Direktur Akui Kualitas Aspal dan Stamper Kurang Bagus

MAGELANG – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Magelang berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dalam perbaikan bekas galian di jalan raya. Bekas galian pipa PDAM memang sering membuat kondisi jalan rusak cepat. Karena normalisasinya tidak dilakukan sesuai standar pengaspalan
Direktur PDAM Kota Magelang Heri Wibowo tidak menampik bila perbaikan galian pipa mem-buat gelombang pembeda yang bisa mengurangi kenyamanan pengendara maupun pengguna jalan di Kota Magelang.”Perbaikan pipa yang berada di bawah jalan menjadi tanggung jawab kami. Kami bertugas me-layani pelanggan. Di sisi lain, lokasi pipa yang berada di bawah jalan memaksa kami melakukan galian,” ungkap Heri kemarin (18/1).
Ia mengakui, selama ini PDAM sering melakukan galian jalan akibat banyaknya pipa di dalam tanah mengalami kerusakan. Ia juga tidak menyangkal, per baikan bekas galian di jalan-jalan utama Kota Jasa ini belum sepenuhnya maksimal.”Kami tidak punya jenis aspal yang sama dengan kualitas bagus untuk menutup lubang galian,” akunya.
Heri menilai perbaikan mutlak dilakukan. Pasca-perbaikan, beberapa kondisi aspal jalan tidak sama dengan yang dibuat DPU setempat. Ini yang menim-bulkan permukaan yang tidak rata. Ditambah butuh waktu agar bekas galian bisa normal. Untuk pemadatan, pihaknya hanya menggunakan stamper.”Karena menggunakan stamper pemadatan kurang maksimal. Tapi itu alat yang dipunyai untuk pemadatan. Sehingga kami mengambil langkah, pe nambalan bekas galian akan dilakukan 3-4 kali. Setelah ada penambalan, nunggu satu dua hari biar material pemadatan turun, nanti di tambal lagi,” tegasnya.
Pantuan koran ini, di sejumlah titik bekas galian PDAM memang hasil normalisasinya tidak begitu maksimal. Salah satu contoh berada di Jalan Jenderal Su dirman, Magelang Selatan dan Jalan Pahlawan, Magelang Utara. Di dua titik tersebut, terdapat lubang yang sering membuat pengen-dara kendaraan tidak nyaman.”Di Jalan Pahlahwan, kami kesulitan memperbaiki karena harus melalui beberapa tahap. Kemarin sudah dilapisi (aspal) dan beberapa hari ke depan akan dilapisi lagi,” imbuh Heri.
Heri mengaku siap bila DPRD Kota Magelang memanggil pihaknya untuk memberikan klarifikasi terkait persoalan per-baikan galian pipa.”Kami siap bila dipanggil Dewan,” jawab-nya.ebelumnya, Komisi B DPRD Kota Magelang berencana me-manggil direktur PDAM soal kenaikan tarif Rp 100 per meter kubik. Dewan menilai perlu ada klarifikasi dan peninjauan ulang, bila kenaikan tarif mendapat respons negatif dari pelanggan.”Kami akan coba panggil jajaran PDAM untuk memberikan klarifikasi, sejauh mana me-nindaklanjuti keluhan masya rakat soal kenaikan TDA. Bisa jadi, masyarakat setuju dengan ke-naikan itu. Tetapi syaratnya, pelayanan PDAM harus maksi-mal,” kata Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Magelang Tyas Anggraeni belum lama ini.
Heri menegaskan, tetap mem-berlakukan kenaikan kenaikan tarif dasar air (TDA) Rp 100 per meter kubik kendati mendapat protes dari masyarakat. Karena kenaikan tersebut merupakan amanat aturan yang sudah dijalankan sejak 2011. Yakni, sesuai Keputusan Wali Kota Magelang Nomor 539/50/112 Tahun 2010 tentang Persetujuan Kenaikan Tarif Air Minum PDAM Kota Magelang.”Kenaikannya sebesar Rp100 per meter kubik per tahun. Nah, tahun ini jadi yang terakhir pe-nerapan SK tersebut,” jelasnya.
Ia menjelaskan, instrumen lain menjalankan kebijakan kenaikan tarif adalah Perda Nomor 10 Tahun 2009 pasal 20 A ayat (4), untuk kesinambungan pelayanan PDAM paling lambat ada pe-ninjauan tarif dilakukan selama lima tahun berjalan. Dijelaskan, sejak 2011, tarif PDAM per me-ter kubik adalah Rp 1.200. Setahun berselang, pada 2012 menjadi Rp 1.300. Tahun 2013, naik men-jadi Rp 1.400 dan 2014 menjadi Rp 1.500. Tahun 2015 ini menjadi tahun terakhir dinaikkan jadi Rp 1.600 per meter kubik. “Kami sudah koordinasi intens dengan DPRD. Soal kenaikan ini sudah ada atu-ran yang sejak 2011 diberlakukan,” katanya. (dem/hes/ong)