DOK.PRIBADI FOR RADAR JOGJA
SISWI DAN GURU: Dimas (kanan) saat berfoto bersama Albina Wongga, seorang siswi yang umurnya lebih tua darinya.

Usia Siswa Lebih Tua, Suka Gaduh di Kelas

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini agaknya tepat untuk menggambar kondisi atau keberadaan pelajar di Indonesia. Seperti pengalaman yang didapat Dimas Setyo Kukuh Permono, peserta guru Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (SM3T) UNY, yang mengajar di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT).
AHMAD RIYADI, Jogja
DIMAS Setyo Kukuh Permono tak menyangkan akan ditugaskan di daerah jauh dari keramaian. Alumni Prodi Pendidikan Ke-warganegaraan Fakultas Ilmu Sosial UNY ini ditugaskan di SMK N Bajawa Utara, Ngada, NTT. Sekolah tersebut memiliki 100 orang siswa. Kali pertama masuk ke sekolah tersebut, Dimas merasa percaya diri. Ia yakin situasi dan kon-disi siswa, sama seperti yang ada di daerahnya Jogjakarta, atau di Purworejo tempat kelahirannya. Tapi apa yang diterima di la-pangan ternyata sangat berbeda.
Begitu masuk kelas di hari per-tama, ia sudah disuguhi dengan kebiasaan siswa yang gaduh dan bersuara sangat lantang (keras). Kegaduhan itu muncul, ka-rena siswa kerap bermain di dalam kelas. Bahkan sekadar untuk memanggil teman, me-reka terbiasa dengan bersuara keras. Namun juga ada nilai positifnya SMK di sana. Meski suasana gaduh, siswa terlihat segan dan senang melihat ke-hadiran guru, termasuk dirinya.”Mungkin karena melihat ba-dan saya yang besar dan botak macam tentara dari Jawa, se-hingga mereka segan dengan saya,” canda Dimas.
Setelah berulang kali mengajar di kelas 2, Dimas tak menyang-ka, ada seorang siswa yang usianya jauh lebih tua dibanding dirinya. Siswa tersebut bernama Albina Wongga yang lahir 1986. Usia Albina lebih tua dibanding-kan Dimas yang lahir pada 1988. Setelah ditelusuri, ternyata Al-bina sempat berhenti sekolah, karena harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluar-ganya. “Dia sempat berhenti sekolah karena bekerja untuk membantu keluarganya,” jelas Dimas.
Meski lebih tua, Albina bisa menghargai kehadiran Dimas sebagai guru praktik di sana. “Kalau semangatnya belajar, pantas saya acungi jempol,” ungkapnya.Selama mengajar di sekolah tersebut, pria asal Dusun Ling-kungan, Lugosobo, Gebang, Purworejo ini mengajarkan ba-gaimana mengimplementasikan praktik kejuruan, seperti praktik budidaya ayam. “Awalnya ba-nyak yang menentang ide dan gagasan ini. Setelah dijalani dan ada hasilnya, kemudian para guru banyak yang mendukung,” ungkapnya. (*/jko/ong)