grafis-proyek-magelang
MAGELANG – Pihak-pihak yang berkelit dengan mengeluarkan kata “tidak tahu” soal pengkon-disian proyek di Kota Magelang dan setoran satu persen ke kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) setempat semakin bertambah. Sebelumnya, DPU Kota Magelang yang mengaku tidak tahu. Kini, giliran asosiasi jasa kontruksi yang mengeluarkan kata yang sama.
Setidaknya, ini diungkapkan Ketua Gapensi Kota Magelang Nugroho Riyadi kepada koran ini.”Saya tidak tahu soal itu mas,” kata Nugroho Riyadi via sambungan telepon kemarin (1/2).Pria yang akrab disapa Yadi ini mengaku, tengah berada di Jakarta. Ia menegaskan, segera melakukan klarifikasi, begitu sampai di Kota Magelang. “Nanti, kalau pulang saya jelaskan mas,” janjinya.
Sebelumnya, sejumlah LSM di kota sejuta bunga membeberkan masalah pembagian kompensasi sebagai bentuk pengkondisian proyek yang ada. Mereka me ngaku bakal diberi kompensasi sebesar satu persen dan sepakat me-nolaknya. Kalangan LSM yang hadir, di antaranya Direktur LSM Lembaga Kajian Otonomi Daerah (LKOD) Magelang M. Abdurrohman, Direktur LSM Derap PKM Singgih Prihono, Pimpinan LSM Masyarakat Kota (Maskot) Suharto dan Kun Wira Wiyasa, Pimpinan LSM Garda Lima Sularto, Pimpinan LSM Garuda Bambang Tedjo dan Pipin, juga beberapa perwakilan LSM lainnya.”Iya benar, ada rumor soal LSM akan diberi satu persen untuk mengamankan proyek-proyek (APBD) 2014. Tapi kami sepakat untuk menolak,” tegas Singgih Prihono, di RM Bu Tatik Magelang, pecan lalu (28/1).
Kepala DPU Kota Magelang De-ddy Eko Sumarwanto juga me-ngatakan tidak tahu soal pengkon-disian dan angka setoran satu persen tersebut. Ia hanya minta koran ini menanyakan hal tersebut kepada salah satu rekanan Pemkot Magelang.yakni, salah satu Pim-pinan LSM Masyarakat Kota ( Maskot), yakmi Kun Wira Wiyasa. “Silahkan tanya Mas Kun,” pintanya.
Kun Wira Wiyasa merupakan ketua Asosiasi Kontraktor Umum Indonesia (Askumindo) BPK Kota Magelang. Saat didesak koran ini, Kun juga mengaku tidak tahu.”Untuk pekerjaan atau proyek 2014, saya tidak tahu hal tersebut. Saya tidak pernah diajak rapat. Asosiasi kami cuma kecil mas. Mungkin asosiasi-asosiasi besar yang diajak rapat dan punya komitmen itu (pengkondisian),” elaknya.
Begitu DPU dan asosiasi jasa kon-truksi mengelak, Abdurrohman dan Singgih Prihono dikonfirmasi ulang. Jawabannya, dua orang pentolan LSM di Kota Magelang tetap yakin adanya pengkondisian tersebut.”Saya dan Pak Singgih pernah membahas persoalan ini dengan DPU yang diwakili Pak Yonas (Sekretaris DPU) dan Mas Yadi dari Gapensi. Pertemuannya sih sendiri-sendiri. Tapi inti yang di-bahas sama. Kalau keduanya tidak mengakui, saya menantang mereka sumpah di bawah Alquran,” tantang Abdurrohman.
Singgih menambahkan, masalah tersebut merupakan imbas dari komitmen yang dibangun para asosiasi jasa kontruksi pada 2013 agar pembangunan di Kota Magelang berjalan kondusif. Hanya, komitmen gagal dilaksanakan saat itu karena berbagai kendala.”Lha ini, pada 2014, kayaknya komitmen tersebut coba dibangun lagi. ASkhirnya, ya mentah lagi. Yang jelas dari pada antar-LSM timbul saling curiga. Maka, kami sepakat buat pernyataan tersebut,” tegas Singgih. (dem/hes/ong)