RADAR JOGJA FILE
TINGGAL KENANGAN: Pedagang di Pasar Bantul membersihkan sisa-sisa bekas lapak. Foto ini diambil 11 Juli 2014 silam. Sejumlah bangunan di pasar ini direhab. Karena itu, untuk sementara waktu sebagian pedagang akan dipindah di depan serta di samping kanan pasar. Proses rehab itu membutuhkan waktu hingga tujuh bulan.
BANTUL – Meskipun proses pembangunan baru saja selesai, puluhan pedagang baru sudah mulai berbondong-bondong mendaftar di Pasar Bantul. Bahkan, sampai saat ini setidaknya sudah ada sekitar 50 pedagang baru yang mendaftar. “Rata-rata mereka ini pedagang barang becah belah dan pakaian,” terang Kepala Kantor Pengelolaan Pasar (KPP) Bantul Hermawan Setiaji, kemarin (25/1).
Hermawan menyebutkan, ada 750 los dan kios di dalam Pasar Bantul. Dari jumlah itu, 650 los dan kios di antaranya diperuntukkan bagi pedagang lama. Ada pun 100 kios dan los sisanya sengaja dipersiapkan untuk para pedagang baru. Banyaknya penambahan bangunan los dan kios baru ini sengaja dilakukan untuk mengantisipasi adanya pedagang baru selama 20 tahun ke depan. “Los dan kios bagi pedagang baru ini di lantai dua,” ujarnya.
Munculnya para pedagang baru ini sudah tampak saat proses pembangunan Pasar Bantul yang dimulai pada tahun lalu. Kala itu bersama dengan pedagang lainnya, mereka ikut berjualan di lokasi sementara. Nah, setelah proses pembangunan selesai, mereka pun ikut bermigrasi ke lokasi bangunan bersama para pedagang lama. “Ada beberapa tahap. Migrasi tahap pertama awal bulan. Kemudian tahap kedua pada pertengahan bulan,” jelasnya.
Hermawan menargetkan migrasi seluruh pedagang ke lokasi baru dapat selesai pada pertengahan bulan depan. Sebagai bentuk komitmen melindungi dan mengembangkan para pedagang kecil, KPP berencana merenovasi empat pasar tradisional pada tahun ini. Anggaran sekitar Rp 13 miliar telah dipersiapkan untuk proses renovasi yang diagendakan mulai pada bulan April atau Mei ini.”Pasar Sorobayan menelan anggaran Rp 8,2 miliar. Anggarannya sharing dengan provinsi,” urainya.
Lalu, anggaran sebesar Rp 2 miliar yang berasal dari APBD provinsi untuk membiayai proses renovasi Pasar Ngipik. Adapun renovasi Pasar Grogol dan Pasar Koripan menelan anggaran Rp 1,8 miliar. “Anggaran renovasi dua pasar ini dari APBN,” ungkapnya.
Hermawan menegaskan, KPP sengaja memprioritaskan renovasi empat pasar tradisional tersebut. Pertimbangannya empat pasar tersebut ramai pedagang. Di sisi lain, kondisi bangunannya sudah memprihatinkan. “Kami juga masih punya PR besar merelokasi pasar Ngangkruk,” tambahnya.Upaya relokasi dipertimbangkan karena banyaknya para pedagang di pasar tersebut mengganggu arus lalu lintas. (zam/din/ong)