FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
SEPAKAT: Pimpinan LSM di Kota Magelang menolak pembagian kompensasi satu persen dari nilai proyek sebagai apresiasi atas kerja sama yang dijalankan oleh LSM.
MAGELANG – Dugaan banyaknya pengkondisian dalam proyek yang dilaksanakan Pemkot Magelang mulai terkuak. Kali ini, sejumlah LSM di kota sejuta bunga ini membeber ma-salah pembagian kompensasi sebagai bentuk pengkondisian proyek-proyek. Mereka mengaku bakal diberi kom-pensasi sebesar satu persen.
Mereka juga sepakat akan menolaknya.”Iya benar, ada rumor soal LSM akan diberi satu persen untuk mengaman-kan proyek-proyek (APBD) 2014. Tapi kami tolak,” kata Direktur LSM Derap PKM Singgih Priyono di RM Bu Tatik Magelang, kemarin (28/1).
Hadir dalam pertemuan tersebut pimpinan LSM di Kota Magelang. Di antaranya, Direktur LSM Lembaga Kajian Otonomi Daerah (LKOD) Magelang M Abdurrohman, Pimpinan LSM Masyarakat Kota (Maskot) Kun Wira Wiyasa dan Suharto, Pimpinan LSM Garda Lima Larto, Pimpinan LSM Garuda Bambang Tedjo dan Pipin, serta lainnya.”Nilai seluruh pengadaan barang dan jasa di Kota Magelang pada tahun 2014 sekitar 200 juta. Muncul rumor, LSM akan menerima pembagian kom pensasi sebesar satu persen dari nilai proyek sebagai apresiasi atas kerja sama yang telah dijalankan. Benar ada atau tidak ada, kami akan menolaknya. Kalau ada yang menerima kompensasi itu, ber arti ada orang yang mengaku-mengaku LSM,” tegas Singgih.
Abdurrohman menambahkan, selama 2014 Pemkot Magelang sudah me-lakukan proyek pembangunan di sejumlah tempat. Tapi, ada beberapa yang gagal lelang dan proyek ter tunda. Seperti Pasar Stres, BLK, dan Sidatan Trio.”Kami juga prihatin dengan tidak meratanya pembagian proyek. Bahkan, ada indikasi lelang dikondisikan bagi salah satu LSM atau beberapa asosiasi. Padahal, ada belasan asosiasi yang mengajukan penawaran,” ungkapnya.
Menurut Abdurrahman, indikasi kuat pengondisian terlihat dari minimnya peserta lelang dalam satu paket proyek. Yakni, hanya tiga pe-serta. Para peserta juga melakukan penawaran yang tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.”Memang ada penyesuaian harga. Tetapi angka yang ditawarkan ter-lampau jauh. Artinya, ada pengon disian agar pekerjaan proyek dimonopoli satu lembaga,” katanya.
Kun Wirawiyasa prihatin atas kon-disi pembangunan secara umum di Kota Magelang. Mereka menilai, ada kesalahan dalam perencanaan, sehingga hasil kurang maksimal.”Selain perencanaan yang tidak matang, juga waktunya pendek. Proyek dilelang pada akhir tahun anggaran. Sehingga rekanan harus berpacu dengan waktu. Biasanya pada akhir tahun ang-garan, banyak turun hujan. Sehingga pekerjaan fisik akhirnya tidak maksimal pengerjaannya, karena terburu-buru dan faktir cuaca,” paparnya.
Ditegaskan , mereka berkumpul untuk saling mempererat tali silaturahmi dan persahabatan antar LSM. Pertemuan itu sekaligus membahas program masing-masing LSM dan evaluasi kinerja pembangunan di Kota Magelang.”Proses pembangunan di Kota Magelang belum merata dan bisa di-rasakan semua masyarakat. Termasuk belum menjunjung tinggi prinsip menjaga kualitas dan pemberdayaan masyarakat lokal. Kami tidak setuju, jika tenaga kerja proyek dari luar Magelang,” kritik Larto.Bambang Tedjo menyatakan, per-kumpulan LSM ini sepakat mengawal proses pembangunan tahun 2015. Pihaknya juga siap memberikan kritik dan saran membangun untuk hasil terbaik. (dem/hes/ong)