Dua Katering Tak Kantongi Sertifikat, Satu Kedaluwarsa

 
 
SLEMAN – Dinas Kesehatan Sleman terus menginvestigasi kasus keracunan masal yang menimpa karyawan PT Mataram Tung-gal Garment (MTG) Rabu lalu (21/1). Dinas mencatat hingga kemarin siang jumlah kor-ban terus bertambah menjadi 149 orang. Sehari sebelumnya (22/1), korban keracunan tercatat ada 110 orang.
Dari jumlah 149 orang itu, sebagian besar dirawat di Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, dan sebagian lagi ber-obat secara pribadi ke dokter umum.”Atas kasus keracunan masal ini, kami cari data pendukung untuk kajian epido-mologi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Ma-filindati Nuraini kemarin (23/1). Nantinya, kasil penelitian epidomologi akan disinkronkan dengan uji laboratorium terhadap sampel makanan jatah makan siang seharga Rp 5 ribu dari pabrik
Menu nasi pecel dengan lauk telor ceplok dan kerupuk, serta sayuran bayam, tauge, dan kacang panjang, ditambah seiris se-mangka, diduga sebagai penye-bab keracunan masal.Untuk mencegah terulangnya kasus serupa, Linda, begitu sa-paan Mafilindati, mengingatkan para pengusaha lebih selektif memilih penyedia katering. Pe-ringatan itu berlaku untuk semua perusahaan. Termasuk MTG yang untuk kali ke dua karyawannya mengalami keracunan masal.
Sebelumnya, kasus serupa ter-jadi akibat keracunan ikan tong-kol pada Februari 2004.Dalam pengawasan dinas, se-tiap perusahaan katering harus ada kewajiban bagi perusahaan katering mengurus sertifikat Hygiene Sanitasi Jasa Boga. Itu untuk menjamin kebersihan dan kesehatan makanan yang disa-jikan bagi konsumen. Dalam kasus keracunan masal PT MTG, dua dari tiga perusa-haan penyedia katering tak mengantongi sertifikat. Kalau pun satu yang telah bersertifikat, juga telah habis masa berlakunya, alias kedaluwarsa sejak tahun lalu. “Seharusnya, setiap tiga tahun, penyedia katering mem-perbarui sertifikat dengan men-gujikan sampel makanan,” ung-kapnya.
Sayangnya Linda enggan me-nyebutkan perusahaan katering dimaksud. Alasannya, hingga kemarin (23/1) belum ada buk-ti jika penyebab keracunan be-rasal dari menu salah satu atau penyedia katering perusahaan di Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, itu. “Nggak usah disebut dulu. Yang jelas semuanya dari Sleman,” katanya.
Linda mengatakan, dalam se-tiap pembinaan perusahaan, masalah katering selalu men-jadi topik serius yang dibicarakan. Hal lain yang patut diingat, me-nyisihkan minimal satu porsi menu (paket) makanan dari penyedia katering. Itu untuk keperluan penelitian jika ter-jadi kasus keracunan masal. Peringatan itu diberlakukan juga bagi setiap orang penyel-enggara suatu hajatan yang menghadirkan orang banyak. “Itu wajib (menyisihkan sampel makanan),” tegasnya.
Merujuk kasus keracunan ma-sal karyawan MTG, Linda men-duga ada jenis makanan yang tercemar bakteri atau terkonta-minasi zat tertentu yang tak selayaknya ada pada makanan. Uji laboratorium bukan hanya pada menu makanannya, juga dari bahan, hasil olahan, dan wadahnya. Menurut Linda, sayur mayur paling mudah ditumbuhi bak-teri. Apalagi kondisinya basah dan bukan termasuk barang awet. Bakteri bisa muncul jika cara memasaknya kurang sempurna. Atau jeda antara memasak dengan dikonsumsinya bahan tersebut terlalu panjang. “Banyak kemungkinan. Itulah sebabnya, kenapa uji laboratorium butuh waktu cukup lama,” jelas Linda.
Nantinya, dari uji laborato-rium bisa diketahui jenis bakteri-nya, angka kuman, dan zat-zat lain yang tak seharusnya terkandung dalam bahan makanan. Linda menyebutkan, kasus keracunan masal dikategorikan kejadian luar biasa (KLB) ka-rena objek yang diduga sebagai sumber penyebab berasal dari barang yang sama.
Selain itu, penderitanya lebih dari lima orang. Mereka mengalami ge-jala serupa pada periode waktu yang sama. Manajemen PT MTG belum memberikan keterangan terkait perkembangan penyelidikan internal terhadap kasus tersebut. Radar Jogja sudah mencoba menghubungi salah seorang pe-tinggi perusahaan melalui telepon seluler, namun tidak direspons, meski terdengar nada sambung. Pesan singkat “SMS” yang diki-rimkan juga tak berbalas.
Sebelumnya, Majaner Akunting PT MTG Falentina Dewi Yuli-anti mengaku untuk sementara menghentikan distribusi menu jatah makan dari penyedia ka-tering. Selanjutnya, pihak peru-sahaan melakukan penyelidikan internal untuk mencari penyebab keracunan masal.Sementara itu untuk per-kembangan para korban yang dirawat di RS Panti Nugroho, hingga kemarin (23/1), tinggal satu orang. Sisanya sudah dii-zinkan pulang, karena kondisi-nya membaik. (yog/laz/ong)