ZAKI MUBAROQ/RADAR JOGJA
RUMAH SEKALIGUS STUDIO: Muhammad Jamhari di antara topeng karyanya, kemarin (29/1).

Tak Minat ke Kota, Tak Tertarik Online

Kecintaan Muhammad Jamhari terhadap kampung Bebekan, Pedukuhan Kadekrowo, Gilangharjo, Pandak, Bantul tak terbantahkan. Meski berbagai jenis topeng hasil kreasinya diminati banyak wisatawan luar negeri, dia tetap enggan mendirikan show room di luar kampung halamannya
ZAKKI MUBAROK,Bantul
KESAN sederhana dan ramah, tampak pada sosok Jamhari, panggilan akrab Mu-hammad Jamhari. Kaos oblong warna gelap dipadu celana model tiga perempat, hampir tiap hari melekat di tubuhnya.Itu juga yang terlihat saat Jamhari mene-rima Radar Jogja di studionya Kamis (29/1). Sambutan penuh keakraban khas orang pe-desaan, tak ketinggalan terucap kepada setiap tamunya yang berkunjung ke studionya yang terletak persis di barat rumahnya itu.”Di sini lah tempatnya, kalau saya mem-buat topeng,” ucap Jamhari memulai pem-bicaraan mengenai kesibukannya.
Berbeda dengan seniman tersohor, bapak dua anak ini hanya memanfaatkan sebuah bangunan rumah kecil untuk menuangkan berbagai idenya ke dalam sebuah karya seni. Berbagai peralatan, puluhan topeng, dan patung, tampak memenuhi studio mi-lik Jamhari. Berbeda dengan berbagai pe-ralatan seni dan patung, puluhan topeng sengaja diletakkan berderet di atas rak kayu. Ada pula yang dipajang di atas dinding bangunan rumah. “Ini sekaligus menjadi toko,” kelakar Jamhari.
Jamhari sengaja memilih studionya ini sekaligus dijadikan sebagai toko. Bukan tanpa alasan, sejak kembali menekuni se-bagai pembuat topeng pada 2006, Jamhari berkeinginan kampung halamannya ramai dikunjungi wisatawan yang ingin membeli berbagai hasil karyanya. Karena itu pula, hingga sekarang pria ke-lahiran 28 Februari 1968 ini enggan men-dirikan show room di lokasi strategis di luar kampungnya
Dia juga tidak tertarik men-jual topeng-topengnya di situs online.Semua itu dipegang teguh, dengan keinginan besar meng-gaet para pembelinya untuk datang langsung di kampungnya. Sehingga ada income lain bagi warga lainnya.”Yang paling banyak berminat ke sini, wisatawan luar. Terutama dari Perancis,” kata Jamhari.
Tak hanya datang membeli, banyak juga orang mancane-gara yang datang langsung un-tuk belajar praktik membuat topeng di studionya itu. Selain wisatawan luar negeri, tak sedikit pula seniman yang memesan dan membeli topeng hasil buatannya. Termasuk di antaranya seniman kondang Didik Nini Towok.
Menurut Jam-hari, seniman tari tersebut (Didi Nini Towok) juga pernah mengajak rekan-rekannya dari India untuk melihat proses pem-buatan topeng di studio.”Mereka juga pesan,” urai je-bolan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) angkatan 1984 ini.
Sehari, Jamhari dapat mem-buat dua topeng berukuran ke-cil. Sementara untuk membuat topeng berukuran besar, mem-butuhkan waktu lama. Dalam seminggu, dia hanya dapat me-nyelesaikan dua buah topeng besar.Model topeng yang dibuatnya pun beragam. Mulai model Jogja, Solo, hingga Cirebonan. Karakternya juga bermacam-macam. Ada klono, rahwana, hanoman, penthol, donokerti, galuh, tembem, serta panji.
Topeng-topeng tersebut bia-sanya digunakan untuk pentas kesenian. Di antaranya, reog, tari, wayang, hingga pementasan cerita rakyat.”Bagi yang ingin karakter dan model lain, juga bisa. Tinggal membawa contoh atau fotonya,” tambahnya.
Meski demikian, Jamhari tak jarang membuat patung di stu-dionya, meski sekadar meny-alurkan hobi. Berulang kali, dia diminta pematung kodang se-perti Yusman dan Gunadi untuk membuat patung.Sebagai pecinta seni, Jamhari mengaku prihatin dengan nasib kesenian belakangan ini. Jogja-karta memang kaya akan jenis kesenian, namun pementasan kesenian relatif masih minim.
Dia mencontohkan kesenian reog, hanya dipentaskan ketika acara-acara besar. Itu pun dalam setahun hanya beberapa kali. “Diakui atau tidak, para pemain reog juga butuh uang,” ungkapnya.Minimnya pementasan ini, yang membuat sejumlah pemain reog di kampung Bebekan beralih profesi. Mereka lebih fokus pada pekerjaan mereka sehari-hari.”Kalau ingin kesenian hidup, masyarakat umum juga harus memulai mencintai kesenian, dan kebudayaan mereka sen-diri di banding kebudayaan asing,” tutupnya. (*/jko/ong)