Berjanji Mencari Pelaku Kasus Pelemparan Batu di Desa Glagah

 
KULONPROGO – Belasan pengurus pagu-yuban Wahana Tri Tunggal (WTT) dan satu orang mahasiswa Sekolah Bersama (Sekber) mendatangi Media Centre Kulonprogo, ke-marin (23/1). Kedatangan mereka untuk meminta maaf kepada seluruh awak media yang bertugas di Kulonprogo atas insiden pelemparan batu saat ricuh pematokan koor-dinat lahan bandara di Desa Glagah. Pelemparan batu itu mengakibatkan wartawan RRI Jogja (Harun Susanto) meng-alami luka di bagian bahu dan pipi. “Kami mohon maaf kepada wartawan. Khususnya Harun.Karena kejadian tersebut di luar kemampuan kami dalam menghalau warga yang bereaksi secara spontan dalam menanggapi pematokan lahan,” kata Ketua WTT Martono.
Martono menambahkan, sejuah ini WTT sudah berupaya mencari pelaku pelempa-ran batu, namun belum mendapatkan hasil. “Kami berjanji, jika pelaku sudah berhasil ditemukan, langsung akan kami bawa ke sini untuk menemui wartawan dan me-minta maaf secara langsung,” tambahnya.
Menurut Martono, pemahaman warga tentang kinerja wartawan dan dinamika media massa masih sebatas permukaan. Sehingga saat ada pemberitaan yang tidak disukai langsung menyalahkan media massa yang bersangkutan. “Saya selalu menerangkan, jika wartawan kerjanya hanya menulis sehingga jika tidak suka dengan pemberitaan bisa ditanyakan ke nama orang yang memberikan keterangan di wartawan itu. Kami berharap silaturahmi bisa kembali terjalin,” imbuhnya.
Ketua Paguyuban Wartawan Kulonprogo (PWK) Sri Widodo menerima permintaan maaf dari WTT dan berkeinginan tidak ada lagi intimidasi terhadap wartawan saat melakukan peliputan dan pemberitaan terkait WTT. “Tidak hanya kasus pelem-paran batu yang mengenai rekan wartawan dari RRI, beberapa kali saat melakukan peliputan, wartawan juga memperoleh perkataan yang kurang sepantasnya dari warga,” ujar wartawan senior tersebut.
Widodo menjelaskan, selama ini warta-wan selalu berupaya membuat pemberi-taan yang berimbang, tentang rencana pembangunan bandara di Kulonprogo. Itu dilakukan dengan meminta konfir-masi dari kedua belah pihak, yakni tim pembangunan dan juga warga WTT.
Mahasiswa Sekber Zulham Moti menam-bahkan, terkait keberadaan mahasiswa sekber di tengah WTT bukan untuk mem-provokasi, melainkan memberi dukungan. Mereka datang sebagai bentuk solidaritas. “Kehadiran mahasiswa tidak memperke-ruh suasana,” ujarnya.
Zulham menyatakan, keterlibatan ma-hasiswa sebagai bagian dari masyarakat bukan sekali ini, khususnya dalam konflik agraria yang terjadi di Indonesia. “Ini juga menjadi bagian dari uji teori yang kami peroleh di kampus,” ucapnya.
Insiden pelemparan batu itu terjadi Rabu (21/1). Saat itu, Wartawan RRI Harun Susanto bersama para jurnalis di Kulon-progo tengah melakukan peliputan upaya pemasangan patok bandara baru di Desa Glagah. Proses pemasangan patok itu mendapat perlawanan warga Wahana Tri Tunggal (WTT), mereka menghadang tim bandara dan berupaya menggagalkan pe-masangan patok di tanah milik warga.
Pemasangan patok akhirnya gagal, dan berakhir ricuh. Warga melakukan aksi dorong mengusir aparat dan tim pemasang patok. Ketika ketegangan masih terjadi di Jl Daendels tepatnya di Pedukuhan Sido-rejo, mendadak batu melayang dari arah kerumunan massa WTT, dan salah satunya mengenai Harun. (tom/din/ong)