SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
ANTRE: Terlihat antrean memanjang di SPBU yang terletak di Jalan Magelang, Jogja. Terdapat lonjakan konsumsi premium, bahkan pada Selasa (20/1) meningkat mencapai 3.000 KL.
JOGJA – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersub-sidi, terutama premium dalam dua hari terakhir diakui oleh Pertamina karena adanya lon-jakan konsumsi. Hal tersebut didorong oleh sikap masyarakat yang melakukan wait and see pascapengumuman penurunan harga BBM pada 16 Januari lalu.Branch Manager Pemasaran Pertamina Area Jogja Surakarta Freddy Anwar mengungkapkan, lonjakan peningkatan konsum-si BMM ketika diterapkan kebi-jakan harga baru pada Senin (19/1) kemarin melebihi 100 persen.
Jika konsumsi normal rata-rata DIJ sebesar 1.400 kilo-liter (KL) per hari, maka pada Selasa kemarin (20/1)mening-kat mencapai lebih 3.000 KL.”Puncak konsumsi saya pre-diksi terjadi pada hari ini (ke-marin), di mana kami telah mengeluarkan sekitar 3.200 KL,” kata Freddy kepada wartawan, Selasa (20/1).
Freddy mengatakan, pihaknya sudah memperkirakan adanya lonjakan konsumsi premium setelah pemerintah mengumum-kan penurunan harga BBM. Mengantisipasinya, Pertamina telah berkomunikasi dengan SPBU untuk menyiapkan stok. Hanya, jumlah konsumsi yang cukup tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya berakibat pada kekosongan stok di sejum-lah SPBU. “Namun, hal tersebut telah diatasi dengan pengisian ulang,” jelasnya.
Dia memperkirakan lonjakan konsumsi premium tersebut ter-jadi tidak akan lama. Diprediksi selama tiga hari kedepan peng-gunaan premium akan kembali normal. “Tidak akan berlangsung lama, kedepan sudah kembali normal lagi,” tandasnya.
Selain menambah stok, jelas Freddy, langkah antisipasi ialah dengan meminta SPBU untuk memperhatikan pembelian dengan menggunakan jeriken. Bila pengecer, harus diperhati-kan surat izin yang telah dikelu-arkan oleh dinas terkait.Saat disinggung soal Pertamax yang juga mengalami penurunan, dia menjelaskan, tidak ada ke-langkaan pada Pertamax. Meski diakuinya, terdapat lonjakan permintaan Pertamax. Bila hari-hari sebelumnya, konsum-si mencapai 160 KL per hari, kini meningkat menjadi 200 KL.
Sementara itu, dihubungi terpi-sah Ketua Himpunan Swasta Na-sional Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas) DIJ Siswanto mengungkapkan, lonjakan per-mintaan di SPBU mencapai 20 persen. Hal ini dikarenakan sikap masyarakat yang memilih menung-gu membeli BBM dengan harga yang lebih murah dari sebelumnya.”Akibat sikap wait and see ini, banyak SPBU yang stoknya pada Minggu lalu (18/1) belum habis. Kemudian pada Senin (19/1), masyarakat berbondong-bondong menyerbu SPBU,” katanya.
Selain itu, sambungnya, sempat terjadi keterlambatan pengiriman stok di sejumlah SPBU. Hal ini dikarenakan persoalan truk tang-ki yang juga melakukan pengiri-man ke sejumlah wilayah seper-ti Wonosobo dan Temanggung. Di sisi lain, pengusaha SPBU juga dirugikan atas sikap wait and see yang dilakukan oleh masyarakat. Rata-rata kerugian SPBU, dikarenakan BBM yang sudah di stok tidak terjual sampai habis. Stok paling banyak ter-sisa yakni bahan bakar solar dan Pertamax. “Kerugiannya berki-sar Rp 10 juta sampai Rp 20 juta,” terangnya. (bhn/ila/ong)