YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
TELATEN: Pelatihan dan pendampingan untuk para perajin bambu di Balai Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman, kemarin (1/2). Pendampingan dilakukan agar hasil produksinya bersaing di pasar global.

Produk Kerajinan Sleman Siap Bersaing Hadapi MEA 2015

Sektor kerajinan usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih menjadi andalan Pemkab Sleman. Selain batik, produk berbahan juga bambu menjadi andalan. Khususnya guna menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.
YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
WAKIL Presiden Jusuf Kalla menilai pro-duk industri rumah tangga Indonesia kalah jauh bersaing dengan barang impor, khus-usnya dari Tiongkok. Namun, itu tidak berarti menjadi ancaman bagi pelaku usa-ha sektor UMKM. Sebaliknya, harus men-jadi cambuk bagi pelaku usaha untuk me-nibgkatkan kualitas produksi. Itu agar bisa memiliki daya saing di pasar internasional.
Nah, sektor industri kecil bambu yang berpusat di sebagian wilayah barat Sleman kian mendapat perhatian. Bukan hanya kualitas produk yang diutamakan. Kekaya-an desain dan fungsi juga menjadi sorotan. Demi meningkatkan kualitas produk, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) menggandeng akade-misi bidang seni budaya. Untuk mendampingi perajin dalam pela-tihan menggarap produk yang banyak dimi-nati pasar.
Di antaranya kap lampu, keranjang laundry, meja hias, dan mebel bamboo. Pe-latihan cukup dirasakan manfaatnya oleh peserta. Salah satunya, Arianto, 45, warga Tegal Ngijon, Sumberagung, Moyudan.Meskipun telah memiliki pelanggan tetap, perajin yang dulunya karyawan industri dan kini membuka usaha sendiri itu tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan.”Untuk menambah khasanah desain. Ba-nyak hal baru yang bisa diperoleh,” ungkap pria paruh baya itu sambil mengoleskan kuas cairan pelapis pada kap lampu hias bambu setengah jadi
Pendiri Kelompok Usaha Surya Prima itu sebenarnya telah mem-produksi ratusan desain produk berbahan bambu. Dia mendiri-kan usahanya sejak 21 April 2001. “Sebelumnya saya ikut orang. Lalu kolaps. Saya keluar berdiri sendiri kecil-kecilan. Sampai sekarang,” lanjutnya.
Pelanggan Arianto terbilang lumayan. Tetapi, dia hanya mem-produksi barang tiap ada pesanan. Meskipun order tak selalu rutin, Arianto mengaku cukup kewa-lahan melayani konsumen. Demi menjaga kepercayaan pe-langgan, dia kerja sama dengan perajin lain untuk menambah stok. “Spesialisasi saya buat kap lampu hias. Tetapi kalau ada pesanan lain, ya bisa saja,” ujar-nya.
Dari sekian banyak desain, ada yang membuat produk Arianto lebih istimewa. Yakni, kotak ke-masan kain batik Pekalongan. Konon, produk itu khusus untuk kenang-kenangan tamu kepre-sidenan era Preiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Dulu langganan masuk istana (presiden) zaman SBY,” ujarnya bangga.Arianto berharap ke depan karyanya bisa menarik minat Presiden Joko Widodo, sehingga pasokan ke istana tetap jalan.
Saat ini, karya Arianto tidak hanya di pasar lokal. Dia pernah ikut trading di Jakarta dan Solo. Untuk mengekspor produk ke Jepang.Ketatnya persaingan usaha membuat Arianto tidak bisa memastikan nilai omzet dan labanya. Dia hanya mematok sebanyak 500 biji kerajinan tiap sekali pengiriman. Jika tak ada pesanan ukuran besar, Arianto fokus memproduksi suvenir yang harga bijiannya berkisar seri-buan hingga ratusan ribu.Peningkatan produksi keraji-nan bambu tak lepas dari do-rongan Bupati Sleman Sri Purn-omo (SP).
Bahkan, saking seri-usnya ingin menggarap bambu, SP menerbitkan surat keputusan yang menggariskan bambu men-jadi komoditas unggulan. Tindak lanjutnya bukan sebatas hasil produksinya. Melainkan dari hulu sampai hilir. Budidaya ta-naman serumpun itu mulai digalakkan di beberapa wilayah. “Supaya perajin bambu tidak kesulitan bahan baku,” ujarnya.SP tidak ingin perajin bambu terus-terusan “mengimpor” ba-han baku produksi dari luar daerah. “Kalau bisa dicukupi sendiri, kenapa tidak,” lanjutnya optimistis.
Tak kurang 60 hektare lahan disiapkan Pemkab Sleman, khu-sus ditanami bambu aneka jenis. Di antaranya, apus, betung, tu-tul, dan kuning.Aneka jenis bambu itu diha-rapkan mampu memenuhi ke-butuhan produksi. Bukan aja dari sisi jumlah, tapi ukuran. Di Sleman, produksi bambu tak sebatas pernik-pernik kerajinan suvenir. Ada juga produk mebe-ler, yang butuh bahan bambu ukuran besar.
Seperti sentra bambu di Sendari, Tirtoadi, Mlati.Nantinya, hasil budidaya bam-bu diteruskan kepada para pe-rajin sebagai bagian kerja sama mutualisme. “Desain bambu itu dinamis nuansanya. Makanya perlu pengembangan secara kontinyu,” tutur SP.Bupati menekankan, untuk memenuhi kebutuhan pasar, satu hal yang perlu diperhatikan adalah fungsi produk. Jadi, pem-buatan karya bambu tidak se-kadar melihat pasaran. Lebih dari itu membidik kebutuhan pasar dari sisi fungsional produk. (*/din/ong)