HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
SEMANGAT: Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo saat peletakan batu pertama dalam program bantuan perbaikan irigasi di Janten, Temon, kemarin (20/1)

Terima Bantuan Rp 6 Miliar

 
KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo tengah berupaya meningkatkan produksi pertanian menuju swasembada pangan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni memperbaiki sistem irigasi. Tidak tanggung-tanggung, pusat bahkan rela menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk perbaikan irigasi tersebut.
Pemkab Kulonprogo juga menerima bantuan senilai Rp 6 miliar untuk pengairan 6.000 hektare lahan. Salah satu penerima bantuan yakni Kelompok Petani Pemakai Air (P3A) Sedyo Makmur, Janten, Temon. Kelompok ini menerima bantuan perbaikan irigasi sepanjang 300 meter untuk pengairan lahan seluas 65 hektare. “Saya berharap perbaikan ini jangan diborongkan, dibuat sendiri saja oleh masyarakat supaya lebih baik hasilnya,” terang Bupati Hasto Wardoyo usai peletakan batu pertama dalam gerakan perbaikan jaringan irigasi, kemarin (20/1).
Bupati Hasto berpesan, penerima bantuan bisa memanfaatkan bantuan dengan baik dan bisa menggunakannya secara maksimal. Dia pun berpesan, untuk tidak lupa dengan program Bela Beli Kulonprogo. “Material yang masih bisa dibeli di Kulonprogo tidak perlu membeli di luar daerah. Sebisa mungkin membeli di lingkungan sendiri,” ucapnya.
Komadan Kodim (Dandim) 0731 Kulonprogo Letkol CZI Cornelles Rompas didampingi Komandan Pasiter Wasito menambahkan, membantu masyarakat termasuk dalam tugas operasi militer selain perang. “Kami bekerja sinergis dengan penyuluh di lapangan. Kegiatan ini merupakan langkah awal dalam me-ningkatkan produksi pangan. Selanjutnya TNI bertekad akan mendukung kegiatan ini bersama dengan institusi lain supaya berhasil,” terangnya.
Kepala Dinas Pertanian DIJ Sasongko menyatakan, perbaikan irigasi ini memang pemerintah juga mengarah pada swasembada pangan. Menurut Sasongko, peningkatan swasembada pangan dengan perbaikan saluran irigasi cukup tepat. Terlebih air selalu menjadi kendala dalam pertanian, terlebih di DIJ masih banyak jaringan irigasi yang tanah banyak kelemahan. Itu lantaran air banyak yang hilang dan luas oncoran (areal yang terairi) berkurang. “Sangat dibutuhkan irigasi permanen, supaya bisa memperkecil kehilangan air dan memperluas areal irigasi, imbasnya produksi pasti meningkat. Dengan adanya saluran irigasi yang baik bisa meningkat produksi lima sampai sepuluh persen,” ujarnya.
Sasongko merinci, bantuan perbaikan irigasi untuk Kulonprogo saat ini yakni 3.000 hektare. Namun akan ditambah lagi 3.000 hektare, sehingga totalnya 6.000 hentare. Sehingga jika bantuannya Rp 1 juta per hektare, maka total bantuan adalah Rp 6 miliar untuk perbaikan jaringan irigasi. Ketua P3A Sedyo Makmur Kamijo menimpali, luas lahan sawah 65 hektare yang dikelola kelompoknya memiliki bentuk cekung sehingga memerlukan banyak saluran. Panjang saluran sekitar 7.000 meter.
Saat ini saluran irigasi yang belum permanen tinggal 30 persen. Jika saluran ini bisa dibuat permanen tentunya pasokan air bisa lebih mudah dalam tentu akan meningkatkan produksi pertanian. “Dengan saluran permanen air jadi lancar dan mudah mengambil air maupun mem-buangnya. Untuk pemeliharaan masyarakat juga memiliki kesepakatan, yakni seluruh masyarakat harus ada kebersamaan iuran,” tuturnya. (tom/ila/ong)