ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
LEBIH AMAN: Benda cagar alam temuan petani di Dusun Sangubanyu, Banyuwangi, Bandongan yang diamankan di balai desa setempat, kemarin (20/1).

Peninggalan Kerajaan Hindu Kuno, Berbentuk Yoni dan Umpak

Cagar budaya merupakan warisan budaya bersifat kebendaan. Yakni, benda cagar budaya (BCB), bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya.
ADIDAYA PERDANA, Mungkid
SESUAI UU Nomor 11 Tahun 2010, pasal 1 ayat 1, temuan yang ada di darat atau di air tersebut, perlu dilestarikan keberadaan-nya. Karena memiliki nilai penting. Baik bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, hingga kebudayaan.Kali ini, berbagai benda cagar budaya (BCB) kembali ditemukan di Kabupaten Magelang. BCB tersebut ditemukan seorang petani di Dusun Sangubanyu, Banyuwangi, Bandongan, kemarin (20/1).BCB yang diduga peninggalan kerajaan Hindu kuno tersebut, ditemukan di per-sawahan milik warga setempat.
Beberapa temuan diamankan di balai desa, terdiri dari beberapa macam. Yakni, yoni tiga buah dan dua buah umpak. Masing-masing berukuran kecil, sedang, dan besar. Yoni kecil berukuran lebar 45 sentimeter, tinggi 55 sentimeter dan panjang pancuran 22 sentimeter. Sedangkan Yoni berukuran lebar, 55 sentimeter, tinggi 55 sentimeter, dan panjang pancuran 20 sentimeter. Untuk Yoni besar berukuran 70 sentimeter, tinggi 50 sentimeter, dan panjang pancuran 23 sentimeter
Umpak kecil yang diambil dari pekarangan warga, ber ukuran diameter 30 sentimeter dan tinggi 20 sentimeter.Salah satu BCB tersebut, awal-nya ditemukan petani yang tengah membajak sawah. Tiba-tiba saja, traktornya mengenai batu. Setelah diangkat merupakan BCB. Secara keseluruhan, warga menemukan BCB di empat lokasi berbeda. Untuk tempat lain, berada di sawah milik H Zainudin, Dusun Sangubanyu dan pe-karangan rumah Adam, warga Dusun Mendak Selatan.”Ada juga yang menemukan di halaman rumah Suwondo dan Nurhadi, warga Sangubanyu,” ungkap Sekretaris Desa (Sekdes) Banyuwangi Abdul Kholik.
Setelah penemuan BCB itu, warga sepakat membawanya ke Balai Desa Banyuwangi untuk diamankan. Termasuk tiga buah yoni yang sebelumnya ditemukan di dekat lokasi penemuan umpak dari pe-karangan warga. Sedangkan yoni berukuran sangat besar, dengan lebar 80 sentimeter dan tinggi 80 senti-meter sementara waktu dibiar-kan di pinggir sawah.”Kami tidak kuat jika harus menggotongnya ke balai desa. Jadi, sementara biar di sawah saja,” imbuhnya.
Menurutnya, BCB tersebut bukan pertama yang ditemukan di desa tersebut. Batu-batu purba sudah ditemukan sejak puluhan tahun lalu, namun di-biarkan berserakan di pinggir sawah dan pekarangan warga. Bahkan, tahun 1980, sebuah arca sapi (nandi) diambil Pem-kab Magelang.”Karena itu, atas kesepakatan warga dan Dinas Pariwisata Kebudayaan Kabupaten Mage-lang, batu-batu kuno dikumpul-kan di balai desa. Tujuannya agar lebih terjamin keamanannya dan agar tidak rusak,” paparnya.
Atas dasar itu, ia memper kirakan banyak batu-batu serupa yang berserakan balik di areal per-sawahan maupun pekarangan warga yang belum diamankan. Tidak saja dari Dusun Sangu banyu, tetapi tersebar di Dusun Sangu-banyu Utara, Mendak Selatan, dan Candi Gunung di Desa Banyuwangi, Bandongan.Sementara itu, Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Lilik Eko menyatakan, penemuan batu-batu tersebut menandakan desa ini merupakan perkampungan kuno yang subur dan makmur.
Batu-batu andesit yang ditemukan di Dusun Sa-ngubanyu diduga sebagai batu peninggalan kerajaan Hindu abad ke 7-8. Batu-batu tersebut konon merupakan sarana ritual atau pemujaan Dewi Sri untuk me-minta kemakmuran dan ke suburan lahan pertanian.”Alasan ditempatkan di balai desa, agar lebih mudah pe-ngamanan dan pemeliharaannya,” katanya. (*/hes/ong)