GUNAWAN/RADAR JOGJA
SEMPAT TEGANG:Sopir angkot di Siyono, Playen tetap beraktivitas mencari penumpang usai beradu mulut dengan pemegang mobil pelat merah yang mengangkut para PNS Gunungkidul, kemarin (20/1).
Pendapatan Menjadi Berkurang, Minta Ada SolusiGUNUNGKIDUL – Mobil dinas (mobdin) Pemkab Gunungkidul yang digunakan PNS untuk nglaju, selama ini sering digunakan untuk mengangkut rombongan pegawai pemkab. Hal tersebut memicu emosi sopir angkutan kota (angkot), karena dianggap mengurangi pendapatan mereka. Puncaknya, pemegang mobil pelat merah itu dipaksa berhenti dan sempat terjadi adu mulut.
Kejadian tersebut berlangsung di pangkalan angkot Siyono, Playen. Ketika itu, sejumlah PNS menunggu jemputan mobdin. Hampir setiap hari aktivitas mereka memang demikian. Rupanya hal itu membuat sopir angkot emosi. “Sebab kalau tidak dijemput mobil dinas, para penumpang itu naik angkot kami,” kata salah seorang sopir Agus Wahyu Nugroho, kemarin (20/1).
Tampaknya emosi para sopir sudah tidak dapat dibendung lagi, sehingga begitu melihat kendaraan pelat merah berhenti menjemput pegawai pemkab langsung dihalang-halangi. Mobil angkot diparkir tepat di depan mobil milik pemerintah tersebut.Waktu itu, sempat terjadi adu mulut. Sopir angkot meminta pengendara mobil dinas segera mengganti pelat kendaraan dengan warna kuning jika ingin jalur trayek. Karena kalau didiamkan terus, jelas jumlah penumpang berkurang. “Akhirnya, penumpang di dalam mobil dinas itu turun dan naik angkot,” ungkapnya.
Agus berharap, aksi penyerobotan seperti ini tidak terjadi lagi. Hendaknya pemerintah mengerti situasi yang dialami para sopir. Mereka hanya mengandalkan pendapatan dari penumpang agar dapur mereka tetap mengepul. Meski harga bahan bakar minyak (BBM) turun, namun belum diimbangi dengan penurunan komponen lainnya.
Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Gunungkidul Purnama Jaya belum bisa berkomentar banyak. Dia menya-rankan, terkait dengan mobdin menyerobot jalur angkot dikomuni-kasikan dengan sekda.”Dulu ada surat edaran terkait penggunaan mobil dinas, tapi saya tidak tahu persis. Silakan tanya ke pak Budi Martono (Sekda Gunungkidul),” kilahnya.
Kemudian mengenai tarif angkot, Purnama mengaku akan segera melakukan pemantauan. Pada prinsip-nya, soal tarif sudah ada patokan batas atas dan batas bawah. Selan itu, pihaknya juga akan melakukan survei terkait harga komponen kendaraan. “Harga komponen kendaraan sudah turun atau belum,” ujarnya. Sementara itu, Sekda Gunungkidul Budi Martono belum bisa dikonfirmasi terkait mobdin dijadikan angkutan. Saat dihubungi melalui sambungan telepon dia mengaku masih ada acara sehingga belum bisa menjelaskan secara detail. (gun/ila/ong)