DWI AGUS/RADAR JOGJA
PUSTAKA TUA: Pengunjung menikmati pemeran isi buku Ambonia karya Francois Valentyn yang berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Selasa (20/1). Karya yang dipamerkan berupa desain-desain grafis yang sangat tua
JOGJA – Kekayaan alam Indo-nesia diabadikan oleh seorang penulis asal Prancis Francois Valentyn lewat buku. Buku ter-sebut terbagi menjadi tiga jilid yang diproduksi pada tahun 1726. Salah satu bukunya berjudul Amboina, juga dimiliki seniman Ong Hari Wahyu.Bersama Bentara Budaya Yog-yakarta (BBY), isi buku tersebut direpro dan dipamerkan menjadi Amboina 1726.
Karya yang dipa-merkan berupa desain-desain grafis yang sangat tua. Bahkan sebelum ditemukannya alat desain seperti era modern seperti saat ini.”Dalam buku ini, kita bisa mengenal ragam jenis flora fauna di Indonesia. Khususnya wilayah kelautan dan perairan di Ambon pada era tahun 1700-an. Ada sekitar 350 ikan yang diabadikan dan dicetak dengan teknik grafis intaglio,” kata cura-tor BBY Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, S.J (20/1).
Pria yang akrab disapa Romo Sindhu ini menjabarkan, buku itu pustaka tua. Di mana keragamanan ikan mampu diabadikan dengan cara yang indah. Dalam buku tua ini terbagi menjadi lima bagian tentang kekayaan alam Ambon.Uniknya untuk mengabadikan kekayaan, khususnya ikan meng-gunakan cara unik. Menurutnya setiap jenis ikan ditangkap se-cara manual satu per satu. Sete-lah itu diabadikan dengan cara teknik grafis yang terbilang kuno.”Para seniman ini, antara lain Dirk Jongman Ferilpf, Otto Elliger Yunior Pecit, dan JC Philips. Tanpa adanya teknologi menunju-kan ketekunan pada waktu itu. Teknik ini tidak mudah, terlebih harus menangkap ikan satu per satu,” kata Romo Sindhu.
Ong pun menjelaskan tentang teknik yang digunakan untuk grafis. Teknik grafis intaglio lebih dikenal sebagai teknik cetak dalam. Teknik ini digunakan untuk mencetak gambar-gambar yang jumlahnya cukup banyak.
Awalnya plat tembaga atau timah diukir dengan pola objek. Selanjutnya tinta ditorehkan pada hasil ukiran plat. Kemudian plat ditekan pada media kertas atau kanvas. Tinta yang tertinggal pada ukiran inilah yang nantinya menjadi grafis wujud dari objek.”Ini sangat rumit, karena teknologi pada waktu itu belum maju. Butuh ketelatenan yang tinggi. Lihat saja pada hasil yang dipamerkan. Detailnya sangat terlihat jelas, sesuatu yang luar biasa untuk tahun 1726,” katanya.
Romo Sindhu menambahkan, buku ini adalah sebuah pustaka yang penting. Dokumentasi flora dan fauna pada waktu itu mampu menjadi ensiklopedia. Bahkan, bisa saja saat ini jumlah flora dan fauna sudah menyusut.Beberapa faktor seperti punah menjadi berhentinya pengeta-huan. Sehingga menurutnya upaya dari Valentyn patut dijaga. Teru-tama sebagai aset kekayaan yang dimiliki Indonesia.”Sebenarnya Valentyn membuat tiga buku dalam serial kawasan waktu itu. Selain Amboina ada Banda, dan Tonkin, Cambodia en Siam. Semuanya diterbitkan oleh Joannes Van Braam en Gerard Onder De Lin-den dari Dordrecht, Amsterdam tahun 1726,” tuturnya.
Sebagai pemilik buku ini, Ong boleh dibilang beruntung. Buku ini didapatkan pada masa dirinya masih menimba ilmu. Secara tak sengaja, dia mene-mukan saat berburu buku lawas di shopping centre.”Tahunnya saya lupa, tapi saya ingat waktu itu harganya Rp 150 ribu. Saya tertarik, karena desainnya benar-benar indah dan bagus. Apalagi melihat tahun pembua-tannya, pasti menjadi sebuah cerita,” ungkapnya. (dwi/jko/ga)