illustrasi
SLEMAN – Saat ini, pengujian kandungan gizi atau bahan lain pada makanan bisa dilakukan di Laboratorium Pengujian Obat dan Makanan (LPOM) Universitas Islam Indonesia (UII). Itu menyusul diraihnya akreditasi ISO 17025 dari Komite Akredi-tasi Nasional (KAN), dengan nomor serti-fikat Laboratorium Penguji LP-848-IDN.
Kepala LPOM M Hatta Prabowo meng-klaim, UII telah menjadi pelopor univer-sitas swasta yang telah memiliki LPOM terakreditasi KAN di wilayah Jogjakarta. “Itu menunjukkan KAN percaya terhadap kualitas hasil pengujian di LPOM,” ujarnya kemarin (28/1).
Hatta mengatakan, pengujian obat dan makanan di LPOM telah memenuhi sistem pengendalian dan mutu jaminan. Hasil pen-gujian bisa dipertanggungjawabkan di level nasional maupun internasional. LPOM UII didukung peralatan laboratorium modern dan terkalibrasi secara berkala. “Sumber daya manusia di balik laboratorium kami juga sangat mumpuni,” katanya optimistis.
Menurut Hatta, akreditasi ISO 17025 menjadi modal untuk menjalin relasi kerja sama lebih luas dengan stakeholders yang membutuhkan analisis pengujian obat dan makanan. Misalnya, birokrat pemerintahan, industri, pengusaha, pela-ku usaha kecil mikro. Bahkan masyarakat bisa memanfaatkan LPOM.Langkah itu sekaligus menjadi kontri-busi UII untuk turut membantu proses monitoring dan penjaminan mutu produk yang beredar di pasaran. “LPOM terbuka untuk semua pihak,” tandasnya.
LPOM melayani pengujian kandungan makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetik. Untuk memperoleh pengakuan dari lembaga yang menaunginya, tentu bukan dengan cara mudah dan instan. Hatta mengatakan, LPOM harus menung-gu beberapa tahun sejak didirikan pada 2011 untuk memperoleh akreditasi. Prestasi itu tidak lepas dari program akselerasi. Proses akselerasi pengembangan dan pembangu-nan laboratorium baru yang dimulai sejak tahun 2012, dengan diraihnya hibah labo-ratorium science dari DIKTI. (yog/din/ong)