganggap tempat tinggalnya layaknya istana. Baginya yang terpenting tempat tinggalnya bisa untuk berlindung dari pengaruh alam seperti hujan dan terik matahari; bisa sebagai tempat istirahat atau tidur setelah beraktivitas; bisa sebagai wadah untuk aktivitas-aktivitas harian seperti masak, makan, atau lainnya.”Karena kemampuan kami memang seperti ini, mau bagaimana lagi. Masih beruntung, kami ada rumah, sehingga bisa untuk berteduh, beristirahat, atau bercengkerama bapak dan adik-adik. Bayangkan kalau tidak ada rumah sama sekali,” ujarnya polos.
Kondisi yang dialami Bripda Taufik, memang membuat orang lain miris. Sebab, “kemiskinan” seorang anggota polisi masih terjadi di saat berkembangnya isu dugaan gratifikasi yang menyeret nama Kapolri terpilih Komjen Pol Budi Gunawan, dan beberapa petinggi polri yang sebelumnya pernah terjerat kasus hukum. Kontras dengan kehidupan Bripda Taufik.
Namun tidak ada yang salah dalam kehidupan sehari-hari Bripda Taufik. Toh dia menjadi polisi juga baru berjalan setahun. Dan itu bisa membuka mata dan telinga kita sebagai warga negara Indonesia, masih banyak warga masyarakat yang hidup jauh dari layak.Seperti yang dialami Bripda Taufik ini, berarti dia hidup “susah” sejak dirinya sebelum menjadi anggota polisi. Bripda Taufik bisa sebagai contoh dari sekian ribu anggota kepolisian yang hidup sederhana.
Masa dinasnya yang ma-sih bisa dibilang seumur jagung, wajar jika ia belum bisa mem-berikan yang terbaik untuk ayah dan tiga adiknya, yang menjadi teman sehari-hari di rumahnya. “Siapa yang tak mau hidup serba kecukupan? Kami pun ingin itu. Tapi juga mau bilang apa, kami harus bisa menjalani kehidupan ini,” tuturnya.
Kini Bripda Taufik sudah men-jadi anggota polisi. Ia pun meng-gantungkan cita-citanya yang tinggi. Ia optimistis, kelak dia bersama keluarganya akan hidup lebih baik dari sekarang. “Kami tetap optimitis, karena kalau sebelumnya pendapatan kami tidak tetap, kini saya sudah punya gaji. Sehingga bisa diatur keuangannya,” ungkapnya.
Dia juga berjanji, sebagai seo-rang anggota polisi, akan menjalankan tugas sebaik-baiknya. “Tidak ada aji mumpung bagi keluarga kami. Saya tetap akan menjadi anggota polisi yang profesional, siap menjalankan tugas sebagaimana mestinya,” katanya.
Bripda Taufik memang merupakan pribadi yang memiliki kemauan tinggi. Sejak orang tuanya bercerai dua tahun lalu, ia memilih tinggal bersama bapak dan ketiga adiknya. Rumah yang dulunya ditempati satu keluarga yang utuh, dijual ibunya untuk membeli rumah baru. Namun rencana itu meleset. Uang tak mencukupi untuk membeli rumah baru. Alhasil, mereka hanya menempati bangunan hasil sumbangan dari kelompok ternak setempat.Sementara ibu kandungnya, sekarang tinggal bersama suami barunya.
Kehidupan yang pahit, pelan-pelan akan ditinggalkan Bripda Taufik. Kini dia resmi menjadi anggota polisi. Sepenggal kisah ketika awal sebagai anggota polisi, Bripda Taufik sejak awal masuk di satuan Sabhara Polda DIJ. Setiap hari kerja, ia berangkat dari rumah hanya dengan berjalan kaki. Jarak yang cukup jauh, dari Jongke Tengah, Sen-dangadi, Mlati, ke Mapolda DIJ kantor tempat tugasnya yang berada di Condongcatur, mem-buat Bripda Taufik selalu ter-lambat sampai di Mapolda DIJ. “Hampir setiap hari, saya kena hukuman,” ungkapnya.
Ia pun tak bisa berbuat banyak, selain harus menerima hukuman tersebut. Sebab aturan yang seharusnya apel pagi pukul 06.30, ia baru bisa sampai di kantornya pukul 08.00. Ia mengaku sudah mengantisipasi berangkat dinas dari rumah sesaat setelah waktu subuh. Bahkan, ia sering lari agar tidak terlambat sampai di kantor. Kondisi itu ia jalani setiap hari, dan selalu berusaha untuk lebih baik.
Tapi apa daya, tangan tak sampai. Ia tidak punya bekal lain untuk mempercepat sampai di kantornya. Dia tidak cukup ada uang untuk naik angkutan umum, atau ojek. Dia juga tidak punya motor untuk dinaiki ke kantor. “Memang ada mobil colt pikap milik bapak, tapi itu kan untuk kerja serabutan bapak. Belum lagi harus beli bengsin,” ujarnya.
Ia beberapa kali sudah men-ceritakan kondisi yang sebenar-nya pada teman-teman dinasnya, termasuk pada atasannya tentang biang keladi keterlambatannya itu. Namun ceritanya itu dikira hanya bualan belaka. “Saya mengatakan yang sebenarnya. Jalan kaki dari rumah. Awalnya, mereka tidak langsung percaya,” tuturnya.
Setelah sekian lama, akhirnya alasan Bripda Taufik tersebut didengar oleh petinggi di Polda DIJ. Pihak polda mengutus personel untuk mengecek ke rumahnya. Para seniornya terheran-heran dengan kondisi sebenar-nya yang dialami Bripda Taufik.
Sebelum menjadi anggota polisi, Taufik merupakan lulusan SMKN 1 Seyegan. Setelah lulus, ia mengisi waktu sebagai tenaga relawan perpustakaan di bekas sekolahnya itu dengan honorarium seadanya. Pada 2014 lalu, ia menguatkan tekadnya untuk mendaftar sebagai polisi. Saat melamar sebagai seorang anggota polisi, tidak ada modal lebih, selain ijazah SMK dan pengala-mannya menjadi anggota Pramuka di masa sekolah. Dalam mendaftar polisi ini pun, ia tidak bilang terhadap siapa pun, termasuk terhadap bapak dan ketiga adiknya. “Saya mendaftar polisi diam-diam, karena takut gagal juga, malu kalau ketahuan gagal nanti malah disalah-salahkan,” ungkapnya.
Mungkin sudah rezekinya. Ia pun diterima sebagai anggota polisi. “Sejak awal, bapak tidak tahu kalau saya mendaftar polisi. Baru saat sidang kelulusan, saya cerita dan mengajak bapak,” katanya.
Saat itulah rasa bahagia dan haru bercampur aduk. Taufik dipeluk erat bapaknya. Mereka tak bisa menahan rasa bahagia. Mereka nangis bareng. Tangis kebahagiaan. Lebih bahagia lagi saat menerima gaji pertam-nya. “Gaji pertama itu, juga saya kasihkan ke bapak,” ujar Taufik.
Apa yang dialami Taufik, kira-nya menjadi motivasi bagi rekan-rekan kerjanya. Menurut Direktur Sabhara Polda DIJ Kombes Pol Yulza Sulaiman, Taufik dikenal sebagai pribadi dengan kemauan yang keras. “Dia merupakan pribadi yang memiliki kemauan keras. Dengan kon-disinya yang seperti itu, kiranya bisa menjadi motivasi dirinya sendiri maupun bagi rekan-rekannya,” kata Yulza. (*/jko/ong)