Dokter Indonesia Diminta Profesional

JOGJA – Masyarakat Indone-sia harus menyadari bahwa ASEAN Economic Commu-nity (AEC) tidak hanya berlaku pada dunia bisnis saja, tapi merembet pada layanan kese-hatan. Pasar bebas yang mulai berlaku tahun ini memungkin-kan dokter asing untuk praktik dan bekerja di Indonesia.
Oleh karena itu, agar dokter Indonesia mampu bersaing dengan dokter asing, maka calon dokter dan para dokter harus membekali diri dengan berbagai kemampuan dan dapat bekerja profesional.”Dokter harus terbuka kepada pasien dan keluarga pasien. Dokter jangan menjaga jarak,” kata Rektor UMY Bambang Cipto saat melantik sekaligus mengambil sumpah dokter angkatan 43, Fakultas Kedok-teran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY, Sabtu (17/1).
Pada ke-sempatan ini, ada 90 calon dokter yang diambil sumpahnya.Bambang menambahkan, se-orang dokter tidak boleh men-jaga jarak dan terkesan akuh ke-pada pasien. Sebagai pelayanan, dokter harus murah senyum dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Ia men-contohkan, di Thailand ada peng-embangan medical tourism dengan tujuan untuk menghargai pasien.”Dokter Indonesia juga harus mempelajari bahasa Inggris atau bahasa asing lainya. Siapa tahu kelak pemerintah Indonesia akan mengembangkan medical tourism seperti Thailand,” jelasnya.
Dekan FKIK UMY Ardi Pramo-no mengatakan, selain mengo-bati seorang dokter harus bertang-gung jawab menjaga kesehatan pasien sebelum sakit. Sehingga dokter dituntut mampu memberikan tindakan pencegahan sebelum sakit, dan tindakan setelah sakit.”Seorang dokter ketika tidak bisa membuat pasiennya sehat, semes-tinya memiliki rasa bersalah kenapa saya tidak bisa menyehatkan ma-syarakat. Agar tidak memiliki rasa bersalah itu, maka dokter harus bisa memberi preventif dan pro-motive,” kata Ardi. (mar/laz/ong)