HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
DAPAT PERLAWANAN: Proses pemasangan patok koordinat areal bandara di wilayah Desa Glagah gagal dilakukan lantaran dapat perlawanan dari warga yang tergabung dalam WTT, kemarin (21/1).
KULONPROGO – Proses pemasangan patok koordinat lahan calon bandara di Desa Glagah kembali gagal. Pasalnya, tim Percepatan Pembangunan Bandara Baru (P2B2) mendapat perlawanan dari warga yang tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT).
Tak ayal, proses pemasangan patok sempat berlangsung ricuh, kemarin (21/1).Kronologis kejadian bermula ketika ratusan warga WTT menghadang dan mendesak mundur tim pengadaan lahan bandara yang mencoba memasang patok di Pedukuhan Sidorejo. Salah satu wartawan dan anggota kepolisian bahkan sempat terkena lemparan batu akibat aksi warga WTT yang emosi.Sebelum insiden pelemparan batu itu terjadi, tim sempat berhasil memasang patok di Pedukuhan Glagah, Sengkretan, Logede, Bebekan, dan Macanan sekitar pukul 10.00.
Namun setelah itu, ratusan warga menghadang tim, tepatnya di perempatan pedukuhan sebelah selatan Balai Desa Glagah. Negosiasi sempat dilakukan antara warga, tim dan kepala desa. Hasilnya, pematokan dihentikan sementara sampai warga mendapat kepastian perihal pihak yang bertanggung jawab terhadap pematokan di lahan milik warga. Hingga akhirnya, sekitar pukul 14.00 tim memutuskan melanjutkan pematokan didampingi aparat kepolisian. Pemasangan dimulai dari Pedukuhan Sidorejo yang berada di sisi barat.
Warga pun kembali tersulut emosinya, bahkan kali ini lebih represif dengan mencoba mendesak mundur petugas hingga ke Jalan Daendels. Hingga akhirnya puluhan aparat polisi dan TNI yang sudah berada di Jalan Daendels mengerahkan truk dalmas. Kemudian barisan dan mobil polisi serta TNI bergerak ke timur,hingga terjadilah pelemparan batu dari arah kerumunan massa ke arah aparat. Seorang wartawan dan anggota kepolisan menjadi korbannya.
Adalah wartawan kontributor RRI Harun Susanto, ia terkena lemparan batu pada bahuhingga lebam serta pipi kanannya tergores. Ia mengaku saat terkena lemparan batu, posisinya berada di dekat aparat. Ia meyakini batu itu datang dari arah kerumunan massa. “Saya terkena lemparan batu di bahu dan pipi,” ucapnya.
Harun menyatakan belum akan melapor ke polisi atas luka yang dideritanya. Nasib Harun juga dialami seorang anggota polisi, ia juga terkena lemparan batu. Sontak insiden itu membuat sejumlah polisi ikut terpancing emosi, mereka lantas coba mendatangi kerumunan massa. Sementara itu, Ketua WTT Martono dan polisi akhirnya berusaha meredam emosi masing-masing anggotanya. Warga berusaha mencari pelempar batu yang diduga langsung kabur ke belakang.
Ditegaskan Martono, warga WTT tidak dianggap manusia oleh pemerintah. Karena, menurutnya, kesepakatan antara warga dan tim tidak diindahkan. “Kami menggugat bupati Kulonprogo sebab pada pertemuan sebelumnya dia sudah berjanji akan mendengarkan suara warga WTT,” tegasnya kepada sejumlah wartawan.
Martono menyatakan, WTT menyesalkan sikap dan tindakan Pemkab Kulonprogo yang tidak berunding terlebih dahulu terkait proses pemasangan patok. Ia bahkan menuding warga diserang dari belakang.”Warga WTT tidak mempersoalkan pematokan sepanjang tidak dilakukan di lahan milik warga. Dengan kejadian ini kami akan segera menjadwalkan untuk kembali bertemu dengan bupati,” tegasnya.
Terpisah, Anggota Tim Percepatan Pembangunan Bandara Baru (P2B2) Bambang Eko menjelaskan, sebenarnya secara tertulis koordinat lahan sudah jelas. Namun warga ingin mengetahui secara pasti batas lahan bandara. “Kami pun melakukan pematokan untuk memberi kepastian. Dengan insiden kali ini, untuk sementara waktu proses pematokan akan dijadwal ulang,” jelasnya.
Kapolres Kulonprogo AKBP Yulianto mengatakan, polisi sejauh ini melakukan pengamanan kegiatan warga yang menolak serta tim yang melakukan pematokan supaya tidak terjadi benturan fisik. “Posisi kami di tengah-tengah,” katanya. (tom/ila/ong)