ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
DEKAT BAHAYA:Salah satu rumah di Dusun Selorejo, Ngargoretno, Salaman yang dekat tanah retak. Rekahan tanah dengan panjang 60 meter mengancam beberapa rumah warga.
MUNGKID – Ancaman bencana alam tanah longsor menghantui warga di Perbukitan Menoreh. Setidaknya, tiga rumah di Dusun Selorejo, Ngargoretno, Salaman berdiri di dekat tanah retak. Rekahan tanah dengan panjang 60 meter tersebut mengancam kehidupan warga setempat.Soim, salah satu Relawan Garuda Menoreh mengatakan, rekahan tanah membuat warga setempat was-was.
Tanah retak di-ketahui semakin hari semakin melebar. Akibat kondisi ini, satu rumah warga milik Kirman terpaksa harus digeser.Data rekahan tanah menyebut, pada Minggu (18/1) lebar rekahan tanah sekitar 30 sentimeter. Meski begitu, pada Selasa (20/1) rekahan tanah sudah ambles sekitar 1,5 meter
Awal mula rekahan muncul kali pertama pada Desember 2014. Rekahan tanah berbentuk seperti tapal kuda. “Rumah Kirman berada persis di atas rekahan tanah. Karenanya, harus diajukan lima meter agar rumah aman untuk dihuni. Me-ski begitu, tiang rumah belakang tetap bertumpu pada area ancaman tanah yang rekah,” papar Soim.
Ia meneruskan, secara suka-rela warga kerja bakti menggeser rumah Kirman yang sehari-hari seorang petani. Selain meng-geser rumah Kirman, warga juga kerja bakti menutup rekahan tanah yang diketahui semakin melebar. Warga menutup reka-han menggunakan tanah. “Warga menutup tanah yang retak. Tetapi tanah masih b ergerak terus. Ini dimungkinkan karena lahan tidak kuat menahan beban air hujan yang terus mengguyur. Bisa juga karena kontur tanah yang merupakan tanah liat,” paparnya.
Kadus Selorejo Samsudin, 40 mengungkapkan, rekahan tanah yang mengkhawatirkan itu secara keseluruhan mengancam tiga rumah warga di atas dan di bawah rekahan. Selain mengancam rumah kadus yang berpeng-huni empat jiwa, rumah lain yang terancam adalah milik Munjamil yang dihuni empat jiwa dan rumah Kirman yang dihuni dua jiwa.”Secara keseluruhan ketiga rumah dihuni 10 jiwa. Mereka hidup di tengah ancaman ben-cana longsor,” jelasnya.
Samsudin mengaku, kondisi ini memaksa ia dan warganya waspada. Sebagai antisipasi, warga Selorejo dan sekitarnya sering bekerja bakti menganti-sipasi longsoran. Saat hujan mengguyur wilayah Perbukitan Menoreh, ia mengaku tidak bisa tidur. Karena khawatir re-kahan tanah semakin melebar. “Kalau hujan turun, saya tidak bisa tidur karena khawatir. Untuk antisipasi rekahan melebar, saya sengaja menaruh seng di bawah rekahan agar bisa berbunyi jika muncul rekahan baru,” jelas-nya.
Dengan kondisi tersebut, ia berharap mendapat perhatian pemerintah. Tidak berupa bantuan uang, namun pem-bangunan talud. “Saya berharap ada uluran tangan dari pemerin-tah untuk membangun talud memanjang sekitar 30 meter dengan tinggi tiga meter. Talud ini agar bisa menahan material tanah,” jelas Samsudin.
Sementara itu, Kabid Kedaru-ratan dan Logistik Badan Penang-gulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo meminta warga selalu waspada. Warga perlu mening-katkan kewaspadaan jika ter-jadi hujan. (ady/hes/ong)