GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JATAH MAKAN: Petugas membagikan makan kepada penghuni Panti Karya kemarin (20/1). Pencairan dana operasional panti ini terlambat, sehingga pengurus panti harus ngutang ke toko untuk pemenuhan kebutuhan sehari-harinya.
JOGJA – Inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan Komisi D DPRD Kota Jogja ke beberapa panti sosial di Kota Jogja, me-nemukan fakta mengejutkan. Hingga menjelang akhir Januari ini, anggaran yang sudah dite-tapkan dalam APBD 2015, belum cair. Akibatnya, pengurus panti harus cari utangan untuk pem-biayaan operasional.Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Agung Damar Kusumandaru mengatakan, dari tiga panti yang dikelola Pemkot Jogja, yaitu Panti Karya, Panti Anak, dan Panti Wredha, semuanya belum menda-patkan alokasi anggaran 2015. “Pada hal pembahasan dan penetapanAPBD 2015 lalu, tidak mengalami keterlambatan, kami juga kaget kenapa belum turun hingga saat ini,” kata Agung di sela melakukan sidak di Panti Karya kemarin (20/1).
Agung menjelaskan, belum tu-runnya anggaran tersebut akan mempengaruhi kinerja panti. Terlebih setiap harinya, masing-masing panti harus menyediakan makan untuk penghuninya. Belum lagi dengan aktivitas lain, yang juga membutuhkan pembiayaan. Untuk itu, Komisi D akan mela-yangkan surat ke Wali Kota Jogja mempertanyakan hal ini. “Segera kami kirim surat ke wali kota, untuk mempertanya-kan kenapa anggaran untuk panti belum turun,” ujarnya.
Terpisah Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Jogja Hadi Muhtar mengakui hal itu. Pihaknya juga sudah berkoordi-nasi dengan Tim Anggaran Pe-merintah Daerah (TAPD) Kota Jogja dan dijanjikan akan cair pada minggu ketiga Januari ini. Menurut dia, untuk mencu-kupi kebutuhan, teruatama soal makan, sementara ini, pen-gurus panti harus utang dulu ke toko langganan. “Sementara ini untuk mencukupi kebutuhan harus utang, nanti kalau ang-garan dari APBD sudah cair, segera dilunasi,” paparnya.
Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Panti Karya Waryono mengatakan, biaya untuk kebu-tuhan makan warga panti, ter-masuk yang paling besar. Dari anggaran sebesar Rp 2,2 miliar tahun ini, Rp 900 juta untuk bi-aya makan. (pra/jko/ong)