YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
RINGANKAN BEBAN: Bupati Sri Purnomo dan istri Ny Kustini, saat mengunjungi Muhammad Husain bersaudara dan memberikan bantuan di Dadapan, Wonokerto, Turi, kemarin (19/1)
Membaca berita tiga bersaudara penderita DMD di halaman 1 Radar Jogja edisi kemarin (19/1), menjadi fokus Bupati Sleman Sri Purnomo (SP). Ia pun langsung merespons berita mengenai warganya yang tinggal di lereng Merapi itu.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
BERITA tentang Muhammad Husain ber-saudara, yakni Fahmi, 17, Faqih, 14, dan Faris, 7, yang menderita kelumpuhan akibat kelainan otot Duchene Muscular Distropy (DMD), menghentak hati orang nomor satu di Sleman. SP teringat beberapa waktu lalu, Murtandlo, 50, ayah Husain bersau-dara, pernah mengajukan surat untuk au-diensi di rumah dinas bupati. Murtandlo bermaksud menyampaikan tentang penyakit yang diderita ketiga anaknya itu. “Saya tunggu-tunggu kok belum ada ke-lanjutan. Baru setelah baca berita tadi pagi, saya teringat hal itu,” tutur SP kepada Radar Jogja di kantor dinas bupati kemarin (19/1).
Bermodal informasi berita, SP tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ber-bagi cerita kepada para pegawai negeri sipil di lingkungan Pemkab Sleman. Kebetulan, kemarin pagi sekitar pukul 07.00 dilaksana-kan upacara bendera rutin. Sebagai inspektur upacara, SP pun meng-ingatkan pentingnya pengamalam butir ke-4 Sapta Prasetya Korpri, yakni kesetia-kawanan. Murtandlo dan istrinya, Anik Marwati, berprofesi sebagai guru, yang juga anggota Korpri. SP mengajak seluruh anggota Korpri Sle-man untuk membantu meringankan pen-deritaan Husain bersaudara, dengan cara sumbangan serkiler. “Korban (longsor) Banjarnegara saja dibantu kok. Apalagi ini warga sendiri,” ingatnya
Kekuatan Korpri di Sleman sebanyak 12 ribu orang. Nah, berprinsip seperti sapu lidi, sumbangan dari anggota dikum-pulkan untuk membantu Mur-tandlo yang sedang berjuang mengumpulkan dana sebesar Rp 600 juta untuk biaya berobat anak-anaknya di India. Tak hanya Korpri, Badan Amil Zakat (BAZ) pun tergerak untuk memberi kontribusi. SP juga menginstruksikan bagian kese-jahteraan rakyat sekretariat dae-rah untuk memetakan alokasi anggaran yang bisa digunakan untuk membantu Murtandlo. “Intinya berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” ujarnya.
SP mengatakan, anggaran pe-merintah yang mungkin diguna-kan berasal dari pos dana tak tersangka. Namun, untuk mengeluarkan dana tersebut butuh kajian hokum, agar tak menimbulkan masalah di ke-mudian hari. Karena itu SP mendorong aksi solidaritas ang-gota Korpri untuk sukarela me-nyisihkan sekadar uang makan. Tak hanya itu, sore harinya SP bersama istri, Ny Kustini, melu-angkan waktu menyambangi keluarga Murtandlo di Dusun Dadapan, Wonokerto, Turi.
Selain silaturahmi, SP ingin melihat langsung keadaan Fahmi, Faqih, dan Faris. Tak menunggu dikun-jungi, SP pilih mendahului men-datangi keluarga Murtandlo. “Saya ingin ngaruhke, kenapa tak jadi audiensi,” jelasnya.Kunjungan bupati sekaligus sebagai bentuk dukungan moral bagi keluarga sederhana itu. SP mengaku salut atas ketegaran Murtandlo dan tiga anaknya dalam berjuang melawan DMD. Bupati mengingatkan bahwa segala kesembuhan dan obat mujarab hanya datang dari Allah. Oleh karena itu, Murtandlo dan anak-anaknya diminta selalu sabar dan tabah. “Insya Allah ada jalan,” tuturnya, sebelum meny-ampaikan sumbangan pribadi dalam amblop, yang diserahkan kepada Anik Marwati.
Murtandlo menyambut keha-diran rombongan bupati dengan suka cita. Kepada tamunya, guru SMPN 4 Pakem itu menu-turkan, penundaan rencana audiensi karena kala itu fokus merawat pengobatan Fahmi, Faqih, dan Faris. Murtandlo lantas bercerita bahwa hingga kemarin, India merupakan satu-satunya ne-gara yang banyak memberi re-ferensi pengobatan DMD, yakni sebuah rumah sakit di Maha-rashtra, Mumbai. “Harapan kami, semoga ada kesembuhan tanpa harus ke India,” katanya.
Sementara itu di balik keter-batasan fisik yang dialami kakak-beradik Muhammad Fahmi Husain dan Muhammad Faqih Husain, dua pelajar itu ternyata menyimpan segudang prestasi akademis. Keduanya langganan juara dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk ka-tegori pelajar inklusif. Faqih yang duduk di kelas 2 SMPN 1 Turi dua kali berturut-turut menyabet juara pertama OSN bidang studi matematika. Pada 2012, prestasi tersebut di-raih di Denpasar untuk tingkat SDLB.
Meskipun saat SD, Faqih sempat ‘mandheg” sekolah. Dia memilih belajar pendidikan in-klusi di rumah. Namun, otak cemerlangnya tetap terasah hingga pada Sep-tember 2014, Faqih kembali menyabet juara I OSN Matema-tika tingkat SMP LB di Nusa Tenggara Barat. “Matematika sulit. Tapi saya bisa mengikutinya,” ungkapnya, usai ikut menemui rombongan bupati Sleman.Sang kakak, Fahmi juga pernah menjadi peserta dan juara OSN dalam bidang ilmu komputer.
Tapi, prestasi yang lebih menon-jol di ajang Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA). Beberapa kali Fahmi menyabet gelar jua-ra pada kategori media anima-si cara kerja mobil. Bahkan, Fahmi beberapa kali diminta membuatkan desain animasi oleh teman-teman chatting-nya di luar negeri
. Akhir tahun lalu, Fahmi men-jajal lomba desain internasional dengan mengirimkan karya ke Amerika Serikat, Cekoslovakia, dan Jerman. “Hasilnya belum tahu, karena baru akan diumum-kan tahun ini,” ungkapnya.
Ketertarikan siswa kelas 2 SMA Muhammadiyah Pakem itu pada dunia animasi memang sejak lama. Bermula pada kesenangan-nya di bidang otomotif mobil. Belajar secara otodidak selama tiga bulan cukup sebagai modal bagi Fahmi meraih jurara desain grafis. Mulai tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Sama dengan adiknya, Fahmi sempat menjalani home schoo-ling. Itu dilakoninya pada awal menderita kelumpuhan otot kaki.
Semangat untuk sembuh dan terus berprestasi, sekaligus mengembangkan hobi mem-buat desain animasi tiga di-mensi menjadi pendorong Fahmi melanjutkan studi ke se-kolah umum. Dia mengaku tidak mengalami kesulitan mengikuti pembela-jaran di sekolah. “Teman-teman juga membantu,” ujarnya. Dari aktivitasnya berselancar di dunia maya, dengan kemampuan dia-log bahasa Inggris, Fahmilah yang pertama kali menemukan website yang mengupas tentang penyakit kelainan genetik DMD. (*/laz/ong)