Tugas akhir akademik tidak hanya berkutat pada sebuah nilai. Ini yang ditunjukkan Eka Nusa Pertiwi dengan tugas akhir keaktorannya. Dengan mantab dia mengangkat tulisan karya Wishing Chong yang berjudul Heart of Almond Jelly. (DWI AGUS, Bantul)
Tanggal 22 dan 23 Januari lalu menjadi malam istimewa bagi seorang Eka Nusa Pertiwi. Pasalnya, dua malam itu menjadi penentuan ia akan ujian akhir keaktoran. Persiapan tentu sudah dilakukan jauh-jauh hari. Bahkan naskah ini telah dipilih sejak tahun 2010 lalu.
Meski begitu, Eka, sapaan akrabnya, tidak menampik masih ada perasaan nervous. Ini karena menurutnya naskah ini rumit meski terlihat sederhana. Kendala terbesarnya adalah bagaimana menghidupkan karakter dalam naskah menjadi sebuah pementasan.
“Saya memang memiliki obsesi yang kuat dalam naskah ini. Sudah dari tahun 2010 ingin membawakan, tapi belum terealisasi. Butuh pendalaman karakter yang kuat untuk memerankannya,” kata Mahasiswi Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan (FSP), ISI Jogjakarta, ini.
Dalam kesempatan ini Eka berperan sebagai Sayoko. Seorang wanita tua berumur 40 tahun berkebangsaan Jepang. Ia tidak sendiri, namun juga turut mengajak Kedung Darma Romansha yang berperan sebagai Tatshuro.
Untuk beradu akting dengan Kedung, tidak menemui halangan. Selain sering berlatih, keduanya merupakan pasangan suami istri di kehidupan nyata. Sehingga, tidak menemui kendala ketika harus berperan menjadi pasangan dalam dunia panggung.
Untuk naskah kali ini, Eka memilih gedung teater arena FSP ISI Jogjakarta. Tata panggung pun dibuat menyerupai sebuah ruangan kecil. Dalam ruangan sederhana ini penuh dengan kardus dan benda-benda lainnya.
“Jadi naskah ini bercerita tentang perpisahan Sayoko dan Tatshuro pada malam Natal. Setingnya memang ruangan sederhana dari rumah Sayoko. Mereka berdua telah hidup bersama selama 7 tahun,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 1 November 1990, ini.
Di sinilah letak kerumitan dari naskah yang dia bawakan. Jika dilihat memang sangatlah sederhana. Namun dalam kesederhanaan ini, semuanya harus terlihat natural. Termasuk bagaimana Eka dan Kedung berperan seperti dalam kehidupan nyata.
Wajar saja untuk mempersiapkan pementasan ini, Eka memerlukan waktu lama. Dalam pertunjukan ini juga tidak ada musik pendamping. Tujuannya untuk menghidupkan suasana dan fokus pada dialog naskah.
“Ini menjadi tantangan karena memang benar-benar kesannya kosong. Seperti percakapan keseharian di rumah, tidak ada musik pengiring atau suara pendukung lainnya,” kata Eka.
Eka menjabarkan naskah ini memiliki fokus pada permasalahan keluarga. Naskah realis ini bercerita bagaimana kehidupan pasangan Sayoko dan Tatshuro. Latar belakangnya tentang perpisahan keduanya saat malam Natal.
Perpisahan ini menghadirkan ragam intrik-intrik kecil di antara keduanya. Dalam beberapa adegan pun muncul emosi-emosi kecil. Adegan ini mirip dengan pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga.
“Aktor berada dalam satu waktu dan tidak bisa pindah setting. Suasana dipindahkan dengan emosi perasaan sendiri. Emosi yang kecil-kecil inilah yang menuntut power besar. Dialog yang muter-muter membutuhkan intensitas dan kedetailan,” ungkap Eka.
Ketertarikan Eka menggarap naskah ini berawal dari Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) tahun 2010. Saat itu ia menyaksikan bagaimana seorang pelaku teater, Naomi Srikandi, membacakan naskah ini. Dari sini lah muncul ketertarikan untuk menggarap lebih dalam.
Namun dalam pementasan hari pertama (22/1) Eka mengaku ada sisi yang kurang. Terutama dalam penguasaan power keaktoran. Sehingga jika disimak akan terasa menjenuhkan. Terlebih pementasan ini memang fokus pada dialog yang dilontarkan.
“Saat di dramatic reading enak, tapi ketika dibawakan ke pertunjukan malah menjenuhkan. Dibutuhkan power kuat untuk membangun suasana, menghadirkan sisi realistik tanpa membuat penonton jenuh. Menghidupkan tokoh, sehingga penonton seolah-olah sedang mengintip tetangganya berantem,” jelas Eka.
Seniman Teater Garasi Gunawan Maryanto pun turut hadir dalam pementasan ini. Menurutnya, naskah ini kuat secara dramatik. Sehingga dari segi naskah sudah membantu untuk keaktoran. Terutama bagaimana aktor menghidupkan naskah ini.
Dikatakan, untuk memainkan naskah ini perlu kedisiplinan tinggi. Saat ini semua sudah terjalin, maka aktor tinggal mengikuti tahapan demi tahapan. Memahami bentuk dan detail dalam naskah karya Wishing Chong ini.
“Memang kemudian ruang bagi aktor adalah memunculkan karakter Sayoko dan Tatshuro yang kuat. Barangkali memang cukup berat bagi Eka dan Kedung, karena usia mereka yang muda. Namun, bagi saya mereka cukup berhasil membawakan naskah panjang realis yang dimainkan dua orang,” jelas Gunawan.
Gunawan juga memberi penilaian kepada Eka dan Kedung. Untuk menjaga agar penonton tidak jenuh terletak pada kematangan aktor. Terutama dalam mengolah elemen yang dimiliki untuk menghidupkan naskah. Selain itu, kemampuan aktor harus mampu bermain secara wajar karena itu ukuran naskah realis.
“Aktor juga harus akrab dengan kata dan paham sastra dengan bagus, sehingga dapat menghidupkan kata. Hanya saja di pentas ini ada beberapa bagian yang masih dipaksakan, meskipun begitu cerita sampai ke penonton,” tandasnya. (*/laz)