JOGJA – Pelarian Wakidjo BS, tersangka kasus korupsi kas Desa Tayuban, Panjatan, Kulon-progo, berakhir. Pria berusia 59 tahun ini ditangkap Kejati DIJ bersama tim Adyaksa Monitoring Center (AMC) di Jakarta, Selasa malam (27/1). Mantan benda-hara Desa Tayuban sekaligus kepala bagian pendapatan De-sa Tayuban ini dibekuk kejaksaan di rumah kerabatnya.”Tersangka W ditetapkan DPO oleh Kejari Wates sejak 26 Juni 2012. Jadi sudah 2,5 tahun ter-sangka melarikan diri untuk menghindari proses hukum,” kata Asisten Intelijen Kejati DIJ Joko Purwanto SH kemarin (28/1).
Joko menerangkan, Wakidjo merupakan tersangka kasus korupsi kas Desa Tayuban seni-lai Rp 92 juta. Perkara itu di-tangani Kejari Wates pada 2012. Saat proses penyidikan, ter-sangka Wakidjo melarikan diri. Pelarian dilakukan usai bertemu kepala desa. Sang atasan itu memberikan dua dua pilihan yaitu lari atau masuk penjara. Mendengar saran itu, Wakidjo memilih kabur.
Selama pelarian, Wakidjo hidupnya selalu berpindah-pindah. Menurut pengakuan tersangka, ia pernah tinggal di Jawa Barat, Lampung, dan ter-akhir di Jakarta. Selama pela-rian itu Wakidjo bekerja sera-butan untuk mencukupi kebu-tuhannya. Saat diamankan di gedung Kejati DIJ, Wakidjo ter-lihat pasrah dengan penampi-lannya. Maklum, selama pela-rian ia tidak dapat mencukupi kebutuhan, termasuk pakaian.Keberadaan Wakidjo atas informasi masyarakat.
Setelah mendapatkan informasi itu, kejaksaan langsung mengajak anak dan cucu Wakidjo untuk bersama-sama menangkap sang buronan itu. Setelah ter-tangkap, tersangka langsung dibawa ke Jogja. “Tersangka akan langsung kami serahkan ke Kejari Wates untuk menjalani proses hukum. Sebab, perkara korupsi tersang-ka belum sampai masuk ke pengadilan,” jelas Joko.
Tersangka Wakidjo mengata-kan, dirinya menggunakan uang kas désa untuk kepeluan biaya pengobatan sang istri. Ia mela-porkan uang kas sebesar Rp 144 juta. Setelah kepala desa mela-kukan pengecekan, ternyata saldo berkurang Rp 52 juta. “Uangnya untuk berobat istri,” kata Wakidjo. (mar/laz/ong)