SEKAR SARI FOR RADAR JOGJA
BEST PERFORMANCE: Sekar Sari saat menerima penghargaan dalam Singapore International Film Festival (SGIFF) 2014. Filmnya Siti masuk kategori Silver Screen Award dalam ajang ini.

Sempat Jualan Peyek Jingking, Kini Belajar Seni di Eropa

Film Siti karya sutradara muda Eddie Cahyono mampu mencuri perhatian. Film dengan format hitam putih ini masuk dalam kategori Silver Screen Award dalam Singapore International Film Festival (SGIFF) 2014. Salah satu yang menarik perhatian itu adalah akting dari dara muda Sekar Sari.
DWI AGUS, Jogja
SABTU malam (17/1), seorang sahabat dari Norwegia, menghubungi Radar Jogja. Dengan bersemangat dia mengabarkan adanya pentas seni tari di kampus ISI Jogjakarta, Senin malam (19/1). Meski jauh berada dari Jogjakarta, kepeduliannya terhadap seni tetaplah tinggi
Kabar ini datang dari Sekar Sari yang saat ini sedang menimba ilmu di Norwegian University of Science and Technology (NTNU). Obrolan pun berlanjut mengenai kesibukannya saat ini. Sekar, sapaan akrabnya, fokus merampungkan pendidikan masternya. “Program master saya pindah-pindah. Setahun pertama di Norwegia dan Prancis. Tahun kedua Hungaria dan Inggris. Maret nanti ke Prancis di University of Blaise Pascal. Semester ketiga ke Scientific University of Szeged, Hungary dan semester keempat ke University of Roehampton,” katanya.
Berkat program Choreomundus dari Erasmus Mundus, Sekar mendalami International Master on Dance Knowledge, Prac-tice, Heritage. Selama dua tahun di Eropa dia benar-benar konsentrasi belajar tentang ragam seni.Nama Sekar belum lama ini juga membuat dunia internasional menatap perfilman Indo-nesia. Berkat perannya sebagai Siti dalam film Siti, ia mendapatkan penghargaan best per-formance do SGIFF 2014.
Dalam film berdurasi 95 me-nit, perempuan kelahiran Jog-jakarta 23 Desember 1988 ini mampu berperan secara apik. Bagaimana ia harus berperan menjadi wanita yang berjuang menafkahi keluarga. Format film hitam putih pun seakan mengangkat dua sisi kehidupan wanita.”Menjadi sosok ibu muda be-rumur 24 tahun yang menghidupi ibu mertuanya, Darmi, anaknya, Bagas dan suaminya, Bagus. Peran ini benar-benar menantang dan perlu riset peran secara mendalam,” kata lulusan Hubungan Internasional Fisipol UGM, Jogjakarta, ini.
Siti digambarkan menjadi penopang perekonomian keluarga. Suaminya, Bagus mengalami kecelakaan saat melaut yang mengakibatkan tubuhnya mengalami lumpuh. Siti pun harus berjuang untuk menghidupi mereka dengan bekerja siang dan malam. Pada siang hari, Siti berjualan peyek jingking di area Pantai Parangtritis. Malam hari bekerja sambilan sebagai pemandu karaoke. Pekerjaannya sebagai pemandu karaoke membuat Bagus tidak mau bicara lagi dengan Siti.
Untuk mendalami peran Siti, Sekar tak ragu untuk melakukan riset peran. Dalam film yang diproduksi Fourcolours ini, karakter Siti menjadi fokus cerita. Diawali dengan proses reading kurang lebih selama satu ming-gu di Fourcolours.”Ada waktu ekstra untuk mengeksplorasi peran, sehingga observasi ke Pantai Parangtritis. Melihat bagaimana para penjaja peyek jingking berjualan. Selain ngobrol, juga diberi kesempatan berjualan langsung,” kenangnya.
Dalam proses ini Sekar dipin-jamkan peralatan berjualan. Tim produksi serta penjual peyek jingking yang asli mengamati dari jauh. Dalam kesempatan ini ia juga belajar beragam jenis joget dangdut. Sebuah penga-laman yang baru, terlebih Sekar memiliki dasar gerakan tari tra-disi.”Biasanya joget tradisi terus belajar joget dangdut. Awalnya malu karena sepertinya kaku, tapi setelah latihan beberapa kali ternyata bisa juga,” imbuhnya.
Meski awalnya merasa tidak percaya diri, Sekar mantab me-nyulap dirinya menjadi sosok Siti. Peran tokoh Siti yang dominan dalam keseluruhan cerita membuatnya benar-benar belajar. Apalagi peran ini penuh dengan persoalan hidup keseharian.Sekar menggambarkan tokoh Siti sebagai sosok yang tertekan. Sebagai penopang ekonomi keluarga, juga dituntut harus kuat. Untuk menampilkan pe-rasaan ini, tak jarang ia mengadap-tasi pengalaman kesehariannya.”Tapi banyak juga bagian yang benar-benar baru, misal belum pernah jadi ibu. Jadi kemarin merasakan jadi seorang ibu yang punya anak nakal. Bagaimana mengurus keluarga meski hanya dalam film,” lanjutnya kemudian tertawa.
Cerita unik pun berlanjut saat ia harus hadir ke SGIFF 2014 di Singapura. Waktu itu bertepatan dengan kelas terakhir semester pertama. Sekar harus mengumpulkan satu ujian berupa esai dan laporan fieldwork. Deadline pengumpulan tugas tanggal 11 bersamaan dengan pemutaran film Siti di SGIFF 2014.Untuk menyiasati Sekar pun tetap berangkat ke SGIFF 2014. Untungnya tugas ini telah dicicilnya sejak jauh hari. Tugas akhir ini pun tetap dia bawa untuk dikerjakan di Singapura. Tentunya ini tidak menjadi penghambat karena pengumpulan dilakukan dengan cara online.”Sampai di Singapura 11 Desember siang dan sorenya film diputar. Setelah pemutaran film ada sesi tanya jawab dan makan malam. Nah, setelah itu balik ke kamar dan melakukan final check essay dan laporan untuk dikumpulkan. Lega banget setelah tugas terkumpul tepat waktu,” kenangnya.
Cerita berlanjut lagi tentang pengalamannya menjalani studi. Pertemuan ragam budaya sungguh sangat dirasakan oleh-nya. Terlebih dalam kelasnya terdiri atas 17 mahasiswa dari negara yang berbeda.Karena tidak dihuni oleh ba-nyak mahasiswa, membuat dis-kusi lebih intens. Kelas ini membahas bagaimana budaya tra-disi di setiap negara. Juga tentang perkembangan budaya kontem-porer sesuai dinamika zaman.
Dalam kesempatan ini Sekar menyempatkan diri menari be-berapa tarian klasik gaya Jogja-karta. Sebuah persinggungan yang apik tentunya dalam me-natap seni budaya setiap bang-sa. Selain itu Sekar juga melan-tunkan beberapa geguritan Jawa.”Setiap peradaban punya eks-presi seni budaya masing-masing. Selain seni tari tradisi, seni tari kontemporer juga dipelajari le-bih intensif, baik praktik maupun pengkajiannya. Pernah juga membuat kolaborasi tari kon-temporer dengan masing-masing budaya,” katanya.
Kendala terbesar sebagai pe-lajar asal Indonesia adalah perbedaan musim. Saat ini di Norwegia sedang musim dingin, bahkan suhu bisa mencapai -25 C. Bahkan di bulan Desember tahun lalu rata-rata matahari terbit pukul 9.00 dan tenggelam lagi pukul 14.00.Selain itu biaya hidup di Nor-wegia terbilang tinggi. Sehingga ia memilih untuk memasak sendiri makanannya. Masa-masa inilah Sekar merindukan jajan nasi goreng (nasgor) atau mampir warung burjo di pinggir jalan.”Satu hal yang pasti jadi wajib belajar masak. Apalagi bahan baku di sini cukup berbeda dengan yang ada di Indonesia, terutama ragam bumbunya. Selain browsing artikel dan jurnal, browsing resep makanan juga,” ungkapnya.
Cara lain untuk mengobati rasa kangen Sekar terhadap Jog-jakarta adalah melalui seni. Meski jauh di sana, ia tetap me-mantau acara seni di Jogjakarta. Sedikit pun tidak melewatkan perkembangan informasi di tanah kelahirannya ini.”Lihat melalui youtube tentang pementasan tari tradisi dan ke-giatan seni lainnya. Ini sudah sangat bisa mengobati rasa kangen. Menjadi penyemangat untuk terus belajar dan berkarya, terlebih dalam mengolah rasa dan raga,” tandasnya. (*/laz/ong)