GUNAWAN/RADAR JOGJA
TERHENTI: Plt Kades Nglanggeran, Sumirin menunjukkan lokasi longsoran proyek pembangunan rumah gepeng di Dogo, Nglanggeran, Patuk Sabtu (24/1).
PATUK – Pengerjaan proyek pembangunan perumahan gratis bagi gelandangan dan pengemis (gepeng) se-DIJ di Gunungkidul terhenti. Sejak dimulai aktifitas buka lahan akhir tahun lalu, sampai sekarang sama sekali tidak ada aktivitas.Plt Kades Nglanggeran Surimin mengata-kan, rencana pembangunan proyek sudah tersosialsiasi sejak Oktober 2014. Kemudian pada akhir tahun langsung ada aktivitas membuka lahan dengan menggunakan alat berat. “Ini merupakan tanah SG (Sultan Ground). Lokasi rumah gepeng dan kawasan pendukung ada sekitar lima hektare,” kata Surimin akhir pekan lalu.
Pembangunan rumah tinggal bagi warga kurang beruntung mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar. Pemerintah juga memberikan kompensasi bagi penduduk setempat. “Kami mendapatkan program KUBE (kelompok usaha bersama),” ujarnya.
Menurut dia, dengan adanya rumah gepeng maka secara otomatis berpengaruh terhadap perekonomian penduduk, terutama terkait dengan infrastruktur jalan dan jaringan listrik. Dengan begitu aktifitas pertanian masyarakat semakin mudah, karena jalan menuju ladang dibuka. “Nanti, kalau rumah gepeng selesai saya yakin akan banyak rumah penduduk di sekitar lokasi,” ucapnya.
Surimin menjelaskan, berkenaan dengan program KUBE untuk penduduk lokal sesuai rencana, program pemberdayaan bagi masyarakat sangat mengena sesuai dengan kondisi di lapangan. “Melalui KUBE, nanti ada bantuan ternak sapi, ternak ayam, itik dan masih banyak lagi,” ungkapnya.
Untuk itu dia berharap kepada pemerintah agar proyek pembangunan rumah hunian gepeng segera diteruskan. Sebab, sejak lahan dibuka hingga sekarang belum ada tindaklanjut. Pihaknya khawatir, tingginya intensitas hujan bisa merusak lahan berbentuk terasiring. “Sekarang mulai longsor. Kami berharap segara dibangun tanggul supaya kalau hujan tidak terjadi longsor susulan,” pintanya.
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) DIJ Untung Sukaryadi memastikan, proyek pembangunan jalan terus. Anggaran pengerjaan,kata dia, terbagai dalam beberapa tahapan. Itu pun tidak melalui dinsos. Untuk tri wulan pertama adalah administrasi dan lahan. “Tri wulan ke dua perkiraan dikerjakan pada bulan April,” terangnya.
Disinggung mengenai longsor di lokasi, pihaknya mengaku tidak bisa berbuat banyak karena faktor alam. Untung hanya mengatakan bahwa posisi rumah tinggal gepeng terasiring bakal dihuni sekitar 70 kepala keluarga (KK). “Proyek pembangunan ini tidak digarap rekanan, namun dikerjakan langsung calon penghuni didampingi tenaga ahli,” bebernya.
Setelah bangunan beres, kemudian ditunjang dengan sarana pendukung seperti, program kegiatan untuk merubah hidup lebih baik. Program yang dimaksud adalah KUBE. Penghuni tidak hanya bangun tidur, namun ada aktifitas menunjang perekonomian. “Jadi, mereka sudah berjuang sejak awal,” terangnya.
Lalu mengenai anggaran pembangunan rumah gepeng, Untung menjelaskan masing-masing KK mendapat kucuran Rp 30 juta. Selanjutnya, kompensasi bagi penduduk lokal, dia sudah meminta kepada pemerintah desa agar membuat proposal. “Dibuat kelompok, agar kompensasi bisa lebih mengena,” terangnya. (gun/din/ong)