DWI AGUS/RADAR JOGJA
UJIAN AKHIR: Tarian Leto Manyam Kalong karya Marsiti Jufalis (foto kiri) dan Chyntia T. Kambuno dengan karyanya De Meo Zelotes dalam Gelar Resital Tari 2015 di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Jogja, Senin malam (19/1).

Cerita Kuat dengan Unsur Etnik, Kental Nuansa Lingkungan

Gelar Resital Tari 2015 dikemas apik oleh mahasiwa Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Jogjakarta. Pementasan melibatkan sembilan koreografer muda ini bertajuk Kala Alam Menginspirasi. Semua karya yang disajikan merupakan ujian akhir para mahasiswa jurusan tari.
DWI AGUS, Bantul
—-
UJIAN akhir ini juga melibatkan mahasiswa yang menempuh mata kuliah Manajemen Produksi Tari I dan II. Pimpinan Produksi Ammy Aulia Renata mengungkapkan, kegia-tan ini merupakan aplikasi ilmu yang didapat. Tidak hanya tari, juga manajemen produksi di belakangnya. “Jadi merancang bagaimana sebuah per-tunjukan tari dapat berlangsung. Mulai tata cahaya, tata rupa pentas, tata ruas busana dan lainnya. Terutama menguatkan bahwa seni tari tidak hanya berbicara tentang panggung saja,” kata Ammy (19/1).
Pementasan ini digelar selama empat hari dari 19 hingga 22 Januari mendatang. Senin malam (19/1) diawali dengan persiapan gla-di bersih. Selanjutnya tadi malam (20/1) pe-mentasan dilakukan. Sesi pertama menam-pilkan lima karya dari koreografer muda.Pementasan di Auditorium Jurusan Tari pada sesi pertama menampilkan Tantu karya Irma Indriyani. Lalu Todilaling karya Andi Firdah, Leto Manyam Kalong karya Marsiti Jufalis, Kerai karya Yanti Mei Aryani dan ditutup oleh Chyntia T. Kambuno dengan karya De Meo Zelotes.
Setiap karya yang ditunjukkan memiliki cerita kuat. Meski berupa karya baru, unsur etnik tradisi masih terlihat sekali. Mulai unsur Sunda, Kalimantan hingga Nusa Teng-gara Timur. Ragam seni ini dikemas dengan gaya baru sesuai perspektif setiap koreogra-fer. “Karya saya bercerita tentang simbol per-bedaan status sosial dalam suku Dayak Ke-nyah. Diwujudkan dalam motif anyaman pada tikar yang memiliki makna berbeda. Untuk gerakan mengolah dari gerak Kancet Leto khas tradisi Kalimantan,” kata Marsiti.
Sama halnya dengan Chyntia yang men-gusung etnik Timor. Dia melibatkan beberapa mahasiswa asal Timor, di mana para maha-siswa memainkan bebunyian khas dari tanah kelahirannya. Sehingga tarian yang disajikan pun terlihat kuat dari segi konsep dan penya-jiannya. “Bercerita tentang lika-liku perjalanan wa-nita Timor dan konfliknya. Saya garap dengan tipe dramatik yang mengusung alur cerita flashback,” kata perempuan kelahiran Kupang 6 Agustus 1994 ini.
Ammy menjelaskan, pementasan ini memang dikemas menjadi dua kali. Diawali gladi ber-sih lalu pementasan bersih di hari berikutnya. Tujuannya untuk melihat dan menjadi eva-luasi ketika melakukan pementasan sesung-guhnya. Tentang tema ia berujar setiap karya terin-spirasi dari suasana alam sekitar. Sehingga mayoritas karya sangat kental dengan nu-ansa lingkungan.
Selain itu juga menjadi aja-kan bagi semua yang menonton untuk pe-duli terhadap lingkungan.”Karya yang disajikan juga telah melalui proses yang sangat panjang. Melalui banyak revisi, sehingga siap untuk disajikan ke kha-layak umum,” kata Ammy.
Pementasan sesi kedua menampilkan em-pat koreografer muda lainnya. Masih di tem-pat yang sama tari akan disajikan besok malam (21/1) dan berakhir Kamis (22/1). Keempatnya adalah Ratna Andriani dengan karya Perwi-tasari, Diah Pertiwi dengan karya Belukar Punyo Idup, Hendy Hardiawan dengan karya Enceh dan Suryadila Larasati dengan karya Teenager. (*/laz/ong)