Florence Sihombing
JOGJA – Kasus penghinaan masyarakat Jogjakarta yang melibatkan mahasiswi Magister Kenotariatan UGM Florence Sihombing terus bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Jogja. Sebagai bentuk perlawanan atas sangkaan jaksa, Flo, sapaan akrab Florence Sihombing, berniat mengajukan saksi pakar teknologi informasi (TI).
Ahli TI ini diajukan karena jaksa menuding Flo telah me lakukan penghinaan dan pencemaran nama baik warga Jogjakarta melalui jejaring sosial Path tahun lalu.”Pekan depan kami ajukan ahli atau pakar TI,” ujar pe-nasihat hukum Florence, Zahru Arqom, usai mengikuti sidang lanjutan di PN Jogja, kemarin (22/1).
Namun demikian, Zahru enggan menyebutkan siapa pakar TI yang bakal diajukan ke pengadilan untuk me-ringankan dakwaan jaksa terhadap kliennya itu. Selain pakar TI, pihaknya akan men-ghadirkan teman Flo di akun Path se bagai saksi meringan-kan. Kehadiran teman Flo ini untuk mengungkap siapa saja pihak lain yang ikut menyebarluaskan postingan status Path dengan cara meng-capture. Sebab, ada temuan bahwa hasil capture tersebut ke mudian disebarkan melalui pesan whatsapp.”Kami tidak tahu siapa saja yang meng-capture, ke-nyataannya capture itu ter sebar tidak hanya lewat Path saja,” tambah Zahru.
Pada sidang kemarin, Flo menyerahkan sejumlah do-kumen tertulis kepada majelis hakim yang dipimpin Hakim Ketua Bambang Sunarta SH. Kemudian sidang ditunda dan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan ahli atau saksi meringankan dari pihak Flo.Sebelumnya, jaksa meng-hadirkan ahli pidana UII Jogja Muzakkir. Dalam ke-saksiannya, Muzakkir me-ngatakan, ungkapan kekesalan Flo yang diunggah dalam me-dia sosial Path memenuhi rumusan Pasal Penghinaan dalam KUHP.
Pasal peng hinaan diketahui menjadi acuan dakwaan Pasal 27 ayat 3 jo Pasal 45 ayat 1, dan Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 ayat 2 Undang-Undang Informasi dan Tran-saksi Elektronik (UU ITE).Sedangkan ahli bahasa Fakutas Bahasa dan Sastra UNY Ibnu Santoso mengatakan, kalimat Jogja Miskin, Tolol dan Tak Berbudaya yang diposting Flo dalam akun Path, termasuk unsur menghina dan me-rendahkan masyarakat Jogja-karta. “Kalimat tersebut sangat merendahkan harkat dan martabat warga Jogjakarta,” jelasnya. (mar/laz/ong)