MUNGKID – Aktivitas penam-bang ilegal ditanggapi Kepolisian Resort (Polres) Magelang. Korps Bayangkara ini berjanji me nindak tegas bila ada anggota kepolisian yang terlibat dalam penam-bangan.”Saya tidak segan-segan me-nindak, jika ada anggota yang terlibat. Saya tidak akan mem-bela,” janji Kapolres Magelang AKBP Rifky kemarin (29/1).
Menyikapi hal tersebut, kapol-res membentuk tim khusus untuk membersihkan pelaku penam-bangan ilegal di sejumlah sungai yang berhulu di Merapi. Kapolres juga melibatkan satuan Propam. Ini untuk melakukan pengawasan terhadap anggota polres, bila terlibat dalam pe-nambangan tersebut.”Saya akan memberikan atensi khusus terhadap kasus pe-nambangan ini. Seperti miras dan judi yang sudah berjalan,” tegasnya.
Selain menggandeng Propam, dalam membentuk tim khusus tersebut, kapolres juga meng-gandeng beberapa satuan lain. Penanganan penambang liar di-handle berbagai satuan yang langsung di bawah komandonya. “Reskrim, Intel, dan Propam, semua dilibatkan,” tegasnya.
Ditambahkan, polisi mengan-cam pelaku penambang ilegal dengan Pasal 158 UU RI Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertam-bangan dan Mineral Batubara. Di mana dalam pasal tersebut menyebut, setiap orang yang melakukan usaha penambangan tanpa izin usaha Pertambangan (IUP), izin pertambangan rakyat (IPR), atau izin usaha per-tambangan khusus (IUPK), maka terancam pidana penjara maksimal 10 tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.
Sejauh ini, Polres Magelang baru menangkap sebuah alat berat yang tengah beroperasi di bantaran Kali Senowo Dusun Kajangkoso, Mangunsoko, Dukun. Polisi juga menetapkan Abas, 50, warga Desa Dukun, Dukun sebagai tersangka. Menurut Rifky, kasus ini masih proses penyelidikan lebih lanjut. Polisi juga telah memeriksa tiga saksi dan masih dalam proses penyusunan BAP. Ia menjamin proses segera selesai dan se-cepatnya dilimpahkan ke ke-jaksaan.”Saya yakin akan cepat selesai bila saat pengungkapan ber hasil tangkap tangan. Jadi sudah cukup alat buktinya,” katanya.
Saat ini, barang bukti berupa alat berat diamankan di Polsek Muntilan. Sedangkan truk dan pasir diamankan di Mapolres. Tidak menutup kemungkinan, penambang alat berat lainnya akan diproses.”Mengimbau pada masyarakat untuk melaporkan kepada kami, jika ada alat berat yang masih beroperasi,” pintanya.
PPK Gunung Merapi BBWSSO Dwi Purwantoro merespons positif langkah kepolisian me-nindak penambang ilegal. Penindakan diperlukan, karena telah merusak lingkungan juga mengancam bangunan pe ngaman sungai.Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Slenggrong Merapi Punokawan Fatkhul Mujib me-ngungkapkan, meski menjadi sasaran operasi, beberapa wilayah di Merapi tetap ada penam bangan ilegal. Di wilayah Kecamatan Srumbung, kegiatan penam-bangan dengan alat berat masih normal dan berjalan seperti biasa. Ada beberapa lokasi yang saat ini melakukan kegiatan pe-nambangan. Yaitu di Kemiren dan Kaliurang, Kecamatan Srum-bung.”Ada sekitar tujuh alat berat yang menyebar. Untuk lokasi Bego Pendem ada dua alat berat, lokasi Watu Gede dua alat berat, lokasi Kelapa Mas satu alat berat, lokasi Elpenta satu alat berat di dusun Cabe Srumbung ada dua alat berat,” katanya.
Menurutnya, penambang manual sebenarnya sudah mengajukan izin tambang. Te-tapi hingga kini prosesnya belum selesai dan izin belum turun. Sehingga pihaknya tidak dapat berbuat banyak.”Kami masih menunggu pe-nerbitan izin. Jika pengusaha masih terus berusaha meng gusur lokasi tambang manual, kami tidak akan tinggal diam dan te-tap mempertahankan lokasi wilayah Bego Pendem dengan segala cara. Bagaimanapun, lo-kasi tersebut adalah ladang tempat bekerja teman-teman,” katanya. (ady/hes/ong)