GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
LUAR BIASA: Para pemain SMKN 1 Bantul sujud syukur usai mengalahkan SMA Santa Maria dalam babak big eight Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2015 di GOR UNY, kemarin (2/2). Pemain Stama menangis usai kekalahan itu.
JOGJA – Salah satu tim tradisional di arena bola basket antar-SMA dan sederajat DIJ, SMA San-ta Maria (Stama) harus mengakhiri petualangan mereka di babak big eight Honda DBL D.I.Jogjakarta Series 2015
Kemarin (2/2) tim besutan Y.B. Dwi Siswanto ini kandas di tangan tim yang sebelumnya sulit melangkah jauh di ajang Honda DBL, SMKN 1 Bantul.Permainan buruk di paro kedua kuarter terakhir menjadi penyebab kekalahan Stama. Sebenar-nya, pertandingan cenderung berimbang sejak awal laga. Buktinya, sampai lima menit per-tama kuarter ketiga, terjadi skor yang sama kuat 9-9.
Namun di akhir kuarter keem-pat, SMKN 1 Bantul mampu menguasai pertandingan se-cara mutlak. Angka demi angka sangat mudah dibukukan tim asuhan Yanu Iswantoro tersebut. Fakta ini berpengaruh pada psikologis Stama. Yohana Nugraheni dkk frustasi hingga membuat dua kali technical foul.Pertandingan berakhir untuk kemenangan SMKN 1 Bantul 21-10. Pencapaian ini mengan-tarkan mereka untuk mencicipi babak fantastic four pertama sepanjang sejarah keikutsertaan SMKN 1 Bantul dalam Honda DBL D.I. Jogjakarta Series.
Pelatih SMKN 1 Bantul Yanu Iswantoro mengatakan, dalam laga kemarin, strategi yang ia terapkan berjalan dengan sang-at baik. Dia menyebut salah satu pemain lawan, Yohana yang sejauh ini menjadi andalan Stama, berhasil dimatikan.”Saya sudah membaca permai-nan Stama. Kekuatan mereka terletak pada center-nya Yohana. Dia berhasil dimatikan oleh pemain-pemain saya,” ujar mantan pelatih SMAN 1 Kasihan (Tirto) ini.
Menurut Yanu, bisa mencapai fantastic four untuk pertama kalinya, adalah prestasi yang tak dapat dilupakan. Ia berharap di Honda DBL Jogjakarta Series tahun-tahun berikutnya, SMKN 1 Bantul dapat melangkah lebih jauh, yakni menjadi juara.”Untuk tahun ini, saya menar-getkan sampai final party dulu. Semoga untuk tahun-tahun be-rikutnya, kami bisa masuk jajaran elit dan meraih juara di ajang ini,” tegasnya.
Di kubu lawan, Pelatih Stama, Yebe-sapaan akrab Y.B Dwi Siswanto, mengeluhkan mental bertanding anak asuhnya. Men-urutnya, penurunan performa secara drastis pada kuarter ter-akhir seperti laga lawan SMAN 5 Jogja (Mache) kembali terulang.”Kurang siapnya mental para pemain, menjadi faktor kami tampil buruk lagi di kuarter ter-akhir. Waktu pertandingan lawan Mache di penyisihan, kami tak mencetak satu poin pun di ku-arter empat, namun menang. Sekarang kami cuma buat satu angka dan akhirnya kalah,” se-salnya. (nes/jko/ong)