AKSI DAMAI:Warga menolak keberadaan TPSA yang ada di perbatasan Desa Pasuruhan dan Deyangan, Mertoyudan. Mereka ingin TPSA ditutup dan bukan diperluas seperti rencana pemkab.
MUNGKID – Keberadaan tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) di perbatasan Desa Pasuruhan dan Deyangan, Mertoyudan dipermasalahkan warga setempat. Sekitar 350 orang menggelar aksi turun di jalan menolak rencana perluasan TPSA. Warga beralasan, keberadaan TPSA menjadi penyebab munculnya berbagai penyakit yang seringkali menyerang warga.Saat beraksi, warga melakukan konvoi ke desa-desa di sekitar TPSA. Sebuah truk pengangkut sampah yang saat itu lewat sempat dipaksa ber-henti. Selain dicorat-coret menggunakan cat warna, truk tersebut juga dijadikan panggung orasi dadakan
Para peserta aksi juga mem-bawa poster bertuliskan nada protes. Tulisan itu, di antaranya “Rumangsane Ra Mambu Po”, “Sampah Gedek-Gedeke. Peme-rintah Kurang Pikire”, “Sampah Diare Kami. Sopo Sing Tanggung Jawa Lek,” dan laimnya.Siswaji, salah satu peserta aksi menyatakan, secara tegas, warga menolak rencana Pemkab Magelang memperluas TPSA. Perluasan dinilai hanya me-nambah permasalahan yang ada di masyarakat. Salah satunya di bidang kesehatan.”Ceceran dan bau busuk dija-lan yang ditinggalkan kendara-an pengangkut sampah, juga mengganggu pengguna jalan maupun masyarakat yang be-rada di sepanjang jalan menuju TPSA,” tegas Siswaji kemarin (18/1).
Menurut Siswaji, TPSA me-nimbulkan banyak lalat hijau dan bau busuk. Selain itu, meraja-lelanya tikus wirog di pemukiman yang berdampak rawan terjadinya penyakit dan merusak tanaman pertanian. Tanah di sekitar TPSA juga dinilai tidak bisa dijadikan tempat usaha, karena bau busuk dan banyaknya lalat.”Untuk limbah kimia ditum-pukan TPSA, telah meresap ke dalam tanah. Bau busuk dan lalat juga mengakibatkan anak-anak terganggu perkembangan jasmani dan rohaninya serta rawan terkena penyakit. Bahkan, ada satu warga yang meninggal dunia karena terserang demam berdarah,” ungkapnya.
Pujiyanto, koordinator warga menambahkan, sebenarnya mereka sudah sejak lama minta pemerintah menutup TPSA. Selain dekat perkampungan, dampak kesehatan dan aktivitas yang ditimbulkan juga me-resahkan warga. Bahkan, jarak terdekat dengan pemukiman warga hanya 100 meter.
Selain itu, lanjut Pujiyanto, bau busuk yang ditimbulkan me-ngakibatkan siswa di sejumlah sekolahan terkena dampaknya. Sekolah yang terdampak, di an-taranya Madrasah Ibtidaiyah (MI) An Nur Nglerep, Sekolah Me-nengah Kejuruan (SMK) Ma’arif, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Deyangan 4, Sekolah Menengah Umum Negeri (SMUN) 1 dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kota Mungkid.”Siswa tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Selain itu, letak TPSA berdekatan dengan Kantor Pemkab Magelang yang me-rupakan jantung pemerintahan,” katanya.
Kepala Dinas Pekerja Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Kabupaten Mage-lang Sutarno mengatakan, per-luasan TPSA di Desa Pasuruhan, Mertoyudan dianggarkan Rp 2 mil-iar. Namun, pihaknya belum mengetahui berapa luas tanah yang akan diperoleh dengan ang-garan tersebut. Sejauh ini, pihaknya menunggu tim appraisal atau penentu harga tanah.”Saat ini, kapasitas di TPSA Pasuruhan sudah overload. Lahannya hanya 1,7 hektare. Jadi mendesak untuk diperluas. Dengan diperluas, justru me-minimalisir bau karena sampah justru menyebar,” kata Sutarno. (ady/hes/ong)