MAGELANG – Pemilik Toko Mas Gatotkoco Herry Chandra dan Sri Sulistiowati harus bersabar. Karena, Majelis Hakim PN Magelang belum mengambil putusan. Ketua Majelis Hakim H. Irwan Effendi SH MH yang menyidangkan gugatannya pada Pemkot Magelang terkait penempatan kios Pasar Rejowinangun Nomor 1 yang menghadap Jalan Mataram berdalih, ia belum mempelajari berkasnya secara detail.
“Berkasnya baru dipindah ke laptop. Saya belum membaca detail. Saat ini belum ada putusan,” kata Irwan Effendi didampingi Hakim Anggota Delta Tamtama SH MH dan Ernila Widikartikawati SH kemarin (27/1).
Dalam persidangan hari Senin (27/1), hadir juga kuasa hukum Slamet Santoso, selaku pemilik Toko Mas Mustika, yang oleh Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) diberi hak menempati kios Nomor 1 Jalan Mataram. Termasuk kuasa hukum investor pembangunan kembali Pasar Rejowinangun, PT Putra Wahid Pratama dan PT Kuntjup Salatiga (JO), yang menjadi tergugat ketiga.
“Sidang kami tunda hingga Selasa depan (3/2) untuk mendengarkan putusan hakim,” tegas Hakim Irwan.
Ditemui usai sidang, Herry Chandra mengaku pesimistis dengan gugatan tersebut. Padahal, munculnya gugatan kedua ini tidak lepas dari putusan Niet Ontvankelijk verklaard (NO) dari Majelis Hakim PN Magelang sebelumnya yang diketuai Retno Purwandari Yulistyowati SH. Yakni, dalam gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) yang diduga dilakukan Pemkot Magelang dalam penempatan pedagang di kios nomor 1, pada 22 Mei 2014 lalu.
Retno yang didampingi didampingi Hakim Anggota Delta Tamtama SH MH dan Saut Erwin HA Munthe SH MH menilai, subjek gugatan Herry Chandra dan Sri Sulistyowati masih kurang. Karena, hanya Pemkot Magelang atau Dinas Pengelolaan Pasar yang diajukan. Saat ini, proses penjualan kios nomor 1 pada pedagang melibatkan investor pembangun Pasar Rejowinangun. Yaitu, PT Putra Wahid Pratama. Juga adanya Pemilik Toko Mas Mustika, Slamet Santoso sebagai pihak yang oleh Pemkot Magelang diberi hak menempati kios nomor 1. Dalam fakta persidangan, terungkap telah melakukan transaksi jual beli dengan investor.
“Dulu, kami optimistis memasukkan gugatan kedua ini, karena menilai gugatan pertama bakal menang dan hanya butuh tambahan subjek gugatan. Melihat persidangan yang berjalan, termasuk pemeriksaan saksi-saksi, kami pesimistis bakal menang. Makanya, kami ada wacana melapor ke KY (Komisi Yudisial) untuk mencermati putusan hakim PN Magelang nanti,” imbuhnya.
Rasa pesimistis Herry dipicu keterangan saksi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Masak saksi pihak Pemkot Magelang yang bernama Sumini menyatakan, saya tidak pernah menempati kios di pasar penampungan. Padahal setiap hari saya ada di sana dan hampir semua pedagang tahu. Ini kan jelas sebuah kebohongan besar. Kalau kemudian majelis hakim dengan mudahnya percaya,” keluhnya.
Dalam gugatan kedua, Herry Chandra dan saudaranya menggunakan 10 pengacara dari Kantor Hukum HKR Law Firm Jakarta. Di antaranya, Pieter Sahanaya SH, Dian Agusdiana SH, dan lainnya.
“Kami berharap majelis hakim mengabulkan semua gugatan kami. Di antaranya, soal pemberian kios Blok A pada tergugat adalah perbuatan melawan hukum,” kata Dian.(dem/hes)