BANTUL – Mayoritas sekolah, baik tingkat dasar, menengah pertama, maupun menengah atas diminta kembali menerapkan Kurikulum 2006 mulai semester genap tahun ini. Kebijakan yang terkesan ‘mendadak’ ini membuat dinas pendidikan dasar (Dikdas) maupun dinas pendidikan menengah dan non formal (Dikmenof) harus memutar otak. Salah satu penyebabnya, kedua dinas ini telah membeli seluruh buku panduan dan materi Kurikulum 2013 untuk guru maupun murid. Kepala Dinas Dikdas Bantul Totok Sudarto mengatakan, seluruh buku panduan dan materi Kurikulum 2013 untuk guru dan murid telah didistribusikan ke seluruh sekolah.
Pengadaan buku ini menelan anggaran Rp 4,5 miliar. Anggaran ini berasal dari dana alokasi khusus (DAK) pendidikan. “Buku Kurikulum 2013 akhirnya dijadikan sebagai referensi dan pengayaan,” terang Totok, kemarin (22/1).
Kebijakan ini ditempuh untuk menghindari istilah mubazir menyusul besarnya anggaran yang digelontorkan untuk pengadaan buku panduan dan materi guru maupun murid. Meski sebagian besar kembali ke Kurikulum 2006, Totok memastikan ketersedian buku panduan dan materi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) ini tersedia. “Bukunya (Kurikulum 2006) masih ada. Tidak hilang maupun dihilangkan,” tegasnya.
Totok menyebutkan, jumlah sekolah dasar (SD) se-Bantul sebanyak 360 unit. Dari jumlah ini, 15 diantaranya tetap menerapkan Kurikulum 2013. Ini karena ke-15 sekolah ini telah menerapkan Kurikulum 2013 sejak satu setengah tahun lalu atau tiga semester. Lalu, dari 87 SMP se-Bantul hanya 6 di antaranya yang tetap bertahan menerapkan Kurikulum 2013. Selain berdasar Permendikbud No.160/2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013, keputusan penerapan Kurikulum 2013 ini karena sekolah-sekolah tersebut dari awal memang didesain sebagai pilot project. “DIJ sebenarnya sudah siap, tetapi karena ini acuannya adalah nasional kami ya harus toleran,” tandasnya.
Selain buku panduan dan materi, kebijakan kembali ke Kurikulum 2006 ini juga berdampak pada berkurangnya jam mengajar bagi sebagian guru. Sebab, jam mengajar bagi guru mata pelajaran tertentu otomatis berkurang drastis bila kembali ke Kurikulum 2006. Menurutnya, padatnya program pembelajaran pada Kurikulum 2013 membuat jam mengajar guru dalam seminggu bisa menembus 36 jam. Ini berbeda dengan Kurikulum 2006. “Makanya jam mengajar guru harus dioptimalkan, tapi harus tetap sesuai dengan dapodik (data pokok pendidikan),” pintanya.
Optimalisasi jam mengajar bagi guru ini untuk mensiasati angka 24 jam dalam seminggu. Karena, guru yang mengajar kurang dari 24 jam dalam seminggu tidak akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Tujuannya, agar kebijakan kembali ke Kurikulum 2006 ini berjalan lancar dinas dikdas juga melayangkan surat edaran kepada kepala UPT PPD, pengawas sekolah, dan kepala sekolah. Dalam surat itu, mereka diminta untuk memfasilitasi para guru agar jam mengajar tetap terpenuhi 24 jam dalam seminggu.Sebagaimana dikdas, mayoritas sekolah di bawah naungan Dikmenof juga kembali ke Kurikulum 2006. Kepala Dinas Dikmenof Bantul Masharun Ghazali menyebutkan, jumlah SMA se-Bantul sebanyak 34 unit. Adapun SMK sebanyak 49 unit. “SMA yang tetap memakai Kurikulum 2013 ada enam sekolah dan SMK ada lima,” tambahnya.
Masharun memastikan tidak akan ada kecemburuan sosial dengan perbedaan penerapan kurikulum ini. Toh, setiap sekolah pada 2019 juga harus menerapkan Kurikulum 2013. Terlebih lagi, baik Kurikulum 2013 maupun Kurikulum 2006 memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Lalu, bagaimana nasib buku panduan dan materi Kurikulum 2013 untuk guru dan murid? Masharun menjelaskan, hampir 98 persen seluruh sekolah di Bantul telah menerima buku tersebut. Namun demikian, kebijakan penerapan Kurikulum 2006 ini dipastikan tak akan menimbulkan persoalan. “Karena sudah kami lakukan sosialisasi. Ada pun anggaran pengadaan buku Kurikulum 2013 sebesar Rp 4,2 miliar,” bebernya. (zam/din/ong)