HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
DIPROSES: Wartawan RRI Jogja Harun Santoso (paling kanan) didampingi pimpinan bidang pemberitaan RRI saat melapor ke Mapolres Kulonprogo, kemarin (22/1). Harun merupakan salah satu korban pelemparan batu dalam aksi penolakan WTT terhadap pemasangan patok bandara di Glagah.
KULONPROGO – Insiden pelemparan batu saat pemasangan patok koordinat areal bandara di Pedukuhan Sidorejo Glagah, Temon akhirnya berlanjut ke polisi. Salah satu korban pelemparan batu yang juga wartawan RRI Jogja, Harun Santoso, akhirnya melaporkan kasus itu ke Polres Kulonprogo, kemarin (22/1).
Harun datang melapor ke Mapolres Kulonprogo didampingi empat pimpinan bidang pemberitaan RRI Jogja, di antaranya Kasi Liputan Berita dan Dokumentasi Atang Basuki. Juga didampingi oleh Kabid Pemberitaan RRI Jogja Bambang Dwiyana, Staf Dokumentasi RRI Jogja Bambang Sulaksono dan Kasi Olahraga Ernal Rosa.Kabid Pemberitaan RRI Jogja Bambang Dwiyana mengungkapkan, pihaknya tetap melaporkan kasus pelemparan batu hingga menyebabkan reporternya menjadi korban. “Kami merasa wajib menyikapi ini, karena tugas wartawan sudah jelas dilindungi undang-undang. Saya justru khawatir jika dibiarkan akan mejadi preseden buruk dikemudian hari,” tegasnya.
Bambang menjelaskan, salah satu tugas wartawan yakni menyampaikan fakta di lapangan kepada khalayak luas. Namun dengan peristiwa ini, jelas membuat pekerjaan wartawan menjadi tidak nyaman. “Peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran bagi semuanya. Saya juga berharap kejadian ini merupakan yang terakhir dan tidak pernah terulang kembali khususnya di Kulonprogo,” jelasnya
.Bambang menambahkan, pihaknya juga mendesak aparat kepolisian segera menindaklanjuti peristiwa ini kendati akhir dari kasus ini akan dilihat dari perkembangan selanjutnya. “Kami juga berharap, pelakunya berani mengakui kesalahannya secara jantan dan meminta maaf. Unjuk rasa atau aksi protes itu wajar dan boleh dilakukan siapa saja, asal tetap mengindahkan etika dan tidak anarki,” ujarnya.
Kapolres Kulonprogo AKPB Yulianto mengatakan, laporan resmi atas kasus pelemparan batu dalam aksi warga WTT saat menolak pemasangan patok di Desa Glagah sudah diterimanya. Pelapornya adalah rekan wartawan, sementara untuk anggota yang terkena lemparan batu juga sudah melapor namun hanya secara lisan dan akan disikapi secara teknis.”Laporan dari rekan wartawan RRI yang menjadi korban resmi sudah kami terima. Kami tentu akan melakukan penyelidikan semaksimal mungkin. Pelapor kini masih diperiksa dan ada beberapa saksi yang juga akan mnenguatkan keterangan, selanjutkan kami akan lidik ke TKP, supaya kasus ini menjadi terang,” ucap Yulianto.
Dicecar pertanyaan apakah kepolisian sudah mengantongi sejumlah nama pelaku pelemparan batu, diamenyatakan pelaku belum jelas. Terlebih, secara resmi laporan baru masuk dan hasil penyelidikan belum diterima. “Sementara tidak ada istilah berspekulasi dalam sebuah kasus hukum. Yang pasti secara logika pelakunya tentu warga yang terlibat dalam aksi terebut, karena batu berasal dari kerumunan massa,” ujarnya
Atas insiden tersebut, Yulianto secara langsung juga meminta maaf kepada wartawan. Menurutnya, aksi pelemparan batu itu tidak terprediksi sebelumnya. Namun pada prinsipnya, polisi paling bertanggung jawab saat mengamankan semua kegiatan di masyarakat. Seperti kegiatan pemasangan patok bandara, jaminan keamanan awalnya memang difokuskan kepada para permasangan patok dari tim Persiapan Pembangunan Bandara Baru (P2B2). Namun saat ada warga yang menonton dan wartawan yang tengah bertugas, mereka juga menjadi objek yang harus diamankan termasuk juga warga WTT yang menolak. (tom/ila/ong)