DWI AGUS/RADAR JOGJA
PAMITAN: Ismail Basbeth (tiga dari kiri, depan) usai pemutaran film Another Trip to The Moon.

Syuting di Tawangmangu, Simbol Gantikan Dialog

Satu lagi film karya anak Jogjakarta yang akan bersaing di dunia internasional. Berjudul Another Trip to The Moon , film garapan Ismail Basbeth ini akan bertarung dalam ajang International Film Festival Rotterdam 2015. Film ini masuk dalam ketegori Tiger Awards Competition.
DWI AGUS, Jogja
JUMAT siang (23/11) suasana berbeda begitu terasa di Lembaga Indonesia Prancis (LIP), Institute Francais d’Indonesie (IFI) Sagan Jogjakarta. Puluhan orang terlihat berkerumun di tempat ini. Beberapa terlihat mengobrol, sedangkan lainnya sibuk men-ghabiskan santap siangnya.
Siang itu menjadi hari bersejarah bagi sutradara muda Ismail Basbeth. Film pan-jang karyanya Another Trip to the Moon secara perdana diputar di mini theater LIP/IFI Sagan, Jogja. Meski diputar secara ter-batas, antusiasme tetap tinggi.”Pemutaran terbatas ini ibaratnya pamit sebelum berangkat ke Rotterdam.Semoga bisa memberikan yang terbaik untuk dunia sineas Indonesia, khususnya Jogjakarta,” kata Basbeth seusai pemutaran film (23/11).
Pria kelahiran Wonosobo 12 September 1985 ini menjelaskan secara runut lakon dalam filmnya. Film ini bergenre drama fantasi dengan pendekatan surrealist dalam bercerita. Secara jujur dia bercerita bahwa film ini bermodalkan budget pembuatan yang terhitung amat kecil.Film ini memiliki dua latar belakang tem-pat yang berbeda. Berawal dari kehidupan dua orang wanita Asa yang diperankan oleh Tara Basro dan Laras yang diperankan Ratu Anandita, di hutan
Asa adalah anak dari seorang dukun yang diperankan Endang Sukeksi.Diceritakan, Asa memilih hidup terpisah dari ibunya. Ia memilih hidup di hutan untuk menda-patkan kebebasan dan kehidu-pannya sendiri. Kehidupan ini digambarkan sederhana dan menyatu dengan alam.
Pada suatu hari Manusia Anjing diperankan Cornelio Sunny, orang kepercayaan ibu Asa datang untuk menjemput dan memba-wanya kembali pulang ke kota. Sampai di kota, seluruh kehidu-pan Asa berubah.”Akhirnya Asa berkeluarga dan menjadi pengganti ibunya se-bagai dukun. Namun di sini Asa merasa ini bukan dunianya. Se-hingga ia memilih untuk kem-bali ke hutan dan hidup meny-endiri,” ungkapnya.
Film yang digarap dengan gaya fantasi ini memang terbilang unik. Beberapa simbol dihadir-kan oleh Basbeth dan timnya. Seperti munculnya sosok UFO ketika mengambil jasad Laras yang sudah meninggal. Atau peralihan dari hutan ke perko-taan melalui perantara bus pa-riwisata.Basbeth pun tidak menampik adegan ini akan menimbulkan banyak pertanyaan. Ini karena seakan ada sesuatu yang janggal.
Namun dengan jeli ia menjelas-kan mengapa menghadirkan simbol-simbol ini.Seting waktu yang mengangkat masa pra sejarah membuat sistem kepercayaan tertentu. Menurut-nya, pada zaman dahulu, manu-sia belum mengenal Tuhan. Manusia pra sejarah ini lebih sering menyembah alam, batu atau benda lainnya. Sehingga UFO dihadirkan sebagai bentuk fantasi pemujaan pada waktu itu.
“Lalu bus pariwisata yang ber-henti di SPBU mungkin juga jang-gal. Biasanya time traveler disim-bolkan dengan kereta api uap. Karena mahal dan dana kita me-pet, akhirnya memutar otak. Sehingga dipilihlah bus pariwi-sata sebagai simbolnya,” ungkap suami Lija Anggraheni ini.
Produksi film ini mengambil lokasi sekitar daerah Tawang-mangu, Karanganyar, Agustus 2014 lalu. Keunikan dalam film ini adalah tidak adanya dialog dalam setiap adegan. Namun dialog digantikan dengan bebe-rapa simbol penguat naskah.Dalam film ini Basbeth juga mengusung beberapa unsur kearifan lokal. Seperti upacara penguburan jenazah di Toraja. Hingga penggunaan bahasa Sansekerta yang sudah menga-lami perekaan sebagai mantera dukun.
“Ada juga kelinci, ikan yang terbuat dari plastik. Ini peralihan ketika Laras meninggal dan Asa hidup sendiri di hutan. Hingga akhirnya Asa kembali ke rumah, dan perlahan muncul kehidupan sebagai manusia,” kata Basbeth.
Dalam film ini Basbeth juga menggandeng koreografer mu-da Mila Rosinta Totoatmojo. Mila pun menciptakan bebera-pa koreografi. Ia melibatkan sebanyak enam penari dalam film ini. Dalam film ini, Mila juga berperan sebagai kepala pelayan sang dukun.Basbeth pun seakan membe-baskan Mila untuk mengeksplo-rasi gerak. Apalagi dirinya memang belum pernah bersinggungan dengan tarian.
Namun untuk penyesuaian film, beberapa koreo terpaksa dipotong. Tujuan-nya untuk menyelaraskan dengan beberapa naskah film ini.”Pastinya berbeda antara por-si panggung dengan porsi film. Menghadirkan beberapa gerak simbolis tubuh. Sehingga mam-pu menghadrikan konsep ima-jinatif. Bahwa anjing dan tubuh manusia bisa digambarkan dengan sebuah gerakan,” kata Mila.
Film Another Trip to the Moon ini akan diputar perdana untuk publik (world premier) di Inter-national Film Festival Rotterdam. Pemutaran tepatnya pada 26 Januari 2015 jam 19.00 waktu setempat. Selain Basbeth, Tara Basro juga rencananya hadir dalam pemutaran ini.Tentang Tiger Awards Com-petition, Basbeth menjelaskan ini adalah ajang penghargaan film panjang.
Kompetisi ini fokus pada film panjang pertama dan kedua dari setiap sutradara. Karya perdana ini akan menjadi prediksi masa depan per-kembangan sinema dunia.”Salah satu sutradara yang film pertamanya pernah masuk da-lam kompetisi ini adalah Christopher Nolan, dengan filmnya Following (1998). Dia juga sutradara film Memento (2000) dan Trilogy Batman: Batman Begins (2005), The Dark Knight (2010) dan The Dark Knight Rises (2012),” kata Basbeth.
Selain Basbeth, film ini juga melibatkan Andhy Pulung dari Super 8mm Studio. Bekerjasama dengan Suryo Wiyogo dan Cor-nelio Sunny dari Hide Project Films. Ada pula Amir Pohan dari Buttonijo Films. Selain Bas-beth penulis naskah juga ada BW. Purba Negara dan proses pengembangan skenario oleh Dirmawan Hatta. (*/laz/ong)