GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
ANTISIPASI: Petugas Dinas Kesehatan Kota Jogja melakukan fogging di Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, Jogja, kemarin (31/1).
JOGJA – Untuk mengantisi-pasi penyebaran demam ber-darah dengue (DBD), masyara-kat biasanya mengandalkan fogging atau pengasapan
Tetapi, sebenarnya yang lebih utama adalah perubahan pe-rilaku masyarakat untuk men-jaga kebersihan lingkungan. Menurut Kepala Dinas Keseha-tan (Dinkes) Kota Jogja Fita Yulia, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) lebih efektif dibandingkan fogging.
Fita menjelaskan, me-ningkatnya kasus demam ber-darah tergantung dengan pe-rilaku masyarakat. Di antaranya dalam menjaga lingkungan. Dikatakan, dalam lingkungan yang bersih dan tidak ada ge-nangan air, nyamuk Aedes Ae-gypti tidak dapat berkembang biak. “Seperti gelas plastik atau kresek hitam yang dapat men-jadi sarang nyamuk, harus dising-kirkan,” jelasnya kemarin (31/1).
Selain itu, lanjut dia, per-kembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sudah berubah. Nyamuk penyebab demam berdarah ini tidak lagi hanya hidup di air bersih saja, tapi juga bisa di air keruh. “Kepedulian lingkungan memang harus ditingkatkan. Air sedikit saja, nyamuk bisa ber-kembang biak,” jelasnya.
Meskipun begitu, pihaknya tetap menjalankan fogging. Un-tuk pengasapan, pihaknya juga mengikuti prosedur. Baru mela-kukan fogging setelah ada lapo-ran dari masyarakat jika di sua-tu daerah ditemukan kasus deman berdarah ke Puskesmas setempat.
Sementara itu Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kota Jogja Yudiria Ame-lia menyebutkan, pada Januari 2015 ini sudah terjadi pening-katan kasus demam berdarah. Dari data Dinkes Kota Jogja hingga akhir Januari ini sudah terdapat 40 kasus DBD.
Sedang pada periode yang sama tahun lalu tercata 19 kasus. Bahkan ada satu anak SD yang meninggal, yang diduga karena demam berdarah. “Untuk kasus kematian masih kita audit, apa-kah karena penyakit penyerta atau kondisi lain,” ungkapnya.
Yudiria menambahkan kecen-derungan peningkatan kasus demam berdarah di Kota Jogja terjadi pada Januari hingga April karena kondisi cuaca mendukung perkembangbiakan nyamuk. Sedangkan kasus kematian mun-cul pada Maret hingga April. “Mayoritas memang anak-anak, usia 7 – 12 tahun,” terangnya. (pra/laz/ong)