SLEMAN- Janji tinggallah janji. Itulah yang terjadi pada anggota parlemen yang sekaligus wakil rakyat Sleman. Kunjungan kerja (kunker) secara bedhol desa agaknya sudah menjadi tradisi yang sulit dihindarkan. Dianulirnya pemotongan anggaran kunker sebesar 50 persen oleh Pemprov DIJ agaknya menjadi angin segar bagi anggota dewan. Informasi yang beredar, setelah dilakukan lobi internal, Pemprov DIJ hanya memotong 30 persen saja.
Bahkan, bimbingan teknis dan kunjungan alat kelengkapan (badan dan komisi) yang semula ditolak, tetap bisa dilaksanakan. Dengan begitu, dewan yang seharusnya hanya punya jatah sekali kunker dalam sebulan, kini setidaknya bisa 2-3 kali ke luar daerah.Kabag Persidangan Sekretariat DPRD Heru Joko Indarto men-jelaskan, kunjungan dewan selama setahun telah terencana. Selama 2015 dijadwalkan 19 kegiatan ke luar daerah. “Itu usulan perencanaan setelah dilakukan efisiensi anggaran,” jelasnya.
Adapun, ke-19 kegiatan tersebut dibagi untuk kungker badan, komisi, panitia khusus, dan bimtek. Seperti dilakukan sebagian besar anggota DPRD yang berkunjung ke Bali pada Senin- Jumat (26-30 Januari). Padahal, seminggu sebelumnya, dengan dibungkus agenda kunker badan-badan, semua dewan melancong ke Jawa Timur. Kemarin (28/1), Sofyan Setyo Darmawan merupakan satu-satunya dewan yang tersisa karena menemui tamu dari Magetan, Jawa Timur.
Memang ada irisan waktu dimana sebagian anggota dewan standby di kantor. Sementara lainnya berangkat ke luar daerah. Namun, tetap saja lebih banyak waktu kosongnya dalam sepekan. Misalnya kunker pekan ini. Komisi A dan B berangkat Senin-Kamis (26-29), sedangkan C dan D Selasa-Jumat (27-30). Artinya, pada Selasa-Kamis (27-29) tidak satu pun wakil rakyat nongkrong di kantor dewan. Hal itu diperparah dengan “kebiasaan” dewan yang mengolor waktu. Meskipun Kamis sudah kembali ke Sleman, tetapi Jumat tetap tidak ngantor. Akibatnya, kons-tituen yang hadir di kantor dewan harus pulang dengan gigit jari karena tak bisa menyampaikan uneg-unegnya.
Terkait hal itu, Sofyan me-negaskan, kunker dewan bukan tanpa alasan. Salah satunya Komisi C, dan Sofyan menjadi pengampunya. Politikus PKS itu mengatakan, Komisi D ber-kunjung ke Dinas Pendidikan dan SMAN 4 Denpasar untuk menimba ilmu tentang sistem pendidikan di institusi tersebut. Pemilihan SMAN 4 Denpasar sebagai objek studi banding dilandasi prestasi yang diraih sekolah tersebut sebagai peringkat pertama nasional.
Sofyan me-ngatakan, dari kunjungan tersebut diharapkan diperoleh outcome, yang bisa diterapkan di Sleman. Khususnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan daerah. “Diserap ilmunya dan diterapkan di sini,” katanya.
Sementara itu, Anggota Komisi B Yani Faturrachman menyatakan, komisinya berkunjung ke Dinas Pengelolaan Aset Daerah Kabu-paten Badung untuk sharing tentang tata kelola asset. Salah satunya upaya mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Badung merupakan daerah dengan PAD tertinggi, mencapai Rp 2,5 triliun per tahun, yang disokong dari tiga sektor utama, yakni restoran, hotel, dan pari-wisata. Menurut Yani, hal itu selaras dengan upaya Pemkab Sleman yang tengah mendorong optimalisasi pendapatan dari tiga sektor tersebut. Kabupaten Sleman memiliki potensi pariwisata yang bisa dikembangkan secara maksimal. (yog/din/ong)