YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
AYO BANTU MEREKA: Pasutri Murtandlo-Anik Marwanti bersama Muhammad Fahmi Husain (kanan), dan Muhammad Faqih Husain (kiri). Anak ketiganya, Muhammad Faris Husain, juga menderita DMD tapi masih bisa beraktivitas.

Murtandlo Ingin Bawa Anaknya Berobat ke India

SLEMAN – Tabah dan ekstra sabar. Itulah yang dijalani Murtandlo, 50 dan Anik Marwati, 45. Tiga anaknya mengalami kelainan genetika se-hingga sel ototnya tidak berkembang dan mengakibatkan kelumpuhan kaki serta tangan. Penyakit langka itu dikenal dengan sebutan Duchene Muscular Distro-py (DMD)
Istilah DMD mulai marak di jejaring media sosial sejak seo-rang kenalan Anik Marwati men-gunggah kehidupan tiga bersau-dara Muhammad Fahmi Husain, 17; Muhammad Faqih Husain,14; dan Muhammad Faris Husain,7, di Youtube pada Desember 2014 lalu.Dari situ pula lantas muncul Gerakan 2000 Peduli DMD. Ge-rakan ini terinspirasi dari Gera-kan Koin Peduli Prita, terdakwa kasus pencemaran nama baik sebuah rumah sakit beberapa waktu lalu.
Nah, dengan menyumbang Rp 2 ribu secara berjamaah, butuh minimal 300 ribu orang, diha-rapkan terkumpul dana sebesar Rp 600 juta. Jumlah inilah yang diperkirakan cukup untuk mem-bawa tiga Husain bersaudara itu berobat, berikut biaya perjalanan ke India.India menjadi satu-satunya negara rujukan untuk mengo-bati penyakit langka itu. Kendati begitu, Murtandlo berharap Tuhan menganugerahkan kea-jaiban, berupa kesembuhan bagi tiga anaknya, sehingga dia tak perlu membawa mereka jauh-jauh ke India.
Si sulung Fahmi yang pertama kali memperoleh informasi penyembuhan DMD di sebuah rumah sakit di Negeri Taj Mahal. Besarnya harapan akan kesem-buhan, Fahmi yang duduk di kelas 2 SMA Muhammadiyah Pakem ini giat mencari infor-masi sebanyak-banyaknya menge-nai penyakit yang dideritanya melalui banyak website di inter-net.Hingga suatu saat menemukan sebuah situs rumah sakit di In-dia yang mengupas tentang DMD. Bahkan dia sempat chatting dengan seorang dokter di sana. “Ya, pakai bahasa Inggris,” ujar Fahmi yang sehari-hari berak-tivitas menggunakan kursi roda ini.
Dari komunikasi dengan dok-ter asal India, Fahmi mempero-leh informasi bahwa penyakitnya bisa disembuhkan. Tetapi me-mang membutuhkan biaya be-sar. Setiap pasien dikenakan ongkos 9.900 Dolar AS.Fahmi lantas memberitahu orang tuanya tentang informasi tersebut. Murtandlo tak mungkin hanya membawa Fahmi berobat ke India. Dia akan membawa juga Faqih dan Faris.
Meskipun si kecil Faris saat ini masih bisa berlarian ke sana-sini. Seperti saat Radar Jogja ber-kunjung ke kediaman mereka di Dusun Dadapan, Wonokerto, Turi, Sleman, akhir pekan lalu (17/1). Faris tampak asyik ber-main mobil-mobilan dengan temannya. Sesekali si bungsu menghampiri kakaknya sambil berlarian. Canda tawa selalu tampak pada wajahnya yang polos. Seolah tak merasakan adanya kelainan gen pada tubuh mungilnya. “Dulu Fahmi dan Faqih juga seperti itu,” ungkap Murtandlo.
Saat lahir, imbuh Anik Mar-wati, tak ada gejala apa pun tampak pada Fahmi, Faqih, mau-pun Faris. Gejala DMD muncul saat mereka menginjak sekolah dasar.Saat masih kecil, secara fisik gejala itu ditandai dengan menge-rasnya bagian betis yang ukuran-nya lebih besar dibanding bocah seusia mereka. Gejala kelumpuhan muncul pada diri Fahmi saat dia lulus SD. Sedangkan Faqih mengalami-nya lebih cepat, saat dia kelas 5 SD.Kelainan itu ditandai makin lemahnya otot kaki, sehingga mereka tak kuat berjalan.
Saat naik tangga, kaki tak kuat untuk tumpuan sehingga harus diang-kat dengan bantuan tangan. “Mereka juga tak bisa melom-pat seperti teman-teman lainnya. Saat berlari tak bisa cepat, bah-kan sering terjatuh,” tutur Mur-tandlo yang seorang guru SMP 4 Pakem ini.
Bersama istrinya, Murtandlo lantas memeriksakan Fahmi dan Faqih ke RSUP Dr Sardjito. Di-agnosis dokter, keduanya divo-nis menderita DMD. Sayangnya, rumah sakit pemerintah itu tak bisa menangani penyakit itu. “Katanya belum ada obatnya,” tuturnya. Sejak itu Murtandlo mulai jarang membawa Fahmi, Faqih, dan Faris berobat medis. Segala ma-cam pengobatan alternatif di-coba. Mulai obat herbal hingga pijat. Si kecil Faris pun selalu dibawa serta setiap Fahmi dan Faqih dibawa berobat.
Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda kesembuhan pada mereka. Bahkan, kelum-puhan kaki yang dialami Fahmi dan Faqih telah menjalar ke tangan. Karena itu mereka bisa beraktivitas harus dengan per-tolongan orang lain. Meskipun mereka harus memakai kursi roda selama di sekolah. Kedua-nya menimba ilmu di sekolah umum. Faqih sekolah di tempat ibunya mengajar, SMPN Turi.Murtandlo dan Anik tetap tabah dan berjuang demi kesembuhan tiga bersaudara itu.
Setiap hari, di sela jam mengajar, Murtand-lo selalu menyempatkan diri mampir ke SMA Muhammadiyah Pakem menemui Fahmi, sekitar pukul 10.30 atau 11.30. Untuk membantu putra sulungnya bu-ang air kecil dan makan. “Semua memang harus dengan pertolongan. Mandi pun harus dibantu. Tidur miring, mau ter-lentang pun tak bisa, dan seba-liknya. Menggaruk tubuh yang gatal pun harus dibantu,” papar Murtandlo.
Saat ini Murtandlo fokus men-gumpulkan dana untuk pengo-batan tiga anaknya. Sawah la-dangnya pun terjual untuk ke-perluan itu. Tak sedikit sumbangan dari donatur, yang sebagian besar adalah alumni sekolah di mana dia atau istrinya mengajar. Ada juga orang tua/wali murid. Belum lagi utang ke sanak famili. Namun, dana yang dibutuhkan belum terkumpul.Oleh karena itu, Murtandlo hanya bisa pasrah kepada Tuhan atas kesembuhan anak-anaknya. “Semoga nggak harus ke India, mereka bisa sembuh atas ke-hendak-Nya melalui seseorang,” ucapnya.
Munculnya Gerakan 2000 Pe-duli DMD, Murtandlo mengaku tak tahu. Dia menduga gerakan itu inisiatif para alumni SMP 4 Pakem. Sedangkan kemunculan mereka di Youtube diakui Mur-tandlo atas saran kolega istrinya. Upaya itu sekaligus untuk men-cari empati dari para dermawan.Gerakan itu digalang lantaran penyakit DMD yang mengha-ruskan pengobatan ke luar ne-geri tidak bisa ditanggung BPJS. Dari tayangan Youtube pula, Murtandlo pernah kedatangan tamu dari Jalan Imogiri, Bantul, yang menanyakan perihal rumah sakit di India.
Menurut dia, tamu-nya itu mengalami nasib serupa. Anak pertama, kedua, dan ke-tiga mengidap DMD. “Kami sharing berbagi pengalaman,” tutur Anik.Merujuk informasi pada Gera-kan 2000 Peduli DMD, bagi ca-lon dermawan bisa mengirimkan donasi melalui Bank BRI Cabang Sleman ke nomor rekening 0247-01-020163-50-5. Atau menghu-bungi Anik Marwati di nomor 087838257407. (yog/din/ong)