YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
PERAWATAN LANJUT: Tiga karyawan PT MTG yang jadi korban keracunan masih opname di RS Panti Nugroho, Pakem, kemarin (22/1).
SLEMAN – Keracunan masal yang menimpa ratusan karyawan PT Mataram Tunggal Garment (MTG) mendorong Pemkab Sleman turun tangan. Dinas Kesehatan (Dinkes) menetapkan peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa (KLB). Kepala Dinkes Mafilindati Nuraini menurunkan tim untuk menyelidki kasus ini. Langkah awal yang dilakukan adalah menguji sisa makanan yang menjadi jatah makan siang karyawan Rabu (21/1) lalu. Menu nasi pecel dengan lauk telor ceplok, kerupuk, dan gudangan, diduga sebagai biang keracunan di pabrik garmen ini
Sampel makanan pun diuji di Balai Laboratorium Kese-hatan. “Ada tiga sampel dari tiga penyedia katering,” kata Mafi-lindati kemarin (22/1).
Ia men-duga penyebab keracunan adalah bakteri. Itu dari gejala yang ditimbulkan para korban yakni pusing, mual-mual, dan muntah. Namun untuk kepastiannya, masih menunggu hasil uji lab sekitar dua minggu lagi. Tak hanya uji sampel makanan, dinas juga menelusuri jejak penyedia katering.
Menurut Linda, begitu sapaan akrab Mafilindati Nuraini, dua dari tiga penyedia katering siang itu tak memiliki sertifikat Hygiene Sanitasi Jasa Boga. Namun, itu bukan berarti menu dari katering tak ber-sertifikatlah yang memicu ke-racunan masal. “Mengenai tindakan kepada penyedia katering menjadi kewenangan pihak yang berwajib,” jelasnya.
Linda menegaskan, pihaknya hanya berwenang meneliti kasus tersebut, mengingat kejadian itu dikategorikan KLB.Kabag Personalia Umum PT MTG Kismaryono mengungkap-kan, pihak perusahaan telah mengklarifikasi kejadian terse-but kepada penyedia katering. Hingga siang kemarin, proses pemeriksaan internal belum selesai. Terkait biaya perawatan ka-ryawan di rumah sakit, Kisma-ryono mengaku telah mene rapkan program pemerintah, yakni BPJS. “Ini masuk kriteria trauma center,” katanya.
Kapolsek Ngaglik Kompol Partono mengatakan, untuk menetapkan ada tidaknya unsur pelanggaran hukum terkait ka-sus keracunan masal ini, masih dibutuhkan data pendukung. Hasil uji laboratorium pada sisa makanan, salah satunya.Polisi masih memeriksa dan meminta keterangan para saksi yang terlibat dalam kasus ini. Selan memanggil manajemen perusahaan, polisi juga meminta keterangan dari penyedia katering dan karyawan, khususnya korban. “Masih lidik, sementara di-fokuskan untuk kronologis kejadian dulu. Pemeriksan kor-ban setelah kondisi membaik,” tuturnya.
Keracunan masal yang me-nimpa ratusan karyawan pe-rusahaan garmen ini sebagian besar adalah perempuan. Seki-tar satu jam usai menyantap jatah makan siang, Rabu (21/1), belasan karyawan mengeluh pusing yang disertai mual dan muntah-muntah. Mereka lantas dilarikan ke Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, yang berjarak sekitar 6 kilometer dari pabrik.Hingga kemarin siang, pihak rumah sakit mencatat sedikitnya 110 orang menjalani perawatan. Sembilan di antaranya harus opname karena kondisinya be-lum membaik. Tiga di antaranya dipulangkan pada Rabu malam (21/1). Tiga lainnya diper bolehkan pulang kemarin sore.
Sementara tiga orang sisanya harus menjalani observasi di Bangsal Yosef karena masih mengeluh mual dan pusing. Beberapa korban yang sempat dirawat pada Rabu (21/1) malam, kembali ke rumah sakit untuk perawatan. Sebagian yang dating adalah pasien baru.Direktur Rumah Sakit Panti Nugroho Tandean Arif Wibowo mengungkapkan, para korban mengalami kekurangan cairan yang berisiko dehidrasi. Per-awatan yang diberikan dengan infus dan obat antimuntah, serta penetral asam lambung dan antibiotik. “Korban yang belum membaik masih harus menjalani perawatan. Lainnya rawat jalan,” jelasnya.
Salah seorang korban rawat inap, Deny Dektayani Kusu-wardani, mengaku trauma me-ngonsumsi makanan yang dise-diakan perusahaan. Ke depan, dia tak mau lagi makan menu jatah dari pabrik. “Saya mau bawa bekal sendiri dari rumah,” ungkap Deny yang masih me-rasa pusing pada bagian kepala belakang. (yog/laz/ong)