RADAR JOGJA FILE
AMANAT : Kardi SH (tengah) bersama anggota tim caretaker PSIM Jogja saat menggelar pertemuan di salah satu hotel di Kota Jogja beberapa waktu lalu.

Pastikan Dana Persiapan Tim Tak Terkendala

 
 
JOGJA – Tim caretaker serta sta-keholder PSIM Jogja akhirnya me-nemukan sosok yang tepat meng-gantikan Haryadi Suyuti (HS) di kursi Ketua Umum (Ketum) Laskar Mataram- julukan PSIM Jogja. Dalam pertemuan yang dige-lar di Restoran Pandan Wangi, Baturetno, Banguntapan, Bantul, seluruh pemangku kepentingan di PSIM sepakat menunjuk Kardi SH sebagai orang nomor satu di klub kebanggaan masya-rakat Kota Jogja ini.
Penunjukkan Kardi sebagai ketum memang mendapat du-kungan dari semua pihak. Ter-masuk dari mantan wali Kota Jogja yang juga anggota dewan pembina PSIM Herry Zudianto (HZ). Bersama HS, HZ percaya di tangan Kardi, PSIM bisa ber-jaya. “Percayalah saya siap be-rada di belakang Pak Kardi. Di tangan beliau PSIM pasti bisa berjaya kembali,” tegasnya ke-marin (20/1).
Pertemuan ini berlangsung dalam suasana hangat. Saat HZ menyerukan dukungannya, Kardi justru berseloroh. Seloro-han Kardi ini seolah menanya-kan kesungguhan HZ maupun HS mendukungnya jika mengambil kepercayaan sebagai Ketum. “Kuwi tenan ora? Meng-ko ditoleh ra ketok,(Itu benar atau tidak? Nanti ditengok ke belakang malah tidak terlihat, Red),” ujarnya sambil terkekeh.
Selain dari dua tokoh ini, peng-angkatan Kardi juga disupport para sesepuh PSIM lainnya. Se-but saja dua mantan ketum, Dasron Hamid dan Hadianto Ismangoen, mantan Ketum PSSI Kota Jogja Tri Agus Hery-ono, mantan GM PSIM Ahmad Syauqi Soeratno dll. Sama seperti HZ dan HS, me-reka pun percaya Kardi dapat membawa PSIM menjadi tim yang lebih hebat.
Sejatinya, kiprah Kardi di sepak bola sejauh ini hanyalah sebagai anggota dewan pembina PSIM. Pria yang pernah menangani kasus perkelahian Julia Perez v Dewi Persik selama berkarir sebagai jaksa ini belum pernah terlibat di manajerial sebuah klub sepak bola. Tetapi, kecintaannya terhadap sepak bola dan PSIM lah yang mem-buat stakeholder PSIM mem-percayakan perjalanan Laskar Mataran kepada Kardi.Meskipun sudah ditunjuk Kardi tidak langsung mengiyakan permintaan para hadirin rapat.
Dihubungi kemarin, Kardi me-nyatakan dirinya meminta wak-tu untuk berfikir apakah mene-rima jabatan ketum atau tidak. Setidaknya sampai dia berkon-sultasi dengan KPK, BPK, dan BPKP soal cara penggalangan dana yang dilakukan PSIM.Selain itu, Kardi merasa tidak terlalu cakap dalam mengurus klub sepak bola. Ia pun melihat di Kota Jogja ini masih banyak orang yang lebih memahami sepak bola ketimbang dirinya. “Saya juga lihat dulu, bagai-mana tugas yang akan diemban ketum. Secara jujur saya tidak cakap dalam mengurus sepak bola. Saya hanyalah orang suka sepak bola,” ucapnya.
Lebih lanjut, koordinator tim caretaker pengampu PSIM ter-sebut menyatakan, jika Laskar Mataram ingin berbentuk per-seoran terbatas (PT), jabatan ketum seharusnya tidak ada. Hal itu sudah tertuang dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Per-seroan Terbatas. “Kalau PT ya adanya komisaris, direksi dll. Nggak ada itu ketum. Kalau ada ketum namanya ya organisasi biasa,” jelasnya.
Di bagian lain, dana pembentukan tim PSIM dipastikan aman. Mana-jer Operasional PSIM Jogja Pur-wandari mengatakan, saat ini PSIM sudah mengantongi dana Rp 68, 5 juta yang berasal dari sumbangan para stakeholder. (nes/din/ong)