ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
MASIH BERDUKA: Junediono menunjukkan foto selfie keponakannya, Piky Puspitasari.

Piatu sejak Umur Dua tahun, Bercita-cita Jadi Perwira Karir

Meninggalnya Piky Puspitasari sempat membuat keluarga terhenyak. Semua terasa serba cepat dan mendadak. Meski begitu, keluarga besar Piky mengikhlaskan kepergian mahasiswi Jurusan Fisika, Fakultas MIPA UGM ini setelah mengikuti latihan Menwa.
ZAKKI MUBAROK, Bantul
TENDA masih terpasang di halaman rumah Muryadi kemarin (21/1). Su-asana duka pun masih terasa di rumah yang terletak Dusun Ngijo, Srimulyo, Piyungan, ini. Sejumlah kerabat dan tetangga tampak sibuk mempersiap-kan pengajian Yasin di rumah itu.Pengajian yang diselenggarakan pada malam hari dengan mengundang ke-rabat serta warga sekitar ini untuk men-doakan Piky Puspitasari yang mening-gal Senin (19/1), usai mengikuti latihan pendidikan dasar (Diksar) resimen ma-hasiswa (Menwa) UGM. “Tradisi di daerah sini (pengajian) biasanya sam-pai tiga hari,” terang Junediono, paman Piky, saat ditemui Radar Jogja.
Sejak kecil, Piky tidak tinggal lagi bersama kedua orangtuanya. Itu se-telah ibunya, Sunarni, meninggal dunia saat Piky masih dua tahun. Piky kecil lantas dirawat dan tinggal bersama kakek-neneknya. Sementara Sutardi, ayahnya tinggal di salah satu kampung yang masih berada di wi-layah Srimulyo. “Pengajiannya di sini, karena ini rumah kakeknya (Muryadi),” ujarnya. Meski tak penuh merasakan belaian kasih sayang kedua orangtuanya, Piky tumbuh menjadi sosok remaja putri yang kuat.
Berbagai prestasi baik di tingkat sekolah maupun lingkungan rumah kakeknya, berhasil diperoleh. Saat duduk di bang-ku SMAN 5 Kota Jogja, Piky dipercaya sebagai komandan kontingen.”Di kampung Piky dipercaya sebagai sekretaris karang taruna,” ungkap Ju-ned menceritakan kiprah keponakan-nya yang terkenal sebagai sosok yang pintar bersosialisasi dan memiliki banyak teman ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, Piky yang relatif ini menemukan sosok ibu pada diri Hariyati, tak lain adik ibunya. Ke-pada Hariyati, Piky kerap berkeluh-kesah dan curhat mengenai berbagai persoa-lan pribadinya, meskipun mereka tak tinggal serumah. Termasuk cita-cita Piky yang ingin menjadi perwira karir.”Menjadi Menwa ini juga salah satu cita-cita Piky sejak lama,” tutur suami Hariyati ini.
Tak mengherankan jika Piky begitu antusias ketika akan meng-ikuti pelatihan diksar Menwa UGM. Tingkah laku remaja putri ini tampak tak seperti biasanya. Juned mence-ritakan, seminggu sebelum mengikuti diksar menwa Piky kerap selfie dengan meminjam ponsel salah satu sepupu-nya. Bahkan Piky pun sempat menu-lis personal status di BlackBarry. “Maaf, untuk beberapa minggu ke depan Hp off segalanya. Off lagi sedang Pendi-dikan Resimen Mahasiswa Yudha XXXVIII terimakasih”. Pesan ini pula yang menjadi status terakhir yang dituliskan Piky. “Se-minggu terakhir memang ketok ke-mayune,” urai bapak dua anak ini.
Juned menegaskan, pihak keluarga besar sudah menerima kematian Piky. Meskipun pada Senin (19/1) sempat terucap dari salah satu anggota kelu-arga untuk membawa kematian Piky ini ke ranah hukum. Bahkan, salah satu kerabat itu sudah siap untuk meng-urus proses visum. Namun setelah musyawarah keluarga besar Piky, akhirnya bersepakat untuk mengikhlaskan. “Kita juga sedikit mengerti tentang agama. Semakin cepat dikuburkan, akan semakin baik. Kalau divisum, kasihan Piky,” beber Juned.
Dia mengakui ada beberapa ang-gota tubuh bungsu dari tiga bersau-dara ini tampak lebam dan berwarna biru. Tetapi, warna biru ini diyakini karena jantung Piky tak bekerja maksimal, sehingga pemompaan darah terganggu. Warna biru ini bukan karena mengikuti diksar menwa.”Kakak Piky yang pertama juga mem-punyai penyakit jantung. Setelah dite-lusuri, kita menduga Piky seperti me-miliki penyakit keturunan,” tambahnya.
Dugaan ini juga diperkuat dengan surat kematian Piky yang dikeluarkan RS Sadewa. Dalam surat itu, tim dok-ter menyatakan penyebab kematian tidak diketahui, karena Piky masuk ke rumah sakit dalam kondisi jantungnya sudah tak berdenyut. (*laz/ong)