SETIAKY/RADAR JOGJA
KERACUNAN: Puluhan karyawan PT Mataram Tunggal Garment (MTG) saat mendapatkan perawatan di IGD RS Panti Nugroho, Pakem, kemarin (21/1).
SLEMAN – Ruang tunggu dan selasar Ins talasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, kemarin (21/1) mendadak menjadi “bangsal” ma-sal pasien. Puluhan karyawan PT Mata-ram Tunggal Garment (MTG) di Dono-harjo, Ngaglik, tergeletak berjajar di atas lantai tikar.
Di lengan mereka tertancap jarum infus yang digantung menggunakan tali rafia. Tiap pasien memegang kantung plastik untuk tempat muntah. Semuanya tampak pucat dan berkeringat dingin. Tim paramedis dan dokter berlalu lalang di ruangan itu. Mereka sibuk menangani pasien yang mual dan muntah-muntah. Bahkan sebagian tak sadarkan diri, sehing-ga harus dibantu alat bantu pernapasan dengan oksigen. Pihak rumah sakit menduga, para pasien ini menderita keracunan. Namun, dokter belum bisa memastikan penyebabnya
Bisa berasal dari makanan, atau hal lain. Berdasarkan informasi dari para korban, mereka me-ngalami pusing dan mual sete-lah makan siang, sekitar pukul 12.00. Menunya nasi pecel dengan telor ceplok dan kerupuk, plus sayuran berupa kacang panjang, bayam, dan tauge, serta buah semangka. “Setelah makan belum terasa. Setengah jam kemudian, awal-nya pusing lalu muntah-muntah,” ungkap Wiji Lestari, salah seorang karyawan.
Tak semua karyawan yang ma-kan dengan menu serupa lang-sung mengalami mual-mual. Ada yang sekitar pukul 14.30 baru merasakan pusing. Sebagian lain mengeluh mual menjelang jam pulang kerja. Wiji mengaku sempat curiga dengan menu makan siangnya, terutama pada sayuran yang baunya agak menyengat. “Bau-nya beda dengan biasanya,” katanya, yang diamini Rosilah, korban lain.
Karyawan yang menderita mual dan muntah segera dilarikan ke rumah sakit tersebut, yang berjarak sekitar 6 km dari pabrik. Pihak rumah sakit mencatat sedikitnya 59 pasien yang di-tangani. Namun, hingga men-jelang Magrib, masih ada pasien lain datang berobat. Jumlah pa-sien sangat mungkin bertambah, mengingat saat gejala keracunan muncul, sebagian karyawan sudah ke luar pabrik.
Dokter Jaga IGD dr Agus Wi-janarko membenarkan jika pa-sien datang secara bergelombang sejak pukul 15.00. Sekali datang jumlahnya antara 10-20 orang. “Keluhannya sama semua. Ada yang diare juga,” ujarnya.
Sesuai prosedur, lanjut Agus, dokter menangani pasien dengan obat, sesuai keluhan. Lantaran tak bisa menggunakan obat oral, dokter menyuntikkan obat mel-alui cairan infus. “Obatnya stan-dar untuk kejadian luar biasa,” jelasnya.
Ketua Komite Medik dr Lilya-na menambahkan, belum di-ketahuinya penyebab gejala keracunan itu karena membu-tuhkan proses uji lanjutan. “Kemungkinan dari makanan. Tapi harus diteliti khusus, apakah penyebabnya dari makanan tertentu atau hal lain,” jelasnya.
Pasien yang kondisinya sudah stabil diperbolehkan pulang ke rumah. Penanganan selanjutnya dengan obat rawat jalan. “Se-cara umum sudah tertangani semua. Hanya ada empat orang yang masih lemah dirawat di IGD,” jelas Agus. (yog/laz/ong)

Lima Katering Layani 2.000 Karyawan

DARI catatan Radar Jogja, keracunan ma-sal menimpa karyawan PT MTG bukan pertama kali. Sepuluh tahun lalu, tepatnya Rabu, 18 Februari 2004, sedikitnya 170 kar-yawan pabrik garmen itu juga mengalami keracunan. Penyebabnya dari jatah makan siang berupa nasi dan sayur kacang panjang dengan lauk ikan asin. Manajer Akunting PT MTG Falentina Dewi Yulianti mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab puluhan karyawan kali ini menderita mual dan pusing. Dewi tak berani memastikan jika penyebabnya berasal dari menu makan siang
Kendati begitu, semua hal yang mengarah pada dugaan penyebab-nya, dihentikan sementara. Terma-suk jatah makan dari lima katering langganan pabrik yang melayani sekitar 2.000 karyawan. “Makanan dari katering kami selidiki,” kata Dewi yang ditunjuk oleh manajemen menangani masalah itu. Makanan dari luar katering pun tak luput dari sasaran. Dewi be-ralasan, sebagian karyawan sering membawa makanan sendiri dari rumah. Atau jajan di warung-warung sekitar pabrik. “Semua tertangani. Karyawan yang sakit dibawa ke rumah sakit,” klaimnya.
Salah seorang karyawan pabrik yang enggan namanya dikoran-kan menuturkan, setiap hari lima katering memberi menu seragam. “Tapi kan beda-beda rasanya. Sambalnya yang di barisan tengah agak kental,” ucapnya. Perempuan berambut pendek itu mengaku turut makan menu makan siang seperti yang dima-kan para korban. “Ya, mungkin kondisi tubuh tiap orang beda-beda,” lanjutnya. Tak ketinggalan, pihak kepo-lisian turut menyelidiki kasus keracunan masal ini. Beberapa anggota Polsek Ngaglik dan Pol-res Sleman datang ke rumah sakit untuk meminta keterangan se-jumlah saksi. (yog/laz/ong)