MUNGKID – Aksi kekerasan oknum anggota TNI-AD dialami Sriyanto, 27, warga Dusun Kambengan RT 02 RW 02, Donorojo, Secang. Tidak diketahui pasti penyebab oknum TNI tersebut menyerang Sriyanto, yang sehari-hari bekerja di karoseri tersebut.
Akibat kekerasan tersebut, korban mengalami luka tembak dan luka bacok di beberapa bagian tubuhnya.
Peristiwa menegangkan bermula saat korban tengah menggendong buah hatinya Yoga Pangestu yang berumur 4,5 tahun di depan rumahnya, sekitar pukul 19.00, kemarin (26/1). Ian sapaanya, melihat dua orang berboncengan dengan motor matic melintas di depan rumahnya. Dua kali, motor matic itu melintas.
Tanpa banyak cakap, pengendara motor itu berhenti di depan rumah. Sedangkan temannya mengeluarkan pistol. Ia menembakan pistol ke arah Ian dan anaknya.
“Pengendara motor yang belakang turun dari sepeda dan langsung menembak saya pada jarak sekitar tiga meter,” ungkap Ian, kemarin (27/1).
Beruntung, peluru gotri yang diduga dari senapan angin itu hanya menyerempet bagian atas kepalanya. Korban yang masih sadar meletakan anaknya yang menangis dan mengejar pelaku hingga jarak 100 meter. Keduanya saling berebut pistol yang digunakan menembak.
Saat keduanya berguling di tanah, pengendara motor yang satunya tiba-tiba mengayunkan pedang dari belakang tubuh Ian. Korban dibacok beberapa kali di bagian kepala dan tubuhnya.
Meski begitu, korban tidak tumbang dan terus berebut pistol dari oknum TNI itu. Saat itu, suara tembakan pistol terdengar hingga empat kali meletus. Warga lain yang mengetahui peristiwa tersebut sempat dicegah Ian agar jangan mendekat karena pelaku menggunakan pistol.
“Awas jangan mendekat, dia (pelaku) membawa pistol,” ucap Ian saat itu.
Warga yang berdatangan semakin banyak. Akhirnya, pertikaian itu bisa dipisah. Oknum TNI dan rekannya yang belum diketahui identitasnya tersebut digelandang ke Mapolsek Secang. Kedua pelaku sempat dihajar massa, sebelum dibawa ke kepolisian.
“Yang saya ketahui, anggota TNI Armed 11 itu bernama Andi dan yang satu Kakaknya, Feri , arga Tegalrejo. Saya gak pernah ada masalah, sebelumnya saya juga ga kenal orangnya. Baru kali pertama ini ketemu,” kata Ian.
Akibat peristiwa tersebut, Ian mengalami luka jahitan sebanyak 34. Yakni, 10 jahitan masing-masing pundak tangan kanan dan kiri. Sementara 14 jahitanya lainya di kepala. Korban juga dibawa ke RSJ dr Soerodjo Kota Magelang. Selasa siang (27/1), Ian memutuskan pulang.
Kapolres Magelang AKBP Rifki menyatakan, kasus ini bukan merupakan penembakan. Namun, penganiayaan dengan senjata tajam jenis samurai. Sementara, senjata air soft gun berisi peluru gotri hanya dipakai pelaku untuk menakut-nakuti korban.
“Kami hanya menerima penyerahan dari warga dan selanjutnya, karena melibatkan oknum anggota TNI, kami serahkan proses selanjutnya pada polisi militer (PM). Berikut barang bukti,” katanya.
Ia mengaku sempat kesulitan mencari identitas pelaku. Setelah diinterogasi, satu pelaku mengaku oknum anggota TNI. Kapolres tidak memberikan identitas pelaku secara lengkap.
Menanggapi peristiwa itu, keluarga korban menyatakan akan membawa kasus ini ke proses hukum. Ahmad Fatoni, 35, kakak dari korban melaporkan peristiwa tersebut ke Detasemen Polisi Militer agar mendapatkan keadilan. Pelaku harus dihukum sesuai aturan yang berlaku.
“Merupakan upaya pembunuhan berencana. Aparat TNI ini sungguh meresahkan masyarakat,” keluhnya.
Ia berharap, penegak hukum bisa memproses peristiwa hukum ini dengan profesional. Keluarga juga menuntut secara ekonomi, karena korban merupakan tulang punggung keluarga. Pasca-kekerasan, korban tidak bisa lagi bekerja untuk menafkahi dua anaknya dan istrinya Dwi Lestari. Selain Yoga, satu lagi anaknya Frian Feri Pangestu yang tengah berumur beberapa bulan.
“Kami mohon panglima TNI menindak tegas anggotanya yang tidak sesuai aturan. Meski ini di kalangan bawah, aparat tetap harus profesional,” tegasnya.
Kepala Komandan Sub Detasemen Polisi Militer IV/2-1 Letnan Satu Anastasius belum memberikan sikap atas peristiwa tersebut. Saat didatangi awak media di kantornya, ia enggan memberikan pernyataan.(ady/hes/ong)