GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BAKAR “KORUPTOR”: Gerakan Rakyat Anti-Korupsi DIJ membakar boneka simbol korupsi saat melakukan aksi di depan Kejaksaan Tinggi DIJ, kemarin (21/1).
JOGJA – Lambatnya penanganan kasus korupsi hibah Persiba kembali mendapat sorotan pegiat antikorupsi. Kemarin pulu-han aktivis Gerakan Rakyat Antikorupsi DIJ menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Kejati DIJ, Jalan Sukonandi. Saat aksi, massa membawa aneka poster berisi kecaman terhadap penanganan kasus korupsi di DIJ. Mereka menyebut kejati tem-pat berlindung para koruptor. Kemudian banyak tersangka korupsi berlenggang be-bas seperti korupsi Persiba, pergola, PLN, atau DPT DPRD DIJ
Usai berorasi, massa memba-kar boneka orang-orangan yang terbuat dari jerami. Boneka je-rami itu sebagai simbol jaksa yang tidak berani memberantas korupsi. Usai aksi di kejati, mas-sa melanjutkan ke Titik Nol untuk melakukan aksi sama.
Massa mendesak Jaksa Agung HM Prasetyo segera mencopot Kajati Loeke Larasati SH dari jabatan Kajati DIJ. Sebagai kajati, Loeke dianggap tidak me-miliki komitmen memberantas korupsi dan tidak menjalankan tugas dengan baik.”Bu Loeke tidak berani memberantas korupsi. Buktinya, penanganan kasus Persiba belum ada perkembangan berarti,” teriak Juru Bicara Gerakan Rakyat Antikorupsi DIJ Tri Wahyu KH saat orasi.
Massa menilai, mandegnya penanganan korupi hibah Per-siba dengan tersangka HM Idham Samawi dan Edy Bowo Nurcahyo, bukti Kajati DIJ Loeke Larasati tidak berani mengambil kepu-tusan tegas. Ia menyindir Ka-jati yang terkesan pilih kasih dalam penegakan hukum. “Jangan tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dalam kasus Ervani, Kajati Loeke cepat se-kali merespons akan mengajukan kasasi, padahal diputus bebas oleh pengadilan. Sedangkan kasus Persiba, Bu Loeke terke-san sembunyi karena ketakutan,” sindirnya.
Dikatakan, apabila kejati masih sanggup menuntaskan perkara hibah Persiba dan perkara ko-rupsi lain, segera menahan para tersangka dan mengajukan ke Pengadilan Tipikor. Sebab, bila kejati tak serius menangani korupsi, maka yang dirugikan adalah para tersangka, keluarga tersangka, dan masyarakat.Di sisi lain, Aspidsus Kejati DIJ Azwar SH mengatakan, tim penyi-dik belum melimpahkan berkas atas nama tersangka Idham Samawi dan Edy Bowo Nurcahyo ke jaksa peneliti karena berkas dinilai belum lengkap.
Untuk kelengkapan berkas itu, dalam waktu dekat tim penyidik akan meminta keterangan ahli hukum pidana dari Universitas Airlang-ga Surabaya.”Kami ingin minta pendapat ahli mengenai penggunaan dana hibah hibah,” terang Azwar kemarin.
Seperti diberitakan, kasus dana hibah Persiba menyeret empat orang sebagai tersangka. Selain mantan Ketua Umum Persiba HM Idham Samawi, Kepala Kantor Pemuda dan Olahraga Bantul Pemkab Bantul Edy Bowo Nurcahyo, juga ada Direktur PT Aulia Trijaya Mandiri Maryani, dan Bendahara 1 Persiba Dahono.

Noor Janis Motori Demo Tandingan

Di tengah aksi demonstrasi pegiat antikorusi Gerakan Rakyat Antikorupsi DIJ, tiba-tiba muncul pendukung HM Idham Samawi yang ikut menggelar aksi serupa di depan gedung Kejati DIJ. Kali ini, mereka men-gatasnamakan Forum Masyarakat Bantul Peduli Keadilan.
Demo tandingan yang dimo-tori Noor Janis ini diikuti belasan orang dengan membawa poster. Janis mengatakan, demonstrasi sengaja dilakukan setelah dirinya mendapatkan informasi bahwa akan ada gerakan LSM yang akan melakukan aksi demonstrasi di depan kejati. “Saya mendapatkan info akan ada demo soal Persiba di kejati. Kami langsung rapat dan sepakat membuat aksi yang sama,” kata Janis kepada wartawan di sela aksi tandingan kemarin.
Dalam orasinya, Janis mengingatkan kepada kejati agar tidak terseret dalam pusaran kepentingan politik. Menurut Janis, penetapan Idham sebagai tersangka hibah Persiba karena ada unsur kekuatan politik yang bermain. Aroma itu muncul sebelum pileg April 2014 lalu.
Buktinya, setelah Idham menjadi tersangka, kini tidak dapat dilantik sebagai anggota DPR RI. “Jika kejati tidak cukup bukti, jangan takut keluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentikan Penyidikan),” terang Janis.
Menanggapi pernyataan ini, Aspidsus Kejati DIJ Azwar SH membantah adanya rumor tekanan politik dalam pengusutan dugaan korupsi hibah Persiba. Dalam menjalankan tugasnya, kejati selalu berpegang pada perundang-undangan yang ber-laku. “Tidak ada itu tekanan politik. Semua berjalan sesuai koridor hukum,” kata Azwar.
Azwar menegaskan, saat ini tim penyidik masih terus mela-kukan penyidikan terhadap kasus dugaan korupsi hibah Persiba. Pekan lalu tim penyidik telah melimpahkan berkas ter-sangka Maryani dan Dahono ke jaksa peneliti. Sedangkan untuk berkas HM Idham Samawi dan Edy Bowo Nurcahyo, masih perlu penyempurnaan keterangan saksi.”Kasus Persiba bukannya tidak ada bukti, tapi perlu bukti tambahan. Kami menilai penyidikan untuk tersangka IS dan EBN belum final, belum selesai,” tegas Azwar. (mar/laz/ong)